Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Sering Pegal dan Kaku Sendi di Usia Muda? Waspada Gejala Rematik Autoimun! 

Wamanews.id, 13 Agustus 2026 – Anggapan bahwa keluhan nyeri sendi, pegal, dan kaku otot hanya dialami oleh kelompok lanjut usia (lansia) masih melekat kuat di tengah masyarakat. Stigma ini membuat banyak generasi muda, khususnya mereka yang berada di rentang usia 20 hingga 30-an tahun, cenderung mengabaikan rasa tidak nyaman pada persendian mereka.

Padahal, rasa sakit dan keterbatasan gerak pada usia produktif dapat menjadi sinyal awal ancaman penyakit rematik autoimun yang tergolong serius.

Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan medis yang tepat, peradangan sistemik akibat gangguan autoimun ini tidak hanya merusak persendian, tetapi juga berpotensi menyerang organ-organ vital tubuh.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi dari Siloam Hospitals Lippo Village, Sandra Sinthya Langow, mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap gejala-gejala awal tersebut.

“Ada berbagai penyakit rematik lain juga yang memang gejala awalnya itu adalah pada sendi, tapi kalau kita biarkan nanti bisa mengganggu organ-organ yang lain,” tegas Sandra Sinthya Langow dalam keterangannya.

Berbeda dengan kasus osteoartritis yang dipicu oleh proses penuaan atau pengapuran sendi, penyakit autoimun sistemik seperti Lupus Eritematosus Sistemik (LES) justru paling banyak mendominasi kelompok remaja hingga dewasa muda. Kondisi ini secara spesifik memiliki rasio penderita perempuan yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Sandra membeberkan bahwa perbandingan angka kejadian lupus antara wanita dan pria sangat timpang.

“Kalau Rheumatoid Arthritis perbandingannya tiga banding satu, kalau ini (Lupus) sembilan banding satu. Jadi memang jauh lebih banyak terjadi pada wanita, sementara laki-laki itu lebih sedikit,” papar Sandra.

Penyakit lupus kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena variasi gejalanya sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit infeksi biasa. Banyak pasien wanita muda yang datang ke rumah sakit dengan dugaan awal terkena Demam Berdarah Dengue (DBD) atau tipes akibat penurunan kadar hemoglobin (Hb) dan trombosit secara drastis.

Tabel: Gejala Awal Rematik Autoimun vs Penyakit Infeksi Biasa

Parameter GejalaGejala Rematik Autoimun (Lupus / RA)Penyakit Infeksi Biasa (DBD / Tipes)
Pola DemamDemam ringan yang berlangsung berkepanjangan.Demam tinggi mendadak dalam kurun waktu singkat.
Kondisi PersendianNyeri, bengkak, dan kaku simetris (terutama pagi hari).Pegal linu umum akibat reaksi demam akut.
Tanda pada KulitRuam kemerahan di pipi (butterfly rash).Bintik merah atau ruam kulit sementara.
Gejala TambahanSariawan berulang & rambut rontok parah.Mual, muntah, dan gangguan pencernaan.
Dampak Jangka PanjangBerisiko merusak ginjal, jantung, dan paru-paru.Sembuh total setelah masa infeksi selesai.

Selain Lupus dan Rheumatoid Arthritis, keluhan nyeri sendi awal pada anak muda juga bisa merujuk pada jenis penyakit rematik autoimun lainnya, seperti Skleroderma (yang ditandai dengan kulit mengeras dan menggep) serta Sjogren’s Syndrome (yang memicu mata dan mulut kering kronis).

Para ahli medis mengimbau masyarakat untuk tidak menyepelekan kombinasi gejala-gejala berikut jika terjadi bersamaan dalam waktu lama:

  • Nyeri dan pembengkakan pada beberapa sendi secara bersamaan (terutama di pergelangan tangan dan jari-jari).
  • Rasa kaku pada sendi saat bangun tidur di pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit.
  • Kerontokan rambut yang tidak wajar dan sariawan yang terus berulang di rongga mulut.
  • Munculnya ruam kemerahan di area pipi dan hidung yang semakin jelas saat terpapar sinar matahari.
  • Rasa lelah ekstrem (fatigue) serta demam sumeng yang hilang timbul tanpa sebab yang jelas.

Penanganan penyakit rematik autoimun sejak stadium awal sangat menentukan kualitas hidup penderitanya di masa depan. Melalui konseling dan terapi imunosupresan khusus yang tepat dari dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, proses peradangan internal dapat dikendalikan sehingga kerusakan permanen pada struktur sendi dan organ dalam bisa dicegah sedini mungkin.

Bagi generasi muda yang merasakan gejala-gejala mencurigakan tersebut, sangat disarankan untuk tidak mengonsumsi obat pereda nyeri secara sembarangan tanpa resep dokter, melainkan segera melakukan pemeriksaan darah dan evaluasi medis menyeluruh.

Penulis

Related Articles

Back to top button