Kenapa Akhir-akhir Ini Udara Terasa Lebih Dingin? Simak Penjelasan BMKG

Wamanews.id, 18 Juli – Apakah kamu merasa akhir-akhir ini udara terasa lebih dingin dari biasanya? Banyak yang mengira penyebabnya adalah fenomena aphelion, yakni saat Bumi berada di titik terjauh dari Matahari.
Namun, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dinginnya suhu saat ini tidak berkaitan langsung dengan fenomena astronomi tahunan tersebut.
Lantas, apa yang menyebabkan cuaca terasa dingin akhir-akhir ini? Untuk mengetahui jawabannya, berikut informasinya untuk Anda.
Kenapa Cuaca Akhir-akhir Ini Terasa Lebih Dingin?
BMKG menjelaskan bahwa suhu udara yang lebih sejuk, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, merupakan hal yang lumrah terjadi di musim kemarau. Periode Juli hingga September memang dikenal sebagai waktu di mana suhu lebih rendah dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan suhu dingin tersebut:
- Musim kemarau telah mulai berlangsung, ditandai dengan angin dari arah tenggara atau biasa disebut monsun Australia. Angin ini membawa udara yang lebih kering dan dingin.
- Langit cerah pada malam hari menyebabkan panas dari permukaan Bumi cepat menguap ke atmosfer, sehingga suhu malam hari menjadi lebih dingin.
- Turunnya hujan di beberapa daerah juga memperkuat rasa dingin. BMKG menjelaskan bahwa hujan membawa massa udara yang lebih sejuk dari awan ke permukaan bumi, dan sekaligus menghambat proses pemanasan dari sinar matahari.
Musim Kemarau 2025 Mengalami Kemunduran
Selain suhu dingin, BMKG juga mengungkapkan bahwa musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia datang lebih lambat dari biasanya. Penyebabnya adalah dinamika atmosfer yang tidak biasa, sehingga memicu potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah.
Kepala BMKG menyebutkan bahwa hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen wilayah zona musim yang mulai beralih ke musim kemarau. Padahal secara historis, pada waktu yang sama, sekitar 64 persen wilayah Indonesia seharusnya sudah memasuki musim kemarau.
Fenomena kemunduran ini dipicu oleh lemahnya monsun Australia dan suhu muka laut yang cukup tinggi di bagian selatan Indonesia. Kedua faktor tersebut meningkatkan kelembapan udara yang kemudian mendorong terbentuknya awan hujan, bahkan di tengah periode yang seharusnya kering.







