Bone Krisis BBM! Jelang Lebaran 2026, Pertalite dan Solar Kosong di Sejumlah SPBU

Wamanews.id, 19 Maret 2026 – Kabar kurang sedap menyelimuti persiapan warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, dalam menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026. Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat untuk keperluan mudik dan logistik lebaran, pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar justru dilaporkan mengalami kelangkaan parah di sejumlah titik strategis.
Pantauan tim di lapangan pada Rabu (18/3/2026) menunjukkan pemandangan yang kontras di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Beberapa lokasi tampak lengang karena stok benar-benar kosong, sementara lokasi lainnya justru disesaki antrean kendaraan yang mengular hingga ke bahu jalan.
Krisis pasokan ini merata di hampir seluruh wilayah Kabupaten Bone. Di SPBU Kecamatan Lamuru, aktivitas pengisian BBM subsidi terhenti total sejak siang hari. Tidak ada antrean kendaraan di jalur Pertalite maupun Solar karena papan informasi dengan jelas menunjukkan bahwa stok sedang dalam perjalanan atau habis.
Kondisi yang sedikit berbeda namun tetap mengkhawatirkan terlihat di SPBU Kecamatan Lappariaja. Di sini, stok Solar dilaporkan sudah ludes, sementara antrean untuk mendapatkan Pertalite masih berlangsung sangat panjang hingga malam hari. Situasi serupa juga terjadi di SPBU Taccipi, Kecamatan Ulaweng. Para sopir truk dan kendaraan diesel terpaksa gigit jari karena Solar kosong, dan hanya tersedia Dexlite yang harganya jauh lebih mahal.
Sementara itu, di pusat kota Watampone, tepatnya di SPBU Jalan Agus Salim, antrean justru didominasi oleh kendaraan yang terpaksa beralih ke Pertamax. Hal ini terjadi akibat stok Pertalite yang sudah kosong sejak pagi. Untuk jenis Solar, petugas menyebutkan bahwa stok terakhir sudah habis sejak Selasa (17/3/2026).
Ketidakpastian jadwal pengiriman dari Pertamina menjadi faktor utama kegelisahan para pengelola SPBU. Salah seorang petugas operasional SPBU mengungkapkan bahwa meskipun ada jadwal masuk untuk Pertalite pada Kamis (19/3), jumlahnya sangat jauh dari kebutuhan ideal menjelang lebaran.
“Ada Pertalite masuk besok, tapi hanya 8 ton. Mungkin kondisinya sama di semua SPBU. Jumlah itu sangat sedikit, apalagi arus mudik sedang kencang-kencangnya. Paling hanya bertahan dua atau tiga hari sudah habis lagi,” ungkapnya dengan nada pesimis.
Untuk stok Solar, situasinya bahkan lebih tidak menentu. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai kapan armada pengangkut Solar akan tiba di Bumi Arung Palakka tersebut.
Kelangkaan ini tentu menjadi beban berat bagi warga lokal maupun para pemudik yang melintasi Bone. Winardi, warga Desa Mamminasae, menuturkan bahwa kepadatan di SPBU saat ini didominasi oleh kendaraan dari luar daerah yang tengah melakukan perjalanan mudik.
“Yang banyak antre itu orang luar daerah. Mungkin mereka mau mudik, jadi butuh bensin banyak. Kalau warga kampung sendiri malah kurang, tapi tetap kena imbasnya karena sulit dapat jatah,” kata Winardi.
Di sisi lain, muncul kecurigaan dari masyarakat mengenai adanya praktik penimbunan BBM oleh oknum tidak bertanggung jawab. Yusuf, warga Jalan Pisang, Watampone, merasa heran mengapa stok BBM bisa habis dalam waktu yang sangat singkat.
“Pertalite tidak ada sama sekali di kota. Terpaksa beli Pertamax, itu pun tetap harus antre panjang. Saya curiga ada yang menampung (menimbun) ini dalam jumlah banyak, masa baru dua hari masuk stok sudah habis?” keluhnya dengan penuh rasa kecewa.
Kabupaten Bone merupakan salah satu wilayah transit utama di Sulawesi Selatan bagi warga yang hendak menuju wilayah Luwu Raya maupun Sulawesi Tenggara. Jika kendala distribusi BBM ini tidak segera ditangani oleh pihak otoritas terkait, dikhawatirkan akan terjadi penumpukan kendaraan yang luar biasa pada puncak arus mudik mendatang.
Masyarakat kini berharap adanya langkah nyata dari Pemerintah Daerah dan Pertamina untuk menambah kuota distribusi ke wilayah Bone. Tanpa adanya intervensi cepat, perayaan Idulfitri yang seharusnya penuh sukacita terancam terganggu oleh krisis energi yang mencekik mobilitas warga.







