Dunia Terancam ‘Kiamat’ Energi! Houthi Masuk Perang, Dua Nadi Minyak Dunia Kini Terkunci

Wamanews.id, 30 Maret 2026 – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dan tak terduga. Aliansi Amerika Serikat-Israel yang tengah berhadapan dengan Iran kini mendapatkan “front” baru setelah pasukan Houthi dari Yaman secara resmi menyatakan keterlibatan aktif mereka dalam peperangan.
Masuknya faksi militer yang menguasai wilayah strategis di Yaman ini bukan sekadar perluasan palagan pertempuran, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Para pengamat menyebut situasi ini sebagai ancaman “Blokade Ganda” karena menargetkan dua titik nadi perdagangan paling vital di planet ini: Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab.
Konfirmasi keterlibatan Houthi datang melalui serangkaian serangan rudal balistik yang diarahkan ke titik-titik vital di wilayah Israel. Mengutip laporan The Guardian pada Minggu (29/3/2026), milisi tersebut menegaskan bahwa operasi militer mereka adalah bentuk solidaritas dan tidak akan berhenti hingga “agresi” di semua front berakhir.
“Pasukan Houthi menyatakan pada Sabtu kemarin bahwa mereka telah meluncurkan rudal balistik ke lokasi militer Israel yang sangat sensitif. Ini adalah pesan bahwa tidak ada tempat yang aman selama konflik terus berlanjut,” tulis laporan tersebut.
Di sisi lain, upaya Washington untuk melumpuhkan kekuatan militer Teheran tampaknya belum berjalan sesuai rencana. Meskipun militer AS mengklaim telah melakukan serangan presisi, data intelijen yang dikutip oleh Reutersmengungkapkan fakta yang cukup mencemangkan.
Hingga saat ini, Amerika Serikat dikabarkan baru mampu memastikan kehancuran sekitar sepertiga (33 persen) dari total persenjataan rudal dan drone milik Iran. Hal ini terbukti dengan masih masifnya serangan balasan yang menyasar aset-aset strategis AS di kawasan Teluk.
Baru-baru ini, serangan rudal terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi dilaporkan melukai sedikitnya 12 tentara AS, dengan dua di antaranya dalam kondisi kritis. Tak hanya militer, infrastruktur sipil seperti Bandara Internasional Kuwait juga mengalami kerusakan radar yang parah akibat serangan drone, memicu kekacauan jadwal penerbangan internasional di kawasan tersebut.
Secara geopolitik, ancaman paling menakutkan adalah penutupan rute maritim komersial. Jika Selat Hormuz telah ditutup hampir total oleh Iran, maka ancaman Houthi di Selat Bab al-Mandab akan melengkapi pengepungan jalur energi dunia.
Selat Bab al-Mandab adalah pintu masuk menuju Laut Merah dan Terusan Suez.
Jika jalur antara Yaman dan Tanduk Afrika ini benar-benar dikunci, harga komoditas global—mulai dari minyak hingga barang kebutuhan pokok diprediksi akan melonjak ke level ekstrem yang belum pernah terlihat sebelumnya. Situasi ini juga berisiko menyeret Arab Saudi ke dalam konfrontasi langsung jika jalur ekspor pipa minyak mereka di Laut Merah turut terganggu oleh aksi militer Houthi.
Di tengah kebuntuan militer, Pakistan mencoba mengambil peran sebagai mediator regional. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengumumkan akan menjadi tuan rumah pertemuan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir pada Senin besok di Islamabad.
Namun, banyak analis yang skeptis terhadap pertemuan ini karena tidak melibatkan pihak-pihak yang bertikai secara langsung (Iran, AS, dan Israel). Meski demikian, Pakistan berhasil mengamankan kesepakatan terbatas dengan Teheran, di mana Iran mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan untuk melintasi selat secara bertahap.
Peneliti dari think tank ternama Chatham House, Farea Al-Muslimi, menilai situasi ini sebagai eskalasi paling mengkhawatirkan bagi infrastruktur ekonomi vital di seluruh kawasan Teluk.
“Keputusan Houthi untuk bergabung dalam konflik ini menandai eskalasi yang sangat serius. Dampak potensial terhadap rute maritim komersial utama, terutama di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, sama sekali tidak bisa diremehkan. Dunia harus bersiap menghadapi gangguan rantai pasok yang masif,” jelas Al-Muslimi.
Kini, perhatian dunia tertuju pada apakah langkah diplomatik di Islamabad mampu meredam ketegangan, ataukah kehadiran militer Houthi di Laut Merah akan benar-benar mengunci pasokan energi global dan memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan tersebut.





