Viral! Siswa Madrasah Tak Dapat Jatah Makan Gratis Imbas Kritik Sang Ibu, SPPG Beri Penjelasan Mengejutkan

Wamanews.id, 23 Januari 2026 – Jagat maya kembali dihebohkan dengan sebuah potongan video yang menyayat hati mengenai pelaksanaan program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG). Seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah berinisial Alfan, bersama adiknya Arsya yang bersekolah di Raudhatul Athfal (RA) Ma’arif, dikabarkan tidak mendapatkan jatah makan selama tiga hari berturut-turut.
Mirisnya, dugaan kuat mencuat bahwa penghentian jatah makan tersebut merupakan bentuk “sanksi” atau intimidasi terhadap orang tua siswa yang vokal melayangkan kritik terhadap kualitas makanan program tersebut di media sosial.
Kejadian ini mulai mencuat ke publik setelah jurnalis Adi Sipriadi melalui akun Instagram pribadinya, @coachaddie.real, mengunggah video interaksi dengan Alfan. Dalam video tersebut, Alfan yang tampak lesu mengakui bahwa dirinya sudah tiga hari tidak menerima jatah makanan dari sekolah, sementara teman-teman sekelasnya yang lain menikmati hidangan tersebut dengan lahap.
“Tiga hari,” jawab Alfan singkat saat ditanya sudah berapa lama ia tidak mendapatkan makanan. Alfan disebut sebagai satu-satunya siswa yang tidak diberi jatah, sehingga ia terpaksa hanya bisa menonton rekan-rekannya makan di dalam kelas.
Adi Sipriadi dalam keterangannya mengecam keras tindakan tersebut. Ia menilai, menjadikan anak kecil sebagai sasaran balas dendam atas kritik orang tua adalah tindakan yang tidak manusiawi dan mencederai dunia pendidikan.
“Hati mana yang tidak tersayat? Seorang ibu mengkritik kualitas makanan MBG, tapi balasannya apa? Anaknya dihukum tidak boleh makan! Bukan cuma lapar fisik, tapi mentalnya dihancurkan karena dipaksa menonton teman-temannya sedang lahap menyantap nasi,” tulis Adi dalam unggahannya.
Ia juga mempertanyakan apakah ini potret pendidikan masa kini, di mana kritik dibungkam dengan cara-cara intimidasi yang menyasar perut anak-anak. “Kritik itu vitamin buat perbaikan, bukan racun yang harus dibalas dengan dendam,” sambungnya.
Menanggapi video viral tersebut, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah wawancara, perwakilan SPPG tersebut awalnya menyatakan bahwa Alfan sebenarnya tetap mendapatkan jatah makan melalui cara lain.
“Sebetulnya anak itu dapat tiap hari. Saya punya bukti-buktinya. Jadi ada anak-anak yang tidak masuk, itu jatahnya diberi ke yang bersangkutan (Alfan),” ungkap pihak SPPG tersebut.
Namun, yang mengejutkan, pihak SPPG tidak menampik bahwa ada perubahan perlakuan pasca unggahan kritik dari ibu sang siswa. Pihak SPPG menilai bahwa apa yang dilakukan ibu Alfan di media sosial bukan lagi sekadar kritik membangun, melainkan sudah masuk ke ranah pencemaran nama baik.
“Begini pak, kalau postingan itu berupa saran, kritik, atau masukan, kami terima dengan tangan terbuka. Namun, jika postingan itu berupa fitnah, ujaran kebencian, atau hal yang merusak nama baik instansi kami, menurut saya kami harus melakukan pembelaan,” pungkas perwakilan SPPG tersebut.
Meski pihak SPPG berdalih melakukan “pembelaan diri”, langkah menghentikan atau membedakan perlakuan terhadap anak didik akibat tindakan orang tua menuai kecaman luas dari netizen dan praktisi pendidikan. Program MBG yang sejatinya bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak bangsa, justru dinilai telah dipolitisasi menjadi alat penekan.
Banyak pihak menyayangkan jika sengketa informasi antara orang tua dan penyelenggara program harus mengorbankan hak dasar anak untuk mendapatkan nutrisi di sekolah. Hal ini dianggap melanggar prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab, terutama karena kejadian ini terjadi di lingkungan institusi pendidikan agama (Madrasah).
Hingga berita ini diturunkan, unggahan Adi Sipriadi terus dibanjiri komentar masyarakat yang menuntut adanya evaluasi menyeluruh terhadap petugas lapangan SPPG agar kejadian serupa tidak terulang kembali di sekolah lain. Masyarakat berharap program MBG tetap berjalan secara profesional tanpa ada unsur sentimen pribadi maupun intimidasi terhadap keluarga siswa.







