Krisis BBM dan LPG di Sulsel Meluas, Menteri Bahlil Disentil Warganet

Wamanews.id, 12 September 2026 – Krisis energi berupa kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) serta gas LPG 3 kilogram (kg) yang melanda wilayah Sulawesi Selatan kini resmi menjadi perhatian serius dan sorotan hangat di tingkat nasional. Kondisi memprihatinkan yang membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan energi harian ini memicu gelombang kritik pedas di media sosial, salah satunya menyasar langsung kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Pegiat media sosial Yusuf Muhammad turut menyuarakan keprihatinannya atas krisis pasokan energi yang terjadi di Kota Makassar dan daerah sekitarnya. Melalui unggahan di media sosial, ia menampilkan rekaman antrean kendaraan yang mengular sangat panjang di ruas jalan utama.
“KRISIS ENERGI MAKASSAR: BBM DAN GAS LANGKA. Terlihat antrean BBM mengular 7 km di Jl. Perintis Kemerdekaan (11/9/2026),” tulis Yusuf Muhammad dalam unggahannya, Sabtu (12/9/2026).
Tidak hanya antrean BBM, Yusuf juga membeberkan kepedihan warga yang terpaksa bertahan hingga larut malam demi mendapatkan pasokan gas melon.
“Warga juga mengantre gas LPG 3 kg hingga larut malam di Campagayya,” lanjutnya.
Dalam narasi unggahannya, Yusuf secara terbuka menyentil pihak pemerintah pusat serta jajaran Kementerian ESDM terkait lumpuhnya aktivitas ekonomi warga akibat keterbatasan pasokan energi tersebut.
“UMKM dan ibu rumah tangga terdampak. DPRD Sulsel menduga penyelundupan pasokan subsidi ke luar provinsi. Pertamina berdalih panic buying. Mana Bolu Ketannn Bahlul???” sindir Yusuf secara mendalam.
Dampak krisis pasokan energi ini tidak hanya dirasakan di Kota Makassar, melainkan telah meluas ke berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Bone dan Pangkep. Di Kabupaten Bone, kelangkaan pasokan gas dan BBM bahkan dilaporkan telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan terakhir, sedangkan di Makassar gejolaknya kian parah dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.
Akibat tersendatnya pasokan di jalur distribusi resmi, harga komoditas energi subsidi di tingkat pengecer melambung drastis. Di Kabupaten Bone, harga satu tabung LPG 3 kg meroket hingga menyentuh angka Rp30.000 sampai Rp35.000 per tabung. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas BBM; harga Pertalite eceran melambung hingga Rp15.000 per liter, sementara Pertamax menembus angka Rp20.000 per liter.
Meski pihak PT Pertamina (Persero) mengklaim stok dan jalur distribusi BBM maupun LPG dalam kondisi aman serta menilai fenomena ini terjadi akibat panic buying, realitas di lapangan tetap menunjukkan antrean yang belum juga terurai. Pemerintah daerah setempat kini telah merespons krisis ini dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus guna menangani persoalan distribusi energi.
Persoalan krisis energi di Sulawesi Selatan ini dampaknya kian memprihatinkan karena mulai menyasar sektor-sektor vital, termasuk dunia pendidikan. Di Kota Makassar, dampak kelangkaan BBM memaksa sejumlah siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk kembali menjalani proses pembelajaran dari rumah secara daring.
Kebijakan merumahkan para siswa ini terpaksa diambil lantaran para orang tua murid maupun pengemudi angkutan sekolah mengalami kesulitan mendasar dalam mendapatkan BBM untuk mobilitas harian anak-anak menuju sekolah.
Di sisi lain, pihak DPRD Sulsel menduga kuat adanya penyelewengan atau penyelewengan pasokan BBM subsidi yang diselundupkan ke luar wilayah provinsi, sehingga jatah pasokan lokal menjadi berkurang drastis. Masyarakat sangat berharap Satgas yang telah dibentuk bersama Kementerian ESDM segera mengambil langkah nyata dan tegas untuk menuntaskan krisis energi ini sampai ke akarnya.







