Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

SulSel

Harga Cabai Rawit di Sulsel Tembus Rp60 Ribu, Cuaca Buruk Jadi Penyebab

Wamanews.id, 13 Maret 2026 – Ibu rumah tangga dan para pelaku usaha kuliner di Sulawesi Selatan nampaknya harus mulai mengelus dada. Pasalnya, “pedasnya” harga cabai rawit kini bukan lagi sekadar kiasan rasa, melainkan kenyataan pahit di dompet. Memasuki pertengahan Maret 2026, harga cabai rawit di berbagai pasar tradisional di Sulsel dilaporkan telah menembus angka Rp60.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini terjadi bukan tanpa sebab. Curah hujan yang tinggi di sejumlah wilayah sentra pertanian di Sulawesi Selatan menjadi faktor utama yang memicu merosotnya angka produksi. Akibatnya, pasokan ke pasar-pasar induk menjadi terbatas sementara permintaan menjelang hari raya justru sedang meroket.

Menanggapi fenomena ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Satgas Pangan telah memperketat pengawasan di lapangan. Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas, Hermawan, menegaskan bahwa pemantauan harga dan ketersediaan stok sudah dilakukan secara intensif sejak Februari lalu.

“Pengawasan Satgas mulai dilakukan sejak Februari sampai akhir tahun akan dilakukan secara terus-menerus. Menjelang hari besar keagamaan ini, pengawasan lebih masif untuk memastikan harga tetap stabil,” ujar Brigjen Hermawan dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).

Hermawan mengakui bahwa hukum pasar tidak bisa dihindari; ketika produksi di tingkat petani terganggu akibat faktor alam, maka lonjakan harga adalah konsekuensi logis yang harus dihadapi di tingkat konsumen.

Secara teknis, penurunan produksi cabai rawit kali ini berkaitan erat dengan karakteristik tanaman itu sendiri. Berbeda dengan komoditas lain yang mungkin lebih tahan air, tanaman cabai sangat sensitif terhadap kelembapan tinggi dan genangan.

“Untuk cabai merah besar dan cabai keriting sebenarnya masih aman di Sulsel. 

Tapi untuk cabai rawit kecil masih belum aman karena di sentra produksi saat ini produksinya belum maksimal. Saat musim hujan deras seperti ini, produksi cabai biasanya menurun karena akarnya tidak boleh tergenang air,” jelas Hermawan.

Kondisi akar yang membusuk akibat tanah yang terlalu basah membuat banyak petani mengalami gagal panen atau penurunan kualitas buah, sehingga stok cabai rawit segar di pasar menjadi langka.

Guna menstabilkan harga yang kini sudah berada di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP), Satgas Pangan tengah mengevaluasi opsi untuk mendatangkan pasokan dari daerah lain. Fokus utama pemerintah adalah mencari daerah produsen yang sudah mengadopsi teknologi pertanian modern, seperti penggunaan greenhouse.

Dengan sistem greenhouse, tanaman cabai dapat terlindungi dari paparan hujan deras secara langsung, sehingga produksi tetap stabil tanpa bergantung pada musim. Selain itu, pemerintah juga tengah mempertimbangkan untuk memasok cabai rawit kering ke Sulawesi Selatan sebagai alternatif bagi masyarakat dan industri kuliner jika pasokan cabai segar terus menyusut.

Berdasarkan hasil pemantauan terkini, berikut adalah rincian pergerakan harga cabai di Sulawesi Selatan:

  • Cabai Rawit Merah: Saat ini rata-rata Rp60.000/kg (Naik dari harga acuan Rp57.000/kg).
  • Cabai Merah Keriting: Masih stabil di kisaran Rp37.000 – Rp55.000/kg (Sesuai harga acuan).
  • Cabai Merah Besar: Dilaporkan masih berada di bawah harga acuan pemerintah.

Meski ada kenaikan sekitar Rp3.000 dari harga acuan, Brigjen Hermawan menilai kondisi ini masih dalam batas wajar dan belum dikategorikan sebagai krisis pangan serius. Kenaikan ini juga dipicu oleh faktor psikologis pasar menyambut Lebaran, di mana konsumsi rumah tangga biasanya meningkat tajam.

Pemerintah menjamin bahwa meskipun harga sedikit bergejolak, stok fisik komoditas tersebut dipastikan tetap tersedia di pasar-pasar rakyat sehingga masyarakat tidak perlu melakukan panic buying

Penulis

Related Articles

Back to top button