Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Bukan Sekadar Mood Swings! Waspadai PMDD, Gangguan Mental Berat Saat Menstruasi yang Bisa Picu Ide Bunuh Diri 

Wamanews.id, 25 April 2026 – Selama ini, perubahan suasana hati atau mood swings saat menjelang atau selama masa menstruasi sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah. Namun, bagi sebagian perempuan, gejolak emosi yang muncul bukan sekadar rasa kesal atau sedih biasa. Terdapat kondisi medis serius yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan mental secara signifikan, yakni Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

Psikiater Elvine Gunawan, mengingatkan bahwa PMDD merupakan gangguan psikiatri yang berada “satu level” di atas Premenstrual Syndrome (PMS) yang umum dialami. Jika PMS biasanya hanya menyebabkan rasa tidak nyaman fisik dan emosi ringan, PMDD membawa penderitanya pada jurang depresif yang sangat dalam.

Dalam sebuah acara konferensi pers bertajuk “Comfort Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation with Laurier” di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026), Elvine memaparkan betapa krusialnya mengenali perbedaan antara ketidaknyamanan biasa dengan gangguan klinis.

“Harus hati-hati juga ada gangguan psikiatri yaitu premenstrual dysphoric disorder (PMDD), di atas PMS. Kalau sedih itu seseorang bisa depresif banget, sampai tidak mau keluar di masa menstruasi,” tutur Elvine.

Perbedaan utama terletak pada intensitasnya. Pada kasus PMDD, emosi negatif yang muncul bersifat melumpuhkan. Penderita mungkin merasa kehilangan minat total pada aktivitas sehari-hari, merasa putus asa, hingga mengalami penurunan energi yang drastis yang membuat mereka sulit berfungsi secara sosial maupun profesional.

Elvine merinci beberapa gejala emosional ekstrem yang menjadi pembeda utama antara PMS dan PMDD. Berikut adalah poin-poin yang harus diperhatikan:

  • Gangguan Mood Depresif: Rasa sedih yang sangat mendalam dan persisten.
  • Pikiran Menyakiti Diri: Munculnya ide untuk melakukan self-harm atau bahkan pikiran tentang bunuh diri.
  • Respons Emosi Berlebihan: Menanggapi masalah kecil dengan kemarahan atau kesedihan yang meledak-ledak.
  • Pesimisme Ekstrem: Memandang masa depan dengan rasa tidak berdaya yang luar biasa selama siklus haid.
  • Kehilangan Energi: Rasa lelah yang tidak hilang meski sudah beristirahat, membuat penderita enggan meninggalkan tempat tidur.

Tabel Perbandingan: Apa Bedanya PMS dan PMDD?

KarakteristikPMS (Premenstrual Syndrome)PMDD (Premenstrual Dysphoric Disorder)
IntensitasRingan hingga SedangBerat dan Melumpuhkan
AktivitasTetap bisa beraktivitasSulit menjalani rutinitas harian
Gejala MentalMudah marah, sedih sesaatDepresi berat, keputusasaan
Keamanan DiriJarang ada pikiran menyakiti diriAda risiko ide bunuh diri atau self-harm
PenangananPola hidup sehat & istirahatTerapi medis atau pendampingan psikiater

Satu hal yang ditegaskan oleh dr. Elvine adalah sifat PMDD yang siklik atau berulang. Kondisi ini tidak datang sekali lalu hilang selamanya, melainkan muncul secara konsisten seiring dengan siklus hormonal bulanan. Jika dibiarkan tanpa intervensi medis, gejalanya berpotensi mengalami eskalasi atau memburuk seiring bertambahnya usia atau perubahan kondisi fisik lainnya.

“Sebenarnya kalau PMDD itu biasanya berulang. Jika tidak diterapi, maka kondisinya akan lebih buruk,” tegasnya. Penanganan dini sangat diperlukan untuk mencegah penderita mengalami kerugian sosial seperti rusaknya hubungan interpersonal atau hambatan dalam karir akibat ketidakstabilan emosi yang ekstrem.

Lantas, apa yang harus dilakukan jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala tersebut? Langkah pertama adalah keterbukaan. Membandingkan pengalaman dengan sesama perempuan atau berdiskusi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah kondisi yang dialami masih dalam batas “normal” atau sudah memerlukan bantuan ahli.

Dr. Elvine menyarankan agar para perempuan tidak ragu untuk mencari bantuan profesional. “Jika menyadari dalam proses menstruasi merasa nggak baik-baik saja, itu sebaiknya dikonsultasikan ke psikiater. Bisa ke dokter Obgyn dulu untuk melihat kondisi hormon,” pungkasnya.

Pemeriksaan hormon oleh dokter Obgyn dapat membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab fisik lainnya, sementara psikiater dapat memberikan terapi perilaku atau pengobatan yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan neurotransmitter di otak selama siklus haid. Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, PMDD dapat dikendalikan sehingga kesehatan mental perempuan tetap terjaga sepanjang bulan.

Penulis

Related Articles

Back to top button