Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Gerhana Matahari Cincin Jadi Penanda Awal Puasa Ramadan 2026, Simak Penjelasannya

Wamanews.id, 12 Februari 2026 – Langit Februari 2026 tampaknya sedang ingin memberikan pertunjukan spesial bagi umat manusia, khususnya umat Islam di Indonesia. Menjelang masuknya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, sebuah fenomena astronomi langka berupa Gerhana Matahari Cincin diprediksi akan muncul sebagai penanda alamiah berakhirnya siklus bulan Syakban dan dimulainya bulan Ramadan.

Berdasarkan data astronomis, awal puasa Ramadan 2026 diperkirakan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Namun, sebagaimana tradisi di Indonesia, penentuan tanggal satu Ramadan ini memiliki dua jalur pendekatan yang menarik untuk disimak: versi perhitungan hisab dan versi pengamatan hilal oleh pemerintah.

Gerhana Matahari Cincin yang dijadwalkan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, bukan sekadar fenomena visual yang memanjakan mata. Dalam dunia ilmu falak (astronomi Islam), gerhana matahari adalah bukti paling tak terbantahkan dari terjadinya ijtimak atau konjungsi.

Ijtimak adalah momen di mana posisi Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari dalam satu garis lurus. Peristiwa ini menandai berakhirnya masa edar bulan yang lama dan dimulainya fase bulan yang baru. Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 19.12 WIB. Meskipun fenomena “cincin api” ini sulit terlihat secara langsung dari wilayah Indonesia karena faktor waktu, secara matematis ia memastikan bahwa siklus bulan baru telah dimulai pada Selasa malam tersebut. Kepastian dari Muhammadiyah: Puasa Mulai 18 Februari

Bagi warga Muhammadiyah, kepastian awal puasa sudah bisa digenggam lebih awal. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengeluarkan Maklumat bernomor 2/MLM/I.0/E/2025 yang menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini didasarkan pada metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal serta penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Karena ijtimak sudah terjadi sebelum matahari terbenam pada 17 Februari, dan posisi bulan saat magrib sudah berada di atas ufuk, maka menurut kriteria Muhammadiyah, malam tersebut sudah masuk waktu salat Tarawih dan keesokan harinya sudah mulai berpuasa.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) tetap memegang teguh tradisi Sidang Isbat yang rencananya digelar pada 17 Februari 2026 sore hari. Berbeda dengan Muhammadiyah, pemerintah bersama ormas Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria MABIMS mensyaratkan hilal tidak hanya sekadar “ada” di atas ufuk, tetapi harus memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar dianggap memenuhi syarat untuk bisa dilihat (rukyatul hilal).

AspekMuhammadiyahPemerintah (Prediksi)
Tanggal 1 Ramadan18 Februari 202619 Februari 2026
Dasar PenetapanHisab Hakiki / KHGTSidang Isbat / MABIMS
Marker AlamPasca Ijtimak/GerhanaTampaknya Hilal di Ufuk

Prediksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan adanya potensi perbedaan. Jika pada sore tanggal 17 Februari posisi hilal dinilai belum memenuhi kriteria MABIMS secara fisik, maka ada kemungkinan pemerintah akan menggenapkan (istikmal) bulan Syakban menjadi 30 hari, sehingga awal puasa versi pemerintah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kehadiran Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026 seolah menjadi “pengingat” dari alam semesta bahwa waktu ibadah agung telah tiba. Bagi Anda yang mengikuti metode hisab, gerhana ini adalah penguat keyakinan untuk mulai menyiapkan sahur pertama pada Rabu dini hari.

Terlepas dari potensi perbedaan tanggal satu atau dua hari, esensi Ramadan sebagai bulan penyucian diri tetap menjadi yang utama. Perbedaan metode penetapan adalah bukti kekayaan khazanah keilmuan Islam di Indonesia yang harus disikapi dengan rasa saling menghormati.

Sudahkah Anda menyiapkan diri untuk menyambut bulan suci? Gerhana matahari mungkin hanya lewat dalam hitungan menit, namun keberkahan Ramadan akan menetap selama sebulan penuh bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Penulis

Related Articles

Back to top button