Mengenal Tradisi MATIMPA BUJUNG, Bukan Sekedar Menguras Sumur

Wamanews.id 8 Oktober 2026 – Ketika musim panen tiba, masyarakat tidak hanya merayakannya dengan rasa syukur atas hasil bumi. Sebuah ritual yang telah diwariskan sejak dahulu turut menghidupkan suasana pesta panen. Suara gendang, berkumpulnya masyarakat, hingga prosesi menguras bujung menjadi bagian dari tradisi yang dikenal sebagai Mattimpa Bujung.
Tradisi ini menyimpan kisah panjang yang belum sepenuhnya diketahui. Tidak terdapat catatan pasti mengenai kapan, di mana, dan siapa yang pertama kali mencetuskan pelaksanaan Mattimpa Bujung. Namun, masyarakat memperkirakan ritual tersebut telah ada sejak masa pemerintahan Arung Indo Icu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Mengenal Tradisi Mattimpa Bujung
Mattimpa Bujung terdiri atas dua kata, yaitu mattimpa dan bujung. Dalam bahasa Indonesia, mattimpa berarti menguras, sedangkan bujung berarti sumur. Sesuai dengan namanya, ritual ini dilakukan dengan menguras sumur sebagai bagian dari rangkaian pesta panen.
Bagi masyarakat setempat, Mattimpa Bujung tidak sekadar menjadi kegiatan menguras sumur. Ritual ini juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh. Selain itu, masyarakat meyakini pelaksanaan Mattimpa Bujung sebagai ritual tolak bala dan doa agar pada tahun berikutnya mereka tetap memperoleh hasil bumi yang melimpah serta terhindar dari kekeringan.
Kepercayaan tersebut menjadi salah satu alasan masyarakat terus mempertahankan tradisi ini. Mattimpa Bujung dilaksanakan setiap tahun setelah panen raya sebagai bagian dari pesta panen yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Bagi masyarakat, keberlangsungan tradisi ini bukan hanya tentang menjalankan kebiasaan, tetapi juga menjaga warisan budaya yang memiliki makna dalam kehidupan mereka.
Menumbuhkan Kebersamaan
Selain memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur, Mattimpa Bujung juga menjadi momen yang mempertemukan masyarakat dalam suasana penuh kebersamaan. Mereka berkumpul dan saling membantu dalam pelaksanaan setiap rangkaian kegiatan. Gotong royong yang dilakukan menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga mencerminkan kepedulian dan hubungan sosial antarwarga.
Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan Mattimpa Bujung turut menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi tersebut. Kebersamaan yang tercipta membuat pesta panen menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempererat hubungan sekaligus menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menjaga Warisan dari Generasi ke Generasi
Di tengah perkembangan zaman, keberlangsungan Mattimpa Bujung menjadi bagian penting dari upaya masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Pelaksanaannya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi menjadi salah satu cara agar tradisi tersebut tetap dikenal dan tidak hilang.
Keterlibatan generasi muda dalam setiap rangkaian kegiatan juga menjadi langkah penting dalam menjaga keberadaan Mattimpa Bujung. Dengan mengenal dan ikut terlibat di dalamnya, generasi berikutnya dapat memahami bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat yang perlu terus dijaga.
penulis :







