Sering Tidur dalam Kondisi Terang? Awas Risikonya bagi Kesehatan Jantung

Wamanews.id, 10 September 2026 – Kualitas tidur yang baik bukan hanya ditentukan oleh durasi atau seberapa lama seseorang terlelap, melainkan juga oleh kebiasaan serta kondisi lingkungan kamar tidur. Salah satu kebiasaan yang kerap dianggap sepele namun berdampak fatal bagi kesehatan adalah tidur dalam kondisi ruangan yang terang atau lampu tetap menyala.
Penelitian medis terbaru mengungkapkan bahwa paparan cahaya saat tidur di malam hari dapat berdampak buruk pada sistem kardiovaskular dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan jantung. Lantas, bagaimana bisa cahaya lampu di dalam kamar memengaruhi organ jantung yang berada di dalam tubuh?
Ketika seseorang tidur di ruangan yang terang, tubuh sebenarnya tetap dapat mendeteksi keberadaan cahaya melalui kelopak mata. Paparan cahaya ini mengganggu ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun alami manusia.
Secara biologis, saat kondisi sekitar gelap, otak akan memproduksi hormon melatonin yang berfungsi menurunkan tekanan darah, memperlambat detak jantung, serta membantu tubuh memasuki fase istirahat yang dalam dan pemulihan (deep sleep). Sebaliknya, paparan cahaya lampu malam hari justru menekan produksi hormon melatonin dan memicu stimulasi sistem saraf simpatik.
Sistem saraf simpatik yang terus aktif selama tidur membuat tubuh berada dalam kondisi waspada (fight-or-flight). Akibatnya, detak jantung tetap terpacu lebih cepat dan tekanan darah tidak mengalami penurunan alami yang seharusnya terjadi saat malam hari.
Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus dalam jangka panjang, pembuluh darah akan mengalami ketegangan ekstra yang berpotensi memicu resistensi insulin, peningkatan kadar gula darah, serta munculnya penyakit kardiovaskular serius seperti hipertensi dan serangan jantung.
Tidak hanya mengancam kesehatan jantung, gangguan ritme sirkadian akibat tidur di kamar terang juga mengacaukan fungsi metabolik tubuh. Peningkatan hormon stres seperti kortisol saat terpapar cahaya malam hari dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam memproses glukosa. Hal ini menjelaskan mengapa kebiasaan tidur dengan lampu menyala juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, yang mana keduanya merupakan faktor risiko utama penunjang penyakit jantung.
Selain itu, kualitas tidur yang buruk dan sering terbangun akibat suasana kamar yang silau membuat seseorang merasa lelah saat bangun di pagi hari. Kondisi ini menurunkan kebugaran fisik dan memicu kebiasaan pola makan tidak sehat di siang hari.
Melihat besarnya risiko kesehatan yang ditimbulkan, para ahli kesehatan merekomendasikan beberapa langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan tidur yang ideal demi melindungi kesehatan jantung:
- Mematikan Lampu Utama: Biasakan mematikan lampu kamar saat hendak tidur. Jika merasa takut kegelapan, gunakan lampu tidur redup dengan pencahayaan berwarna hangat (warm light) seperti merah atau oranye, dan letakkan di posisi yang rendah.
- Hindari Paparan Layar Gadget: Matikan perangkat elektronik seperti ponsel pintar, televisi, dan laptop setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum tidur, karena pancaran blue light dari layar dapat menekan melatonin secara drastis.
- Gunakan Tirai Gelap atau Masker Penutup Mata: Manfaatkan tirai blackout jika terdapat polusi cahaya luar dari lampu jalan, atau gunakan masker penutup mata (eye mask) untuk memastikan mata terbebas dari paparan cahaya.
Mengubah kebiasaan kecil seperti mematikan lampu kamar sebelum tidur dapat menjadi langkah preventif yang sangat efektif dalam menjaga kesehatan organ jantung dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.






