Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Waspada Asap Karhutla, Ini Tahapan Gejalanya dari Bersin hingga ISPA

Wamanews.id, 3 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah. Selain merusak ekosistem, bencana asap yang ditimbulkan membawa partikel berbahaya yang dapat memicu gangguan saluran pernapasan secara mendadak maupun jangka panjang.

Banyak masyarakat sering kali menganggap remeh gejala awal saat terpapar asap karhutla. Padahal, respon tubuh terhadap polutan asap akibat kebakaran hutan berlangsung secara bertahap. Jika tidak segera diantisipasi dengan penanganan yang tepat, iritasi ringan dapat memburuk dan berkembang menjadi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Memahami perkembangan dampak emisi asap sangat penting agar masyarakat dapat melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin. Berikut adalah tahapan gejala iritasi akibat paparan asap karhutla yang perlu diwaspadai:

1. Tahap Awal: Iritasi Mukosa (Bersin dan Mata Pedih)

Pada tahap awal ketika tubuh pertama kali kontak dengan sebaran asap karhutla, reaksi pertahanan alami tubuh akan langsung aktif. Partikel halus dan zat kimia iritan dalam asap akan menyentuh lapisan mukosa atau selaput lendir pada mata, hidung, dan tenggorokan.

Gejala yang muncul pada fase ini meliputi bersin-bersin secara berulang, hidung meler atau tersumbat, mata terasa pedih, berair, dan kemerahan, serta timbulnya rasa gatal di area tenggorokan. Reaksi ini merupakan upaya alami tubuh untuk mengeluarkan partikel asing yang masuk.

2. Tahap Menengah: Gangguan Tenggorokan dan Batuk

Apabila paparan asap terus berlangsung dalam durasi yang lebih lama, iritasi akan merambat lebih dalam ke saluran pernapasan bagian atas. Lapisan tenggorokan yang terus-menerus terpapar zat iritan akan mengalami peradangan ringan hingga sedang.

Pada tahap ini, penderita mulai merasakan sensasi kering dan keringat di tenggorokan, suara menjadi serak, serta timbul batuk kering yang menjengkelkan. Jika kondisi lingkungan sekitar tetap dipenuhi asap pekat, batuk dapat berkembang menjadi batuk berdahak karena tubuh memproduksi lendir ekstra untuk menangkap partikel kabut asap.

3. Tahap Lanjutan: Sesak Napas dan Nyeri Dada

Ketika partikel mikroskopis seperti PM2,5 masuk lebih jauh hingga mencapai saluran pernapasan bagian bawah dan paru-paru, kondisi tubuh akan memburuk secara signifikan. Paru-paru merespons iritasi ini dengan penyempitan saluran napas (bronkospasme).

Penderita pada tahap lanjutan ini akan mengeluhkan sesak napas, dada terasa berat atau nyeri saat menghirup udara, serta timbulnya suara mengi (wheezing) saat bernapas. Kelompok rentan seperti penderita asma, lansia, anak-anak, dan orang dengan riwayat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) akan merasakan dampak yang jauh lebih parah pada tahapan ini.

4. Tahap Kronis: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Tahap paling mengkhawatirkan dari dampak akumulasi paparan asap karhutla adalah munculnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Penurunan daya tahan saluran pernapasan akibat peradangan terus-menerus memudahkan bakteri dan virus menginfeksi sistem pernapasan.

Gejala ISPA ditandai dengan demam tinggi, batuk parah yang tak kunjung sembuh, napas cepat dan pendek, serta lemas yang luar biasa. Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis memadai, ISPA berpotensi memicu komplikasi fatal seperti pneumonia.

Mengingat bahaya bertingkat yang ditimbulkan dari paparan emisi karhutla, masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk selalu mengenakan masker standar (seperti N95 atau masker bedah), mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan alat pemurni udara (air purifier), serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala iritasi yang memburuk.

Penulis

Related Articles

Back to top button