Mata Air Waetuwo Tak Pernah Kering, Jadi Andalan Warga Lintas Kecamatan Selama Puluhan Tahun

Wamanews.id, 17 Juli 2026 – Di balik rindangnya pepohonan di Desa Waetuwo, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, terdapat sebuah mata air alami yang hingga kini masih menjadi sumber kehidupan masyarakat. Mata air yang keluar langsung dari celah bebatuan tersebut telah dimanfaatkan sejak puluhan tahun silam dan terus mengalir hingga sekarang. Kejernihan airnya membuat masyarakat tetap mempercayai sumber air ini untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat setempat, mata air ini bukan hanya memiliki manfaat sebagai sumber air bersih, tetapi juga memiliki nilai sejarah. Warga menyebutkan bahwa nama Desa Waetuwo diambil dari keberadaan mata air tersebut. Sejak dahulu, mata air ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehingga namanya kemudian melekat sebagai identitas desa yang dikenal hingga saat ini.
Sejak puluhan tahun lalu, mata air Waetuwo dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari mencuci pakaian, memasak, hingga sebagai air minum. Meski saat ini telah tersedia sumber air lain, sebagian masyarakat tetap memilih mengambil air di lokasi tersebut karena dinilai jernih dan memiliki kualitas yang baik.
Salah seorang warga, Husna (34), mengaku telah menggunakan mata air tersebut sejak masih kecil. Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan air keluarganya dahulu bergantung pada mata air tersebut dan kebiasaan itu masih terus dilakukan hingga sekarang.
“Air ini sudah kami gunakan lama. Dari kecil kami sering ke sini ambil air. Kami pakai untuk masak beras, mencuci, bahkan langsung diminum. Sampai sekarang masih kami gunakan,” ujar Husna saat ditemui di lokasi.
Husna juga menceritakan pengalaman yang selama ini dipercaya oleh masyarakat. Menurutnya, jika air dari mata air Waetuwo digunakan untuk memasak beras, nasi yang dihasilkan dapat bertahan hingga dua hari tanpa cepat basi.
“Kalau pakai air dari sini untuk masak beras, biasanya nasi bisa tahan sampai dua hari. Dari dulu memang begitu yang kami rasakan,” tambahnya.
Tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Waetuwo, mata air tersebut juga menjadi tujuan warga dari daerah lain. Seorang warga mengatakan, banyak masyarakat dari desa lain bahkan lintas kecamatan yang datang membawa jeriken maupun ember untuk mengambil air sebagai persediaan di rumah.
“Bukan cuma orang sini yang pakai. Banyak juga yang datang dari kecamatan lain karena mereka percaya kualitas air di sini bagus,” ungkapnya.
Selain dikenal sebagai sumber air yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun, mata air Waetuwo juga pernah dikaitkan dengan praktik-praktik tertentu pada masa lalu. Warga menuturkan bahwa dahulu pernah ada orang yang datang membawa sesaji untuk berdoa di sekitar mata air tersebut. Namun, kebiasaan itu kini telah dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat. Sebagai bentuk penegasan, di sekitar lokasi telah dipasang spanduk berisi imbauan agar masyarakat tidak meletakkan sesaji di area mata air.
Meski telah menjadi sumber kehidupan masyarakat selama puluhan tahun, kondisi di sekitar mata air masih memerlukan perhatian. Di beberapa sudut lokasi masih terlihat sampah seperti bungkus sabun, sampo, dan limbah rumah tangga lainnya yang ditinggalkan oleh sebagian pengguna.
Menanggapi kondisi tersebut, warga berharap seluruh masyarakat yang datang memanfaatkan mata air Waetuwo memiliki kesadaran untuk ikut menjaga kebersihan kawasan tersebut.
“Harapan kami, siapa pun yang datang mengambil air di sini supaya sama-sama menjaga kebersihan. Jangan buang sampah sembarangan, karena mata air ini sudah dimanfaatkan sejak dulu oleh masyarakat.” Ujar salah seorang warga.







