Darurat Imunisasi! Dinkes Sulsel Ungkap 69 Persen Kasus Campak Menyerang Anak Tanpa Vaksin

Wamanews.id, 15 April 2026 – Di tengah perjuangan Sulawesi Selatan untuk mempertahankan status nol kasus aktif campak, sebuah fakta mengejutkan muncul ke permukaan. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat bahwa mayoritas penyebaran penyakit campak di wilayah ini berakar pada satu masalah klasik: rendahnya cakupan imunisasi dasar pada anak.
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi terbaru, terungkap bahwa sekitar 69 persen kasus campak yang ditemukan di berbagai daerah di Sulsel dialami oleh anak-anak yang sama sekali tidak mendapatkan imunisasi atau memiliki riwayat vaksinasi yang tidak lengkap. Data ini menjadi alarm keras bagi para orang tua untuk tidak lagi meremehkan pentingnya “tameng” medis bagi buah hati mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Evi Mustikawati Arifin, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat data tersebut. Saat ini, Dinkes Sulsel tengah menjalankan dua strategi utama secara simultan untuk memutus rantai penularan virus campak yang dikenal sangat menular tersebut.
Strategi pertama adalah Catch Up Campaign, yaitu upaya menjaring anak-anak yang terlewat jadwal imunisasi rutinnya di masa lalu. Strategi kedua adalah Outbreak Response Immunization (ORI), yang merupakan intervensi imunisasi massal di wilayah-wilayah yang terdeteksi memiliki sebaran kasus atau risiko tinggi.
“Ini menjadi faktor utama. Sekitar 69 persen kasus terjadi karena tidak dilakukan imunisasi campak. Strategi ORI ini adalah langkah cepat kita untuk memastikan virus tidak merembet ke wilayah lain,” ujar Evi Mustikawati dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Program percepatan ini difokuskan pada beberapa daerah zona merah dan kuning, antara lain Kabupaten Sinjai, Makassar, Wajo, dan Luwu. Total sasaran vaksinasi ORI di seluruh Sulawesi Selatan mencapai angka 116.808 anak yang berada pada rentang usia 9 hingga 59 bulan.
Menariknya, Kabupaten Sinjai menunjukkan performa yang patut diacungi jempol. Di daerah tersebut, capaian vaksinasi justru menembus angka 106 persen dari target awal. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat dan respons pemerintah daerah yang sangat responsif terhadap ancaman penyakit menular.
Target dan Capaian Vaksinasi ORI Sulsel 2026
| Kategori Data | Informasi Detail |
| Total Sasaran ORI | 116.808 Anak |
| Rentang Usia Target | 9 – 59 Bulan |
| Wilayah Prioritas | Sinjai, Makassar, Wajo, Luwu |
| Capaian Tertinggi | Kabupaten Sinjai (106%) |
| Batas Waktu Program | Mei 2026 |
Selain mengandalkan vaksinasi, Pemerintah Provinsi Sulsel juga memperkuat sistem deteksi dini di tingkat puskesmas. Evi menjelaskan bahwa tidak semua anak yang mengalami demam langsung dikategorikan sebagai suspek campak. Ada kriteria medis ketat yang harus dipenuhi, yang dikenal dengan gejala 3K:
- Batuk
- Pilek (Korisa)
- Konjungtivitis (Mata Merah)
“Vaksinasi ini bukan pengobatan, tetapi pencegahan. Namun bagi yang sudah bergejala, sistem deteksi kita harus cepat agar tidak terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) yang meluas,” tambahnya. Penguatan ini didukung dengan surat edaran kewaspadaan yang telah diterbitkan baik oleh Kementerian Kesehatan maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Pihak Dinkes Sulsel juga mengingatkan masyarakat bahwa layanan imunisasi campak tersedia secara gratis di seluruh Puskesmas dan Posyandu di Sulawesi Selatan. Orang tua diminta untuk tidak ragu membawa anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat, terutama di daerah-daerah strategis seperti Wajo yang kini menjadi salah satu titik fokus penanganan.
Evi juga menitipkan pesan bagi orang tua yang anaknya mulai menunjukkan gejala sakit agar tidak memaksakan anak beraktivitas di luar rumah atau sekolah. “Kalau ada gejala seperti demam, batuk, pilek, dan mata merah, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu parah,” imbaunya.
Hingga saat ini, penanganan kasus di Sulsel dinilai masih sangat terkendali. Pemerintah memastikan ketersediaan vaksin cukup dan belum ada rencana untuk penambahan tenaga medis atau posko khusus, karena sistem yang ada saat ini dianggap masih mampu menangani beban kerja lapangan.
Dengan langkah masif yang dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2026 ini, diharapkan Sulawesi Selatan dapat benar-benar bersih dari ancaman campak dan membangun generasi yang lebih tangguh melalui imunisasi lengkap.







