Kualitas Udara Sulsel Memburuk! BMKG Ungkap Asap Karhutla Kalimantan Jadi Pemicunya

Wamanews.id, 3 Oktober 2026 – Kualitas udara di Kota Makassar dan sekitarnya dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir. Konsentrasi partikel halus PM2,5 terpantau masuk kategori tidak sehat hingga sedang.
Berdasarkan data BMKG, angka PM2,5 di wilayah pemantauan Maros pada Sabtu (3/10/2026) tercatat 55,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut sudah melampaui ambang batas aman untuk kesehatan.
Prakirawan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut kualitas udara buruk terutama terjadi di Maros dan Makassar.
“Jadi berapa hari ini terpantau kualitasnya untuk indikator PM2,5 Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar, itu masuk dalam kategori tidak sehat hingga sedang,” kata Asriani, Sabtu (3/10).
Asriani merinci, udara tidak sehat dominan terjadi pada malam hingga pagi hari. Puncak polusi terjadi pada dini hari, tengah malam, hingga menjelang siang.
“Tadi ini terpantau sampai jam 11. Nah, pas jam 12 itu sudah kembali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyebab utama memburuknya kualitas udara adalah kiriman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar Sulawesi. Asap tersebut terbawa angin menuju wilayah Sulsel.
“Penyebabnya itu kebanyakan dari kebakaran, asap kebakaran hutan. Dilihat dari gambar peta sebarannya, di Kalimantan pusatnya,” papar Asriani.
Berdasarkan pantauan Automatic Weather Station (AWS), angin di Sulsel saat ini umumnya bertiup dari arah barat. Kondisi ini membuat asap karhutla dari Kalimantan lebih mudah terbawa masuk ke Makassar.
Selain dari barat, Asriani menyebut asap juga berpotensi datang dari timur. Jika angin bertiup dari timur, sumber asap berasal dari karhutla di Papua dan Maluku.
“Jadi ada dua, kalau arah timuran bisa saja asap karhutlanya dari Papua Maluku, sedangkan kalau tiba-tiba anginnya berubah haluan dari barat kemungkinan yang Kalimantan masuk, karena kan lebih dekat,” jelasnya.
BBMKG memprediksi kondisi udara tidak sehat masih akan berlangsung beberapa hari ke depan. Hal ini karena titik panas (hotspot) di Kalimantan masih sangat kuat dan belum mereda.
“Mungkin beberapa hari ke depan masih sama, karena masih kuat sekali titik hotspotnya di Kalimantan, belum mereda,” pungkas Asriani.
Ia mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas luar ruangan terutama pada dini hari hingga pagi menjelang siang saat polusi berada di titik tertinggi.







