Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Heboh ChatGPT Bisa “Melihat” Pengguna Lewat Kamera, Pakar Siber: Jangan Panik, Ini Faktanya!

Wamanews.id, 26 Januari 2026 – Pernahkah Anda merasa seolah-olah kecerdasan buatan (AI) mengetahui apa yang sedang Anda lakukan, bahkan tanpa Anda beri tahu? Belakangan ini, lini masa media sosial, khususnya TikTok, sedang dihebohkan oleh narasi yang menyebutkan bahwa ChatGPT mampu mengetahui privasi pengguna secara real-time, termasuk melihat pakaian yang dikenakan atau aktivitas di sekitar perangkat.

Kehebohan ini bermula dari unggahan akun TikTok @vioh******** pada Minggu (18/1/2026). Dalam video tersebut, narator mengklaim bahwa kita seperti hidup di “rumah kaca” karena ChatGPT diduga bisa mengakses kamera dan suara secara diam-diam. Hingga Sabtu (24/1/2026), video tersebut telah meledak dengan lebih dari 3,1 juta penayangan dan memicu kecemasan massal terkait perlindungan data pribadi.

Menanggapi kegelisahan publik tersebut, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, memberikan penjelasan teknis untuk meluruskan persepsi yang berkembang. Menurutnya, anggapan bahwa ChatGPT “mengintip” pengguna tanpa izin adalah kekeliruan pemahaman terhadap cara kerja sistem operasi dan AI itu sendiri.

Pratama menegaskan bahwa secara arsitektur, ChatGPT tidak dirancang untuk menyalakan kamera secara otomatis atau memantau lingkungan tanpa instruksi eksplisit.

“Akses semacam itu secara teknis tidak mungkin terjadi tanpa izin eksplisit dari pengguna dan tanpa tanda yang jelas di tingkat sistem operasi,” ujar Pratama pada Kamis (22/1/2026).

Ia mengingatkan bahwa perangkat modern, baik berbasis Android maupun iOS, memiliki protokol keamanan yang sangat ketat. Setiap aplikasi yang ingin mengakses mikrofon atau kamera wajib meminta persetujuan pengguna. Selain itu, terdapat indikator visual (biasanya berupa titik hijau atau oranye di sudut layar) yang akan menyala jika kamera atau mik aktif. Tanpa indikator tersebut, mustahil sebuah aplikasi mengambil data visual secara tersembunyi.

Lantas, mengapa dalam video viral tersebut ChatGPT seolah-olah bisa menebak warna baju atau benda di sekitar pengguna dengan tepat? Pratama menjelaskan bahwa hal ini bisa dijelaskan melalui dua mekanisme:

  • Teknik Cold Reading Digital: Sebagai Large Language Model (LLM), ChatGPT bekerja berdasarkan probabilitas statistik. Ia mengolah konteks percakapan dan pola bahasa. Seringkali, jawaban yang tampak akurat hanyalah tebakan berbasis asumsi umum yang secara kebetulan sesuai dengan kenyataan.
  • Fitur Multimodal yang Aktif: ChatGPT memang memiliki fitur analisis gambar dan video. Namun, fitur ini hanya bekerja jika pengguna secara sadar menekan ikon kamera, mengunggah foto, atau mengaktifkan mode suara yang terintegrasi dengan penglihatan komputer. Dalam kondisi ini, AI hanya memproses apa yang “disodorkan” pengguna, bukan mencuri data secara diam-diam.

“Mekanisme ini mirip dengan teknik cold reading, yakni menyusun tebakan dari petunjuk umum tanpa akses langsung terhadap fakta sebenarnya,” jelas Pratama.

Pratama menilai bahwa ketakutan masyarakat seringkali berlebihan pada hal-hal yang bersifat konspiratif, namun abai pada ancaman privasi yang lebih nyata. Isu privasi yang seharusnya diperhatikan bukanlah “AI yang mengintip lewat kamera”, melainkan data yang secara sadar kita bagikan dalam obrolan teks.

Segala percakapan, gambar yang diunggah, hingga integrasi data kalender atau kontak yang diizinkan pengguna, memang akan diproses oleh penyedia layanan (OpenAI) sesuai dengan kebijakan privasi mereka. Data inilah yang digunakan untuk melatih model AI agar menjadi lebih pintar.

Tips Aman Berinteraksi dengan AI

Untuk menghadapi era AI dengan bijak, Pratama menekankan pentingnya sikap kritis dan selektif. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diambil pengguna:

  • Periksa Izin Aplikasi: Pastikan aplikasi hanya memiliki akses ke kamera atau mik saat diperlukan.
  • Pahami Fitur: Jangan aktifkan fitur analisis gambar jika Anda merasa tidak nyaman membagikan data visual.
  • Batasi Informasi Sensitif: Jangan pernah memasukkan data pribadi yang sangat rahasia (seperti kata sandi atau data finansial) ke dalam ruang obrolan AI.

Dengan memahami batasan teknologi, pengguna diharapkan tidak terjebak dalam ketakutan yang tidak beralasan (paranoid), namun tetap waspada terhadap tata kelola data pribadi yang mereka berikan secara sadar.

Penulis

Related Articles

Back to top button