Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Guncang Gedung Putih! Jutaan Rakyat AS Turun ke Jalan Desak Trump Hentikan Perang di Iran 

Wamanews.id, 30 Maret 2026 – Gelombang kemarahan rakyat Amerika Serikat (AS) kini mencapai puncaknya. Pada Sabtu, 28 Maret 2026 waktu setempat, jutaan warga Negeri Paman Sam melumpuhkan jalan-jalan utama di berbagai kota besar dalam sebuah demonstrasi kolosal bertajuk “No Kings”.

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa; ini adalah salah satu pergerakan massa terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat. Ribuan titik lokasi di 50 negara bagian dipenuhi lautan manusia yang menuntut satu hal utama: penghentian segera keterlibatan militer AS dalam konflik bersenjata di Iran.

Berdasarkan data yang dirilis oleh koalisi penyelenggara No Kings, jumlah partisipan yang turun ke jalan mencapai angka yang sangat fantastis. Awalnya diperkirakan mencapai 1,8 juta orang, namun data terbaru menunjukkan keterlibatan sedikitnya 8 juta peserta yang tersebar di lebih dari 3.300 lokasi unjuk rasa.

“Kami mencatat 8 juta peserta yang hadir, dan kami menargetkan lebih dari 9 juta partisipan hingga aksi ini berakhir,” ujar salah satu perwakilan penyelenggara Koalisi No Kings, sebagaimana dikutip pada Minggu (29/3/2026).

Skala demonstrasi ini dinilai sebagai fenomena langka yang menunjukkan betapa dalamnya jurang ketidakpuasan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini. Pusat-pusat pemerintahan, mulai dari Washington D.C. hingga New York dan Los Angeles, dilaporkan mengalami kemacetan total akibat massa yang terus berdatangan.

Seruan paling lantang yang terdengar di setiap sudut aksi adalah “End this war!” atau “Hentikan perang ini!”. Slogan tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump yang dinilai terlalu agresif.

Sebagaimana diketahui, ketegangan militer antara AS-Israel melawan Iran telah memasuki pekan keempat. Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa di medan perang, tetapi juga memicu ketidakpastian global yang luar biasa. Rakyat Amerika tampaknya mulai lelah menjadi “polisi dunia” di saat kondisi domestik mereka sendiri sedang tidak baik-baik saja.

Pengamat politik menilai, demonstrasi “No Kings” adalah akumulasi dari berbagai kekecewaan yang telah lama terpendam. Setidaknya ada empat faktor utama yang melatarbelakangi gelombang protes ini:

  • Eskalasi Militer di Timur Tengah: Serangan militer berkelanjutan terhadap Iran yang dianggap tidak memiliki urgensi bagi keamanan nasional AS.
  • Kebijakan Imigrasi Agresif: Langkah-langkah domestik terkait penanganan imigran yang dinilai melanggar hak asasi manusia dan memicu polarisasi sosial.
  • Krisis Ekonomi dan Harga Energi: Lonjakan harga minyak dunia akibat blokade Selat Hormuz telah memicu inflasi hebat. Harga kebutuhan pokok di Amerika Serikat melambung tinggi, membuat daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah merosot tajam.
  • Anjloknya Tingkat Kepuasan Publik: Popularitas pemerintahan Trump berada di titik terendah seiring dengan kebijakan-kebijakan yang dinilai kontroversial dan kurang transparan.

Dunia kini menyoroti bagaimana Presiden Trump akan merespons tekanan masif dari rakyatnya sendiri. Jika aspirasi jutaan demonstran ini tidak segera diakomodasi, dikhawatirkan stabilitas politik internal AS akan semakin goyah, yang pada gilirannya dapat memperburuk krisis ekonomi global.

Bagi banyak pihak, aksi “No Kings” adalah peringatan keras bahwa demokrasi Amerika sedang berada di persimpangan jalan. Rakyat menuntut agar pemerintah lebih fokus pada pemulihan ekonomi dalam negeri ketimbang menghabiskan triliunan dolar untuk mesin perang di luar negeri.

Hingga berita ini diturunkan, massa dikabarkan masih terus bertahan di beberapa titik strategis, termasuk di depan Gedung Putih dan gedung-gedung pemerintahan negara bagian. Dunia menunggu, apakah gema “End This War” akan mampu menghentikan deru mesin perang di Timur Tengah.

Penulis

Related Articles

Back to top button