
Wamanews.id, 19 Januari 2026 – Operasi pencarian dan pertolongan pasca-hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport kini memasuki fase krusial. Setelah titik jatuh pesawat ditemukan di kawasan pegunungan yang terjal, fokus utama Tim SAR Gabungan saat ini beralih pada upaya evakuasi korban yang mulai ditemukan di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Pada Senin pagi (19/1/2026), suasana di Posko AJU Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, tampak sibuk sejak fajar menyingsing. Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, secara resmi memimpin apel pagi sekaligus melepas tim gabungan yang akan bergerak melakukan misi kemanusiaan tersebut. Sebanyak 34 personel pilihan diberangkatkan untuk menembus lebatnya hutan dan ekstremnya tebing Bulusaraung.
Misi utama tim yang diberangkatkan pagi ini adalah mengevakuasi satu jenazah korban yang pertama kali ditemukan pada hari Minggu (18/1). Jasad tersebut ditemukan oleh seorang warga lokal bernama Arman (38) bersama dua rekannya saat melakukan penyisiran awal.
Andi Sultan menjelaskan bahwa berdasarkan hasil rapat evaluasi mendalam yang dilakukan pada Minggu malam, tim memutuskan untuk menempuh jalur darat sebagai opsi paling memungkinkan saat ini. Keputusan ini diambil mengingat kondisi cuaca yang sering berubah-ubah di atas puncak gunung yang dapat membahayakan jika dilakukan evakuasi udara menggunakan helikopter.
“Jalur ini kami ambil berdasarkan petunjuk dari masyarakat setempat. Ini adalah akses yang paling memungkinkan untuk menjangkau tempat ditemukannya korban kemarin. Ada 34 orang yang kami berangkatkan pagi ini, ada penambahan personel dari rencana awal untuk memperkuat tim evakuasi,” ujar Andi Sultan kepada awak media di lokasi.
Selain melakukan evakuasi terhadap satu korban yang sudah ditemukan, 34 personel ini juga tetap mengemban misi pencarian terhadap penumpang dan kru pesawat lainnya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Salah satu hal menarik dalam operasi kali ini adalah penunjukan Arman, warga sipil yang menguasai medan, sebagai pemimpin regu di baris depan. Penunjukan Arman bukan tanpa alasan. Keahliannya mengenai seluk-beluk Gunung Bulusaraung dianggap sebagai aset vital bagi keselamatan dan kecepatan tim.
Danrem 141/Toddopuli, Andre Clift Rumbayan, mengungkapkan bahwa pilihan menjadikan Arman sebagai pemandu sekaligus pemimpin regu telah disepakati dalam rapat evaluasi Tim SAR Gabungan.
“Kenapa Pak Arman yang dipilih memimpin evakuasi? Karena beliau adalah sosok yang paling menguasai medan di area jatuhnya pesawat. Selain tahu jalur, beliau juga mengetahui rute yang lebih mudah untuk mengakses titik ditemukannya korban sehingga diharapkan bisa meminimalisir hambatan di jalur ekstrem,” kata Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan.
Kondisi medan menuju lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 tersebut digambarkan sangat berat. Area lereng Gunung Bulusaraung yang menjadi titik koordinat jatuhnya pesawat merupakan kawasan hutan yang jarang dijamah oleh manusia. Di lokasi tersebut, tidak ditemukan lahan perkebunan warga, yang menandakan tingkat kesulitan akses yang sangat tinggi.
Andi Sultan menambahkan bahwa tantangan terbesar selain kemiringan lereng adalah cuaca ekstrem yang masih menyelimuti wilayah Pangkep dalam beberapa hari terakhir. Kabut tebal dan hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi seringkali memaksa tim untuk bergerak lebih lambat demi keamanan personel.
“Hingga saat ini, karena kondisi cuaca masih ekstrem, baru satu korban yang berhasil ditemukan. Jalur yang kita ambil ini memang cukup ekstrem karena memang jalur yang jarang dilalui masyarakat umum,” pungkas Andi Sultan.
Dalam apel pemberangkatan, Andi Sultan didampingi oleh Asrem Kodam XIV/Hasanuddin, Abi Kusnianto, memberikan pembekalan teknis kepada seluruh personel. Tim gabungan ini terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, serta potensi SAR dari berbagai organisasi pecinta alam.
Masyarakat Desa Tompo Bulu sendiri turut memberikan dukungan moral dan logistik bagi tim yang bertugas. Keberhasilan evakuasi pertama ini diharapkan menjadi pembuka jalan untuk menemukan seluruh korban dan bangkai pesawat, guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan nahas yang menimpa pesawat rute Yogyakarta-Makassar tersebut.
Rencananya, jika cuaca mendukung, tim akan berusaha membawa jasad korban turun ke Posko AJU sebelum matahari terbenam untuk kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar guna proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI.







