Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Rasio Dokter Terendah di Asia Tenggara, Lebih 1 Juta WNI Berobat ke Luar Negeri!

Wamanews.id, 29 Juni 2025 – Sebuah ironi besar menyelimuti sektor kesehatan Indonesia. Di tengah upaya pemerintah untuk meningkatkan fasilitas dan layanan, faktanya, lebih dari satu juta masyarakat Indonesia, khususnya dari kalangan menengah atas, memilih untuk mencari pengobatan di luar negeri setiap tahunnya. 

Fenomena ini bukan hanya menunjukkan preferensi, melainkan juga menyoroti kesenjangan fundamental dalam sistem kesehatan tanah air, salah satunya terkait dengan rasio dokter yang sangat rendah dibandingkan standar internasional.

Data yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia sangat mengkhawatirkan. Indonesia tercatat memiliki rasio dokter hanya 0,47 per 1.000 penduduk. 

Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi ketiga terendah di Asia Tenggara, hanya unggul tipis dari Laos (0,3/1.000) dan Kamboja (0,42/1.000). Padahal, standar ideal yang ditetapkan WHO atau “golden line” adalah 1 dokter per 1.000 penduduk. 

Jika suatu negara mampu memenuhi rasio ini, ia dapat dikategorikan sebagai negara yang berhasil dan bertanggung jawab dalam bidang kesehatan domestiknya. Kesenjangan ini secara langsung berdampak pada aksesibilitas dan kualitas layanan medis yang dirasakan oleh masyarakat.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Adib Khumaidi, membenarkan bahwa rendahnya rasio dokter ini menjadi salah satu pemicu. 

Namun, ia juga menambahkan bahwa ada dua alasan utama lain yang membuat masyarakat Indonesia rela mengeluarkan biaya ekstra untuk berobat ke luar negeri, utamanya ke Malaysia dan Singapura:

1. Faktor Biaya yang Lebih Kompetitif di Luar Negeri 

Meskipun terdengar paradoks, dr. Adib menjelaskan bahwa biaya untuk obat dan transportasi ternyata bisa lebih murah di negara-negara tujuan medis seperti Malaysia dan Singapura dibandingkan di Indonesia. Ia menunjuk pada kebijakan negara-negara tersebut. “Kenapa pembiayaan murah? Karena ada kebijakan negara, regulasi negara soal free tax khususnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” kata dr. Adib. Ini menunjukkan bahwa strategi kebijakan fiskal yang mendukung sektor kesehatan dapat secara signifikan menurunkan biaya layanan, membuatnya lebih menarik bagi pasien internasional dan domestik.

2. Kualitas Komunikasi Dokter yang Lebih Baik 

Aspek krusial lainnya yang sering diabaikan adalah kualitas komunikasi dokter dengan pasien. Dr. Adib mengakui bahwa kemampuan komunikasi dokter di Indonesia perlu ditingkatkan. “Kami sekarang selalu mengatakan kemampuan komunikasi pada dokter di Indonesia harus ditingkatkan, karena salah satu dasar pasien berobat ke luar negeri, berobat ke Malaysia, atau Singapura, itu salah satunya karena faktor komunikasinya yang mereka anggap lebih enak di sana daripada di Indonesia,” lanjutnya. Komunikasi yang baik tidak hanya sekadar memberikan informasi medis, tetapi juga membangun kepercayaan, empati, dan rasa nyaman bagi pasien. 

Jika pasien merasa lebih didengarkan, dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan mendapatkan perhatian personal, hal itu bisa menjadi faktor penentu dalam memilih layanan kesehatan.

Dengan lebih dari 1 juta WNI yang berobat ke luar negeri, Indonesia menghadapi kerugian ekonomi yang substansial. Potensi nilai ekonomi yang seharusnya berputar di dalam negeri, mulai dari biaya konsultasi, tindakan medis, pembelian obat, hingga akomodasi dan transportasi, kini mengalir ke negara lain. Ini merupakan “devisa keluar” yang signifikan dari sektor kesehatan yang seharusnya bisa dipertahankan untuk menggerakkan ekonomi domestik.

Kesenjangan rasio dokter yang rendah ini juga memunculkan tantangan serius bagi pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat. Dengan jumlah dokter yang tidak ideal, antrean panjang di rumah sakit, terbatasnya akses ke dokter spesialis, dan potensi penurunan kualitas pelayanan menjadi ancaman nyata.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan harus bekerja ekstra. 

Prioritas tidak hanya pada pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga pada peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, terutama dokter dan tenaga medis lainnya. Peningkatan beasiswa untuk pendidikan dokter, percepatan program spesialisasi, hingga insentif bagi dokter yang bersedia praktik di daerah terpencil adalah beberapa langkah strategis yang bisa diambil.

Selain itu, perlu juga dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan biaya kesehatan dan upaya peningkatan soft skillskomunikasi bagi para dokter di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat menjadi tuan rumah bagi masyarakatnya sendiri dalam bidang kesehatan, mengurangi “arus keluar” pasien, dan mengukuhkan perannya sebagai negara yang bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan warganya.

Penulis

Related Articles

Back to top button