Waspada, Kebiasaan Mengempeng Ternyata Bisa Ubah Bentuk Rahang Anak

Wamanews.id, 8 September 2026 – Penggunaan empeng atau pacifier kerap menjadi senjata andalan bagi para orang tua untuk menenangkan bayi yang sedang rewel atau sulit tidur. Isapan lembut pada empeng memang dapat memberikan rasa nyaman dan efek rileks bagi si kecil. Namun, kebiasaan mengempeng yang dibiarkan terus-menerus hingga usia balita ternyata menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Selama ini, sebagian besar orang tua hanya mengetahui bahwa dampak buruk empeng berkisar pada struktur pertumbuhan gigi anak yang menjadi tonggos atau tidak rapi. Padahal, para ahli kesehatan gigi anak dan ortodontis mengingatkan bahwa bahaya kebiasaan empeng berkepanjangan jauh melampaui masalah susunan gigi, yakni dapat memengaruhi perkembangan struktur rahang anak secara permanen.
Saat seorang bayi atau balita mengisap empeng, terdapat tekanan mekanis berulang yang bekerja di dalam rongga mulut. Dorongan dari dot empeng serta gerakan otot-otot pipi dan lidah saat mengisap dapat mengubah arah tumbuh kembang tulang rahang yang masih sangat lentur dan elastis.
Berikut adalah beberapa gangguan struktur rahang dan mulut yang dapat terjadi akibat penggunaan empeng dalam jangka panjang:
- Penyempitan Lengkung Rahang Atas: Tekanan dari otot pipi yang bekerja ekstra saat mengisap empeng dapat menyebabkan rahang atas menjadi lebih sempit dan membentuk lengkungan yang tinggi (gothic palate). Kondisi ini membuat ruang untuk pertumbuhan gigi permanen di masa depan menjadi sangat terbatas.
- Gigitan Silang (Crossbite): Akibat penyempitan rahang atas, hubungan antara rahang atas dan rahang bawah menjadi tidak sejajar. Hal ini memicu timbulnya crossbite atau gigitan silang, di mana gigi atas tidak berada di luar gigi bawah saat mulut dikatupkan.
- Gigitan Terbuka (Open Bite): Kebiasaan mengisap dot empeng yang mengganjal di antara gigi depan dapat mencegah rahang atas dan bawah bertemu secara sempurna. Kondisi open bite ini membuat gigi depan atas dan bawah tetap terbuka meskipun mulut sudah mengatup.
- Perubahan Pola Menelan dan Bicara: Perubahan bentuk rahang dan posisi gigi akibat empeng juga berdampak pada cara anak menempatkan lidahnya. Hal ini berpotensi memicu gangguan artikulasi saat anak belajar berbicara serta kesulitan saat mengunyah makanan keras.
Para dokter spesialis kedokteran gigi anak menyarankan agar penggunaan empeng mulai dibatasi secara bertahap sejak anak berusia satu tahun. Proses penghentian total (weaning) idealnya sudah diselesaikan sebelum anak menginjak usia dua hingga tiga tahun.
Apabila kebiasaan mengempeng berhasil dihentikan sebelum usia dua tahun, perubahan ringan pada struktur rahang dan susunan gigi biasanya masih dapat membaik secara alami seiring dengan pertumbuhan tulang anak. Namun, jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia empat tahun ke atas di mana gigi susu sudah lengkap dan bakal gigi permanen mulai terbentuk maka perubahan pada tulang rahang cenderung menjadi permanen dan memerlukan perawatan ortodontik yang kompleks di kemudian hari.
Menghentikan kebiasaan mengempeng memang bukan perkara mudah dan membutuhkan kesabaran ekstra dari orang tua. Beberapa langkah bertahap yang dapat diterapkan di rumah antara lain:
- Batasi Penggunaan Secara Bertahap: Mulailah membatasi empeng hanya pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya saat anak hendak tidur malam, dan hilangkan empeng di siang hari.
- Gantikan dengan Benda Kenyamanan Lain: Alihkan perhatian anak saat rewel dengan memberikan boneka kesayangan, selimut lembut, atau ajak bermain interaktif.
- Berikan Pujian dan Edukasi: Berikan apresiasi positif atau hadiah kecil ketika anak berhasil melewati hari tanpa mengisap empeng.
- Konsultasi ke Dokter Gigi: Jika anak sangat sulit melepaskan empeng, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gigi anak guna mendapatkan arahan serta pemeriksaan struktur rahang sedini mungkin.





