Gempar! Hujan Es Sebesar Kelereng Guyur Mattirowalie Bulukumba Selama 30 Menit

Wamanews.id, 17 Maret 2026 – Masyarakat di Desa Mattirowalie, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mendadak heboh pada Senin siang (16/3/2026). Bukan karena cuaca panas yang terik, melainkan fenomena alam langka berupa hujan es yang mengguyur pemukiman mereka. Butiran es yang jatuh dilaporkan memiliki ukuran yang cukup signifikan, yakni sebesar kelereng.
Kejadian yang berlangsung di tengah intensitas hujan lebat ini sempat memicu kekhawatiran sekaligus rasa penasaran warga. Pasalnya, bunyi benturan butiran es di atas atap seng rumah warga terdengar sangat nyaring, berbeda dengan suara rintik hujan pada umumnya.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bulukumba, fenomena ini terjadi sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 WITA. Meski tidak berlangsung lama, dampak visual dan suara yang ditimbulkan meninggalkan kesan mendalam bagi warga Desa Mattirowalie.
Kepala Pelaksana BPBD Bulukumba, Andi Hasbullah, mengonfirmasi bahwa butiran es tersebut memang benar adanya dan ukurannya menyerupai kelereng. “Itu kayak kelereng. Kejadiannya sekitar jam-jam 1 atau jam 2 siang. Enggak terlalu lama, paling sekitar setengah jam,” ungkap Hasbullah saat dikonfirmasi oleh awak media pada Selasa (17/3/2026).
Fenomena ini tidak datang sendirian. Hujan es tersebut terjadi bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah barat serta utara Bulukumba. Geografi wilayah Gantarang yang berdekatan dengan area perbukitan memang sering kali mengalami dinamika cuaca yang cukup ekstrem saat memasuki musim tertentu.
Meskipun fenomena ini terlihat cukup mengerikan karena ukuran esnya, pihak BPBD Bulukumba bergerak cepat untuk melakukan asesmen di lapangan. Hasil pemantauan tim reaksi cepat menunjukkan bahwa tidak ada dampak kerusakan yang berarti pada fasilitas umum maupun rumah-rumah warga di Desa Mattirowalie.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai adanya korban luka-luka akibat tertimpa butiran es tersebut. “Enggak, enggak ada dampak fasilitas dan warga terluka. Kami dapat informasi juga dari teman-teman petugas di lapangan, belum ada laporan kerusakan lebih lanjut,” tambah Andi Hasbullah.
Secara ilmiah, hujan es atau hail sering kali dikaitkan dengan keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat tebal dan menjulang tinggi. Di dalam awan ini, arus udara yang kuat membawa butiran air ke ketinggian yang sangat dingin hingga membeku menjadi es. Jika arus udara tersebut tidak lagi mampu menopang berat es, maka butiran tersebut jatuh ke bumi sebelum sempat mencair sepenuhnya.
Andi Hasbullah menjelaskan bahwa fenomena semacam ini sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, terutama saat memasuki masa transisi atau pancaroba. Pergantian musim dari penghujan ke kemarau atau sebaliknya sering kali memicu ketidakstabilan atmosfer.
“Peristiwanya begitu kan lumrah dalam hal pergantian musim biasanya. Sering terjadi, kalau sudah pergantian musim itu kan kita sudah bisa memprediksi, ‘Oh, ini sudah pergantian musim ini’,” jelasnya dengan nada tenang.
Dunia maya pun tak luput dari riuh rendah fenomena ini. Sejumlah warga Desa Mattirowalie mengunggah momen jatuhnya butiran es tersebut ke media sosial, khususnya Facebook. Video-video yang memperlihatkan warga memungut butiran es di halaman rumah mereka segera menjadi konsumsi netizen dan mendapatkan ribuan respons.
“Hujan es. Banyak sekali butiran-butirannya,” tulis salah satu warganet sembari menunjukkan tumpukan es kecil di telapak tangannya.
Meskipun hanya dilaporkan terjadi di satu titik di Kecamatan Gantarang, BPBD Bulukumba tetap mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di masa pancaroba ini. Angin kencang dan hujan lebat yang tiba-tiba masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan di wilayah Sulawesi Selatan.







