Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Rupiah Mengganas! Hantam Dolar AS ke Level Rp16.802 Saat Ekonomi Paman Sam Melambat

Wamanews.id, 24 Februari 2026 – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya pada pembukaan perdagangan pekan ini. Nilai tukar rupiah terpantau bergerak perkasa meninggalkan zona merah, merespons rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Di tengah ketidakpastian global, rupiah berhasil memanfaatkan celah pelemahan Greenback untuk merangkak naik.

Pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026, rupiah dibuka menguat signifikan sebesar 86 poin atau sekitar 0,51 persen. Saat ini, rupiah nangkring di level Rp16.802 per dolar AS, sebuah lompatan positif dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang sempat tertahan di angka Rp16.888 per dolar AS.

Pengamat pasar uang kawakan, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa penguatan rupiah kali ini bukan tanpa alasan. Faktor utama datang dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri. Laporan terbaru mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV-2025 menjadi “kado pahit” bagi para investor dolar.

Secara tahunan (year on year/YoY), PDB Amerika Serikat mengalami kontraksi yang cukup dramatis. Angka pertumbuhan yang sebelumnya berada di level 4,4 persen kini terjun bebas ke angka 1,4 persen.

“Penurunan tajam PDB ini merupakan dampak langsung dari penutupan pemerintahan AS (government shutdown) yang berlangsung selama 43 hari. Ini memberikan tekanan berat pada aktivitas ekonomi mereka,” ungkap Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Lumpuhnya layanan publik dan birokrasi di Washington selama lebih dari satu bulan tersebut terbukti memberikan luka dalam pada fundamental ekonomi AS, yang secara otomatis memicu aliran modal keluar dari aset-aset berbasis dolar ke pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Selain masalah pertumbuhan ekonomi, Negeri Paman Sam juga masih bergelut dengan hantu inflasi. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti—yang menjadi indikator favorit Bank Sentral AS (The Fed) untuk mengukur inflasi—justru menunjukkan kenaikan.

Tercatat, PCE inti AS meningkat menjadi 3,0 persen dari angka sebelumnya 2,8 persen. Kondisi ini cukup ironis; di satu sisi ekonomi melambat, namun di sisi lain harga-harga masih sulit dijinakkan.

Indikator Ekonomi ASData SebelumnyaData Terbaru (Februari 2026)
PDB Tahunan (YoY)4,4%1,4%
PCE Inti (Inflasi)2,8%3,0%
Target Inflasi Fed2,0%2,0%

Angka 3 persen tersebut masih jauh di atas target ideal 2 persen yang ditetapkan The Fed. Hal ini menciptakan dilema bagi otoritas moneter AS: apakah harus tetap agresif menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, atau justru melonggarkannya demi menyelamatkan pertumbuhan ekonomi yang mulai sekarat.

Faktor eksternal lain yang turut menambah volatilitas pasar adalah manuver politik dari Presiden AS, Donald Trump. Kebijakan perdagangan Trump kembali menjadi sorotan dunia setelah adanya ancaman pengenaan tarif impor global sebesar 10 persen selama 150 hari ke depan.

Langkah ini diambil berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS, sebuah upaya reaktif setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan rezim tarif sebelumnya yang dianggap terlalu luas.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakpastian ini membuat pasar cemas akan terjadinya aksi balasan dari negara-negara mitra dagang AS. “Pemerintahan Trump bahkan berpotensi menaikkan tarif hingga 15 persen, yang merupakan batas maksimum undang-undang. Kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global ini justru membuat dolar kehilangan daya tariknya sebagai aset aman sementara waktu,” tambahnya.

Kekuatan rupiah di pasar spot juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat penguatan ke level Rp16.818 per dolar AS pada Senin ini, menguat dari posisi sebelumnya di level Rp16.885 per dolar AS.

Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus waspada menghadapi volatilitas ini. Meskipun rupiah menguat, tantangan hukum dan dinamika kongres di AS mengenai durasi tarif dapat sewaktu-waktu membalikkan keadaan.

Penguatan hari ini setidaknya memberikan napas lega bagi pelaku usaha di tanah air, terutama bagi mereka yang bergantung pada bahan baku impor. Namun, mengingat faktor pemicunya adalah ketidakpastian di Amerika Serikat, fluktuasi masih akan sangat tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Sobat WamaNews, bagi Anda yang memiliki rencana transaksi valas, momentum di bawah Rp17.000 ini tentu menarik untuk diperhatikan. Tetap pantau perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan AS yang kian hari kian dinamis. 

Penulis

Related Articles

Back to top button