Pengakuannya Viral, Kepolosan Emak-Emak Dapat Rp100 Ribu Saat Demo MBG Jadi Sorotan

Wamanews.id, 23 Juni 2026 – Gelombang aksi penyampaian pendapat terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan Presiden Prabowo Subianto kembali mewarnai ruang publik ibu kota. Namun, aksi dukungan yang digelar oleh sekelompok massa emak-emak di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada Senin (22/6/2026) kemarin, justru memicu spekulasi dan diskusi hangat di jagat media sosial.
Alih-alih memperkuat citra positif dari program pemenuhan gizi nasional tersebut, aksi ini justru berbalik menjadi sorotan miring. Penyebabnya tidak lain adalah kepolosan sejumlah peserta aksi yang secara terbuka mengaku menerima fasilitas logistik hingga uang saku selama mengikuti jalannya demonstrasi di sekitar Jalan Medan Merdeka Selatan tersebut.
Fenomena ini mencuat di tengah derasnya arus kritik dan aksi unjuk rasa dari kelompok mahasiswa di berbagai daerah yang menyoroti efektivitas serta tata kelola pelaksanaan MBG. Kemunculan massa tandingan yang masif dengan atribut seragam memicu dugaan dari berbagai pengamat bahwa gerakan tersebut tidak sepenuhnya lahir secara organik dari inisiatif akar rumput.
Jalannya aksi di lapangan sebenarnya berlangsung cukup tertib dan meriah. Massa aksi yang didominasi kaum ibu tersebut kompak mengenakan pakaian putih dengan kerudung merah. Mereka membawa berbagai alat peraga seperti poster, bunga mawar, hingga peralatan dapur nyata seperti panci, saringan mi, dan tampah anyaman yang dicat merah putih. Salah satu tulisan mencolok di tampah berbunyi, “MBG untuk rakyat, bukan konglomerat.”
Namun, perhatian publik seketika beralih setelah sebuah video wawancara di lokasi kejadian beredar luas. Beberapa peserta tanpa canggung membeberkan bahwa selain mendapatkan konsumsi berupa roti, susu, dan buah-buahan, mereka juga membawa pulang wajan baru secara cuma-cuma. Yang paling menyita perhatian adalah pengakuan terkait adanya ongkos saku harian.
“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,” ungkap salah seorang peserta aksi bernama Desy, sebagaimana dikutip dari rekaman video yang viral di media sosial, Selasa (23/6/2026).
Meskipun memicu polemik mengenai independensi massa, sebagian peserta menegaskan bahwa mereka hadir karena memang merasakan dampak positif langsung dari program ini. Yuyun, seorang warga asal Jakarta Timur, menyatakan dukungan penuhnya karena kondisi fisik sang anak membaik. “Semenjak ada MBG, anak saya jadi gemuk, sehat, pintar. Harapannya lebih bagus lagi, meningkat,”tutur Yuyun.
Dugaan adanya mobilisasi massa yang digerakkan oleh pihak tertentu mendapat perhatian serius dari kritikus pendidikan nasional, Darmaningtyas. Ia menilai masyarakat saat ini sudah cukup cerdas dan mampu membedakan mana gerakan murni masyarakat dan mana gerakan yang didesain secara struktural.
“Awam pun paham ini demo yang dimobilisasi oleh penguasa dan pengusaha. Ini rezim paling norak karena begitu dikritik lewat demo langsung memobilisasi massa untuk demo yang lebih besar,” ujar Darmaningtyas dengan nada satir.
Menurutnya, langkah memunculkan massa tandingan dalam jumlah besar bukanlah jawaban yang bijak dan elegan untuk meredam kritik publik. Ia menyarankan pemerintah pusat maupun Badan Gizi Nasional (BGN) untuk lebih fokus membenahi serta menjawab substansi teknis yang dikritisi oleh mahasiswa di daerah, ketimbang sibuk memamerkan kekuatan basis massa di ibu kota.
Selain itu, kemiripan gaya tulisan pada poster serta longgarnya barikade pengamanan aparat keamanan dibandingkan saat mengawal demonstrasi mahasiswa dinilai semakin mempertegas kejanggalan struktural aksi tersebut. Publik berharap tata kelola komunikasi politik pemerintah dapat berjalan lebih transparan tanpa perlu dibumbui drama mobilisasi di jalanan.





