Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Sebaran Titik Api Meluas di Indonesia, BMKG Catat 1.297 Hotspot

Wamanews.id, 21 Oktober 2026 – Peta sebaran titik api di Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Citra satelit terbaru memperlihatkan ribuan titik panas menyebar dari Pulau Sumatera hingga Papua, mengindikasikan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas di berbagai daerah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam keterangannya pada Jumat (16/10/2026) mengungkapkan hasil pemantauan terbaru.

“Berdasarkan hasil pemantauan pada 14 Oktober 2026, teridentifikasi 1.297 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Dari total 1.297 titik tersebut, persebarannya masih terkonsentrasi di pulau-pulau besar. Sumatera menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 505 titik, diikuti Kalimantan dengan 346 titik, serta kawasan Papua dan Maluku secara gabungan mencatatkan 330 titik. Sementara Sulawesi terpantau 66 titik, Nusa Tenggara 38 titik, dan Jawa 12 titik.

BMKG menegaskan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius. “Sebaran titik panas dan asap tersebut menunjukkan bahwa potensi karhutla masih menjadi perhatian, khususnya pada wilayah yang mengalami defisit hujan dan memiliki kondisi vegetasi yang kering,” jelas BMKG.

Data yang lebih komprehensif dirilis oleh Kementerian Kehutanan melalui SiPongi. Sepanjang 1 hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 12.183 deteksi titik panas berkepercayaan tinggi di 33 provinsi. Provinsi Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dengan 3.268 titik, disusul Papua Selatan 2.921 titik dan Sumatera Selatan 2.376 titik.

Dampak dari meluasnya titik api ini telah dirasakan masyarakat. Pemantauan citra satelit Himawari pada 15 Oktober pukul 13.00 WIB menunjukkan asap menyebar di sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di beberapa daerah, kualitas udara memburuk drastis. Di Kota Palembang, hasil observasi BMKG pada 12 Oktober 2026 memperlihatkan kepekatan partikel PM2.5 telah menembus level berbahaya, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Jumlah titik panas tidak selalu menggambarkan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar, sebab satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.

Meski demikian, ada tren positif dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pemantauan SiPongi hingga Senin, 19 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 487 hotspot high confidence. Jumlah tersebut turun 617 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 1.104 hotspot.

Kementerian Kehutanan menegaskan operasi darat dan udara, verifikasi lapangan, serta pembasahan dan pendinginan tetap diperkuat untuk memastikan api dan bara benar-benar terkendali, terutama di enam provinsi prioritas karhutla seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Penulis

Related Articles

Back to top button