Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

SulSel

Sulsel Darurat Campak! Makassar, Wajo, Luwu, dan Sinjai Resmi Berstatus KLB

Wamanews.id, 9 April 2026 – Kewaspadaan terhadap penyakit menular kini tengah ditingkatkan di tingkat provinsi. Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Dinkes Sulsel) secara resmi mengumumkan bahwa empat kabupaten/kota di Sulsel kini menyandang status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait penuluran penyakit campak. Keempat daerah tersebut adalah Kota Makassar, Kabupaten Wajo, Kabupaten Luwu, dan Kabupaten Sinjai.

Berdasarkan data yang dihimpun hingga Rabu (8/4/2026), total temuan kasus campak di Sulawesi Selatan telah mencapai 169 kasus yang tersebar di berbagai wilayah. Peningkatan jumlah kasus yang signifikan dalam waktu singkat inilah yang memicu pemerintah untuk menetapkan status KLB guna mempercepat penanganan dan memutus rantai penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Evi Mustikawati Arifin, menjelaskan bahwa meskipun tren kenaikan terjadi di beberapa titik, Kabupaten Sinjai saat ini menjadi perhatian utama karena memiliki jumlah laporan suspek (gejala menyerupai campak) yang paling tinggi.

“Jumlah kasus campak di Sulsel sampai tanggal 8 April sebanyak 169 yang tersebar di beberapa kabupaten kota. Adapun daerah yang melaporkan KLB yaitu Kota Makassar, Sinjai, Luwu, dan Wajo,” ujar Evi dalam keterangannya di Makassar.

Secara spesifik untuk wilayah Sinjai, tercatat ada sekitar 59 orang yang berstatus suspek dengan tiga di antaranya sudah terkonfirmasi positif melalui hasil laboratorium. Tingginya angka suspek ini menuntut langkah taktis agar tidak terjadi lonjakan kasus positif di kemudian hari.

Menyikapi status KLB ini, Dinkes Sulsel tidak tinggal diam. Sejumlah langkah strategis telah diinstruksikan kepada dinas kesehatan di tingkat kabupaten dan kota, termasuk melalui pertemuan koordinasi virtual untuk memastikan seluruh daerah melakukan percepatan penanganan.

Salah satu langkah teknis yang diambil adalah pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI)serta Catch Up Campaign (imunisasi kejar) untuk campak dan rubella. Langkah ini difokuskan pada wilayah-wilayah terdampak dan daerah yang dianggap berisiko tinggi.

“Kami mengejar sasaran yang ada di wilayah tersebut yang belum mendapatkan layanan campak demi untuk mencegah dengan melalui mekanisme vaksinasi. Distribusi vaksin juga sudah kami lakukan terhadap kabupaten/kota yang terdampak,” tegas Evi.

Data Sebaran KLB Campak di Sulsel (Per 8 April 2026)

Daerah Status KLBStatus UtamaFokus Penanganan
Kota MakassarKLBVaksinasi di wilayah padat penduduk.
Kabupaten WajoKLBMonitoring berkala di tingkat puskesmas.
Kabupaten LuwuKLBPercepatan distribusi logistik vaksin.
Kabupaten SinjaiKLB (Suspek Tertinggi)Penanganan 59 suspek dan pelacakan kontak.

Masyarakat, khususnya para orang tua, diimbau untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat seperti Puskesmas atau Rumah Sakit jika menemukan gejala awal seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan munculnya ruam kemerahan di kulit.

Evi Mustikawati menekankan bahwa penyakit campak sebenarnya bisa ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini. Hal yang paling berbahaya bukanlah penyakitnya secara mandiri, melainkan komplikasi yang muncul jika dibiarkan tanpa penanganan medis.

“Campak itu tidak berbahaya bila ditangani dengan baik. Yang berbahaya adalah kalau dilakukan pembiaran dan menyebabkan komplikasi. Komplikasinya ini yang berdampak berat pada kesehatan anak,” jelasnya. Fasilitas layanan kesehatan di seluruh wilayah terdampak dipastikan siap melayani masyarakat selama 24 jam.

Di tengah kemunculan kasus ini, sempat beredar pesan berantai yang menyebutkan adanya larangan mengunjungi kawasan wisata di Kabupaten Sinjai dan sekitarnya. Menanggapi hal tersebut, Dinkes Sulsel secara tegas membantah adanya pembatasan perjalanan atau penutupan objek wisata.

“Sebenarnya tidak ada larangan ataupun pembatasan perjalanan terutama di daerah wisata. Pemerintah provinsi hanya mengeluarkan surat edaran yang berisi imbauan kewaspadaan,” pungkas Evi.

Masyarakat diharapkan tetap tenang namun tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan dasar, melakukan isolasi mandiri bagi anak yang menunjukkan gejala, serta memastikan status imunisasi anak sudah lengkap guna memberikan perlindungan maksimal. 

Penulis

Related Articles

Back to top button