Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Dana ‘Donatur’ Menipis, PBB Pangkas Anggaran Bantuan Hingga 50% untuk 2026 di Tengah Kebutuhan Kemanusiaan Mendesak 

Wamanews.id, 8 Desember 2025 – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan keputusan yang kontroversial dan menyakitkan: memangkas anggaran bantuan kemanusiaan global hingga hampir 50 persen untuk tahun 2026. Keputusan ini diambil di tengah pengakuan bahwa kebutuhan kemanusiaan di seluruh dunia justru meningkat drastis, memaksa PBB untuk mengabaikan nasib puluhan juta warga yang sangat membutuhkan bantuan.

Kepala Bantuan PBB, Tom Fletcher, tidak menutupi kesulitan dan situasi suram yang dihadapi lembaganya. PBB mengajukan permohonan anggaran sebesar 23 miliar dollar AS atau sekitar Rp 383 triliun untuk tahun depan, sebuah angka yang jauh di bawah kebutuhan riil dan lebih rendah dari tahun sebelumnya.

Fletcher secara blak-blakan mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan dampak langsung dari menurunnya dukungan finansial dari negara-negara donatur, yang memaksa PBB memprioritaskan warga yang paling kritis kebutuhannya.

“Pemotongan dana inilah yang pada akhirnya memaksa kita untuk membuat pilihan-pilihan yang sulit, berat, dan brutal,” kata Tom Fletcher, dikutip dari Reuters.

Ia menganalogikan situasi badan bantuan di zona konflik dengan pernyataan keras: “Kami kewalahan, kekurangan dana, dan diserang. Kami mengendarai ambulans menuju lokasi kebakaran, atas nama Anda. Tapi, sekarang kami juga diminta untuk memadamkan api, tidak ada cukup air di tangki, kami juga ditembaki.”

Pemotongan anggaran ini menambah tantangan besar bagi staf bantuan di zona konflik, termasuk peningkatan risiko keamanan dan kesulitan operasional di tengah kondisi perang, bencana iklim, dan epidemi.

Situasi ini mengulangi tren tahun sebelumnya. Untuk tahun 2025, PBB awalnya meminta anggaran sebesar 47 miliar dollar AS (sekitar Rp 785 triliun). Namun, angka tersebut harus dikurangi secara signifikan setelah Amerika Serikat (AS), donatur nomor satu PBB, memotong dana bantuannya, khususnya pada masa pemerintahan Donald Trump.

Hingga November 2025, PBB baru menerima 12 miliar dollar AS (sekitar Rp 200 triliun), yang merupakan angka terendah dalam sepuluh tahun terakhir dan hanya seperempat dari kebutuhan yang diusulkan. Badan-badan kemanusiaan PBB memang sangat bergantung pada sumbangan sukarela dari donatur Barat, dengan AS berada di daftar teratas.

Anggaran 2026 sebesar Rp 383 triliun tersebut terpaksa difokuskan hanya untuk 87 juta orang yang dianggap sebagai prioritas paling tinggi oleh PBB. Padahal, diperkirakan sekitar 250 juta orang di seluruh dunia saat ini sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak.

PBB mengalokasikan perhatian besar pada konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan terbesar, termasuk mengusulkan anggaran 4 miliar dollar AS (sekitar Rp 67 triliun) untuk Palestina. Sebagian besar dana ini bertujuan untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat serangan Israel selama dua tahun, mengingat hampir seluruh 2,3 juta warga Gaza kehilangan tempat tinggal dan sepenuhnya bergantung pada bantuan. Prioritas selanjutnya adalah Sudan dan Suriah.

Fletcher menyimpulkan bahwa kelompok kemanusiaan menghadapi skenario suram yang melibatkan peningkatan kelaparan, penularan penyakit, dan rekor kekerasan.

“(Seruan) ini difokuskan pada penyelamatan nyawa di lokasi yang paling terdampak, perang, bencana iklim, gempa bumi, epidemi, gagal panen,” tutupnya.

Penulis

Related Articles

Back to top button