Rupiah Menguat di Akhir Pekan, Bukti Ekonomi Indonesia Masih Tangguh Hadapi Tekanan Global

Wamanews.id, 25 Oktober 2025 – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan ketangguhannya di tengah tekanan ekonomi global. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/10/2025), rupiah tercatat menguat 27 poin atau sekitar 0,16 persen ke posisi Rp16.602 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di Rp16.629 per dolar AS.
Menurut Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, penguatan ini menjadi sinyal positif bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia masih kokoh, meskipun dinamika global seperti kebijakan moneter Amerika Serikat (The Fed) dan ketegangan geopolitik dunia masih membayangi pasar.
“Sejumlah indikator seperti inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang tetap kuat menjadi faktor utama yang menjaga keyakinan pelaku pasar terhadap rupiah,” ungkap Taufan, dikutip dari Antara.
Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia per September 2025 mencapai 148,7 miliar dolar AS, sedikit menurun dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 150,7 miliar dolar AS.
Meskipun terjadi penurunan tipis, BI menegaskan bahwa level tersebut masih sangat aman dan mampu membiayai hingga 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang biasanya hanya sekitar 3 bulan impor.
“Artinya, Indonesia masih memiliki bantalan kuat menghadapi volatilitas global, baik dari sisi perdagangan maupun pembiayaan eksternal,” jelas Taufan.
Meski menguat, Taufan mengingatkan bahwa penguatan rupiah saat ini lebih ditopang oleh stabilitas fundamental ekonomi ketimbang faktor eksternal seperti arus modal asing.
“Neraca perdagangan Indonesia memang masih surplus, tetapi trennya mulai menyempit. Arus dana asing juga masih berhati-hati. Jadi meski rupiah menguat, ruang penguatannya masih terbatas,” ujarnya.
Kondisi tersebut disebabkan oleh masih tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan kebijakan suku bunga The Fed yang belum memberikan sinyal pelonggaran. Situasi ini membuat dolar AS tetap kuat, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih berlanjut.
Sementara itu, kurs acuan resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga memperlihatkan tren serupa. Pada hari yang sama, JISDOR tercatat menguat ke level Rp16.630 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.645 per dolar AS.
Konsistensi ini menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap rupiah mulai terbentuk, didukung oleh optimisme investor atas pengelolaan fiskal dan moneter Indonesia yang dinilai cukup hati-hati dan terukur.
Stabilitas Jadi Kunci Menuju Akhir Tahun
Menjelang akhir 2025, para analis memperkirakan rupiah masih akan bergerak stabil di kisaran Rp16.500–Rp16.700 per dolar AS, tergantung arah kebijakan suku bunga global dan data inflasi domestik.
Meski ruang penguatan terbatas, penguatan rupiah di akhir pekan ini menjadi sinyal bahwa pondasi ekonomi Indonesia masih kuat dan mampu menghadapi tekanan eksternal dengan baik.
“Selama inflasi tetap terkendali, neraca perdagangan tetap positif, dan cadangan devisa terjaga, rupiah akan tetap tangguh,” tutup Taufan.
Dengan penguatan ini, Indonesia kembali membuktikan bahwa stabilitas ekonomi nasional bukan sekadar retorika, tetapi hasil nyata dari kebijakan moneter dan fiskal yang disiplin, serta optimisme pasar yang tetap terjaga.







