Raih Ampunan Dosa Setahun, Ini Keutamaan, Dalil, dan Niat Puasa Tasua serta Asyura

Wamanews.id, 24 Juni 2026 – Kedatangan bulan Muharram dalam kalender Hijriah selalu menjadi momentum yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Sebagai salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) yang kedudukannya dimuliakan langsung oleh Allah SWT, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak lembaran amal saleh. Salah satu ibadah paling utama yang memiliki bobot pahala besar di bulan ini adalah menunaikan ibadah puasa sunnah Tasua dan Asyura.
Secara kronologis, puasa Tasua dilaksanakan setiap tanggal 9 Muharram, tepat satu hari sebelum ibadah puasa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Kombinasi kedua puasa sunnah ini tidak sekadar menjadi rutinitas ibadah tahunan, melainkan menyimpan gudang keutamaan spiritual yang luar biasa sebagaimana yang telah digariskan dalam lembaran hadits shahih Rasulullah SAW.
Bagi masyarakat yang ingin mengoptimalkan ibadah di bulan Allah ini, memahami landasan dalil serta tata cara pelaksanaannya menjadi langkah awal yang sangat krusial agar ibadah yang dijalankan bernilai sempurna di sisi-Nya.
Berdasarkan khazanah literasi hukum Islam dan riwayat para perawi hadits terkemuka, terdapat empat keistimewaan utama bagi hamba-hamba Allah yang ikhlas meluangkan waktunya untuk berpuasa di awal tahun Hijriah ini:
1. Menghidupkan Sunnah dan Hasrat Rasulullah SAW
Menjalankan kedua puasa ini merupakan bentuk kecintaan mutlak dalam menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW. Meski Rasulullah SAW wafat sebelum sempat melaksanakan puasa Tasua, beliau telah meniatkannya secara tegas sebagai agenda ibadah tahun berikutnya.
“Jika demikian, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah.” (HR Muslim).
Sementara untuk hari Asyura, ibadah ini merupakan amalan konsisten yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi sepanjang hidupnya bersama dengan shalat fajar dan puasa tiga hari setiap bulan (HR Ahmad dan an-Nasa’i).
2. Berpuasa di Bulan Terbaik Setelah Ramadhan
Kedudukan bulan Muharram sebagai Syahrullah (Bulan Allah) menempatkan setiap ibadah puasa di dalamnya sebagai modal pahala terbaik di bawah derajat puasa wajib Ramadhan. Riwayat dari Abu Hurairah menegaskan:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram…” (HR Muslim).
3. Jaminan Pengampunan Dosa Selama Setahun Lalu
Inilah magnet terbesar yang paling diburu oleh umat Muslim. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah Al Anshoriy, Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada hari Asyura memiliki fadhilah untuk menghapus dosa-dosa yang diperbuat selama setahun yang lalu (HR Muslim).
Meskipun Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan secara rinci bahwa klasifikasi dosa yang luntur adalah kategori dosa-dosa kecil, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa amalan agung ini berpotensi menjadi sebab diringankannya dosa besar serta sarana menaikkan derajat seorang mukmin di akhirat.
4. Sebagai Pembeda (Identitas) dengan Kaum Yahudi
Secara historis, umat Yahudi di Madinah juga mengagungkan tanggal 10 Muharram sebagai hari penyelamatan Nabi Musa AS. Demi menjaga kemurnian dan identitas syariat Islam (tasyabbuh), Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk ikut berpuasa pada hari kesembilan (Tasua) sebagai pembeda yang tegas dari tradisi ahli kitab (HR Muslim dan Abu Dawud).
Tabel: Panduan Pelaksanaan Ibadah Puasa Sunnah di Bulan Muharram
| Nama Ibadah Puasa | Waktu Pelaksanaan | Fungsi Utama & Fadhilah Spiritual | Landasan Kitab Hadits |
| Puasa Tasua | 9 Muharram | Pembeda syariat dari kaum Yahudi & Nasrani. | HR Muslim & Abu Dawud |
| Puasa Asyura | 10 Muharram | Penghapus dosa kecil setahun yang lalu. | HR Muslim (No. 1162) |
| Puasa Muharram | Sepanjang Bulan | Amalan puasa terbaik setelah bulan Ramadhan. | HR Muslim (No. 1163) |
Sebagai panduan teknis sebelum menyambut fajar menyingsing, berikut adalah lafal niat yang dapat dibaca di dalam hati maupun dilisankan pada malam hari sebelum berpuasa:
Lafal Niat Puasa Tasua (9 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnatit Tasuu’aa lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasu’a esok hari karena Allah SWT.”
Lafal Niat Puasa Asyura (10 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnatil aasyuuraa lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Dengan kelapangan waktu dan kesehatan yang diberikan, sudah sepatutnya umat Muslim tidak melewatkan momentum emas tahunan ini guna membersihkan jiwa dari khilaf masa lalu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.





