Jangan Dipaksa! Ini 6 Panduan Bijak Dampingi Anak Puasa Pertama di Ramadan 2026

Wamanews.id, 18 Februari 2026 – Momen Ramadan selalu menjadi waktu yang spesial bagi setiap keluarga Muslim, termasuk di tahun 2026 ini. Salah satu fase yang paling mendebarkan sekaligus membanggakan bagi orang tua adalah ketika si kecil mulai menunjukkan keinginan untuk ikut berpuasa.
Melihat anak mampu bertahan hingga maghrib memang menjadi idaman, namun mendampingi mereka belajar puasa untuk pertama kalinya membutuhkan strategi khusus agar tidak menjadi trauma fisik maupun psikologis.
Pakar Kesehatan sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Aryono Hendarto, menekankan bahwa kunci utama dalam proses ini adalah kesabaran orang tua. “Sabar adalah fondasi. Kita sedang membangun kebiasaan, bukan sekadar menahan lapar,” ungkapnya dalam sebuah webinar kesehatan pada Rabu (18/2/2026).
Lantas, bagaimana cara terbaik mengawal “puasa perdana” si kecil? Berikut adalah 6 langkah praktis yang bisa Ayah dan Bunda terapkan:
1. Prinsip Utama: Anti-Pemaksaan
Ingatlah bahwa anak-anak yang belum baligh belum memiliki kewajiban syar’i untuk berpuasa secara penuh. Jika si kecil mulai mengeluh perutnya sakit, terlihat sangat lemas, atau wajahnya pucat, jangan ragu untuk memintanya berbuka. Memaksakan anak berpuasa layaknya orang dewasa di percobaan pertama berisiko mengganggu kondisi kesehatannya.
2. Metode Bertahap (Latihan Berkala)
Jangan langsung mematok target puasa hingga Maghrib. Prof. Aryono menyarankan durasi latihan dimulai dari 3 hingga 5 jam saja.
“Setidaknya si kecil sudah tahu bagaimana rasanya puasa. Jika ia sudah kuat, durasi bisa dinaikkan secara perlahan ke setengah hari,” jelasnya.
Hindari memarahi anak jika mereka hanya mampu puasa setengah hari, karena bagi mereka, ini adalah prestasi besar dalam proses belajar.
3. Amunisi Nutrisi: Rahasia Asam Amino
Ini adalah poin yang sering terlupakan. Saat anak berpuasa, pastikan asupan Asam Amino dalam tubuhnya tetap terjaga. Mengapa penting? Karena asam amino adalah motor utama dalam proses pertumbuhan anak.
Sumber asam amino terbaik adalah protein hewani (seperti daging, ayam, ikan, atau telur). Pastikan menu sahur dan buka puasa si kecil mengandung protein hewani yang cukup, ditambah sayur dan buah-buahan sebagai sumber serat agar gizi mereka tetap seimbang meski frekuensi makan berkurang.
4. Manajemen Energi: Kurangi Aktivitas Fisik
Anak-anak memang gudangnya energi, namun saat berpuasa, cadangan energi mereka terbatas. Berikan pemahaman dengan lembut bahwa mereka perlu lebih “kalem” dan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu berat seperti berlarian di bawah terik matahari. Ayah dan Bunda bisa mengalihkan aktivitas mereka ke hal-hal yang lebih santai, seperti membaca buku cerita nabi atau mewarnai.
5. Drama Bangun Sahur? Tetap Tenang!
Bangun di sepertiga malam adalah tantangan berat, bahkan bagi orang dewasa. Jika si kecil sulit dibangunkan atau mendadak rewel dan menolak makan sahur, jangan terbawa emosi. “Jangan marah jika dia menolak sahur. Setidaknya anak sudah tahu bahwa ada jam sahur. Penjelasan bisa diberikan keesokan harinya saat kondisi anak sudah lebih tenang,” terang Prof. Aryono. Konsistensi memperkenalkan jam sahur jauh lebih penting daripada jumlah makanan yang masuk di awal-awal latihan.
6. Jadilah Role Model (Contoh Nyata)
Anak adalah peniru ulung. Mereka akan melihat bagaimana orang tua mereka menjalani puasa. Jika orang tua terlihat mengeluh, malas-malasan, atau justru mudah marah saat puasa, anak akan merekam hal tersebut sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Pastikan seluruh anggota keluarga memberikan contoh perilaku yang positif, ceria, dan tetap produktif selama Ramadan.
Mendampingi anak puasa pertama adalah investasi spiritual jangka panjang. Dengan memberikan dukungan yang tepat, asupan gizi yang berkualitas, dan contoh yang baik, anak akan memandang Ramadan sebagai bulan yang dinanti-nanti, bukan beban yang menakutkan.
Selamat mendampingi si kecil berproses! Semoga Ramadan tahun ini membawa berkah dan kemajuan bagi tumbuh kembang buah hati tercinta.







