Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Ribuan Penerima MBG Keracunan, BGN Ungkap Mayoritas Akibat Pelanggaran SOP

Wamanews.id, 5 September 2026 – Pelaksanaan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diterpa isu krusial terkait standar keselamatan, kebersihan, dan higienitas pangan. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, yakni kurun waktu tiga hari dari tanggal 1 hingga 3 September 2026, sebanyak 1.961 orang penerima manfaat di berbagai pelosok daerah dilaporkan mengalami gejala keracunan massal usai menyantap hidangan yang disiapkan dan didistribusikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Lonjakan insiden yang terjadi secara mendadak dan bersamaan di sejumlah provinsi ini menjadi alarm keras bagi sistem pengawasan kualitas rantai pasok makanan secara menyeluruh. Berdasarkan sebaran data laporan yang masuk, wilayah Pulau Jawa menjadi area yang mencatatkan akumulasi jumlah korban terbanyak dalam kejadian luar biasa ini.

Insiden dengan dampak korban terbesar tercatat terjadi di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tepatnya di lingkungan SMAN 1 Lasem. Sebanyak 777 orang dilaporkan mendadak menderita gangguan kesehatan serius seperti mual, nyeri perut hebat, muntah-muntah, hingga diare setelah mengonsumsi sajian paket makanan dari pihak SPPG Desa Soditan.

Kasus berskala besar berikutnya timbul di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Kurang lebih 740 santri dan pelajar di lingkungan Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, dilaporkan mengalami gejala keracunan serupa yang melumpuhkan kegiatan belajar mengajar di pesantren tersebut.

Sementara itu di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Kepala Dinas Kesehatan setempat mencatat laporan dugaan keracunan mencapai 344 kasus. Yang memprihatinkan, korban tidak hanya berasal dari kalangan 251 pelajar dan 17 guru, tetapi juga menyasar kelompok masyarakat rentan yang mencakup 42 balita, satu ibu hamil, sembilan ibu menyusui, 22 anggota keluarga sasaran, serta dua orang kader posyandu.

Adapun di wilayah Sulawesi Selatan, kasus serupa dilaporkan berhembus dari Kabupaten Tana Toraja. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tana Toraja mengonfirmasi sedikitnya 160 siswa yang berasal dari SMP Negeri 1 Makale dan SMP Negeri 2 Makale terpaksa dilarikan serta mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan setempat setelah menyantap jatah makanan program MBG.

Akumulasi 1.961 laporan korban hanya dalam tempo tiga hari memunculkan pertanyaan besar dari publik mengenai konsistensi penerapan standar keamanan pangan dalam seluruh rantai pelaksanaan program. Menanggapi rentetan insiden luar biasa yang menimpa ribuan warga tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf serta keprihatinan yang mendalam atas kelalaian yang terjadi di lapangan.

Sudaryono mengakui bahwa temuan kasus keracunan ini menjadi pukulan berat bagi efektivitas dan reputasi penyelenggaraan program MBG secara nasional. Berdasarkan hasil evaluasi internal dan investigasi awal yang dilakukan oleh tim BGN, mayoritas insiden keracunan massal tersebut dipicu oleh ketidaktaatan pengelola di lapangan terhadap standar operasional prosedur (SOP) pengerjaan makanan.

“Tapi kemudian di atas itu semua, tiba-tiba ada keracunan makanan, itu kemudian kami aduh, cukup… sangat prihatin dan drop, ya. Kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90 persen tuh karena tidak taat SOP,” tegas Sudaryono dalam keterangannya pada Sabtu (5/9/2026).

Guna mencegah kejadian berulang di kemudian hari, pihak BGN berjanji akan memperketat sistem pengawasan di tingkat daerah, menindak tegas pengelola SPPG yang terbukti mengabaikan regulasi sanitasi dan kriteria keamanan pangan, serta mengevaluasi total prosedur pengolahan hingga pengiriman sajian MBG ke seluruh wilayah sasaran.

Penulis

Related Articles

Back to top button