Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Bawa Rapor Merah Kebijakan, Ini 5 Tuntutan BEM UI dalam Aksi ‘Menuju Indonesia Bangkrut’

Wamanews.id, 12 Juni 2026 – Gerakan mahasiswa kembali menggeliat di ibu kota negara. Sebelum turun ke jalan memadati ruang publik, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) terlebih dahulu menyampaikan seruan terbuka secara masif kepada seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat luas. Seruan ini dimaksudkan untuk bersama-sama menyuarakan berbagai persoalan kebangsaan yang dinilai tengah berada dalam kondisi kritis.

Gerakan moral yang diberi tajuk cukup menyengat, yakni ‘Aksi Menuju Indonesia Bangkrut’, tersebut rencananya dipusatkan di kawasan ikonik Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Tidak sekadar mengkritisi stabilitas kondisi ekonomi makro, kelompok mahasiswa ini juga membawa sejumlah tuntutan fundamental yang berkaitan erat dengan arah kebijakan pemerintah serta orientasi pembangunan nasional saat ini.

Ajakan terbuka untuk mengikuti aksi demonstrasi ini disebarluaskan secara resmi melalui unggahan akun media sosial Instagram milik BEM UI. Dalam manifesto digital tersebut, pengurus kelembagaan mahasiswa mengajak seluruh sivitas akademika Universitas Indonesia beserta masyarakat sipil untuk menggunakan hak demokratis mereka dalam menyampaikan aspirasi secara langsung di muka umum.

“AYO TURUN! JUMAT, 12 JUNI 2026. Halo, UI dan Indonesia! Sudah hampir 2 tahun memporak-porandakan negara. Rupiah naik diremehkan, HAM tidak dihiraukan, program tidak jelas dilanjutkan. 

MARI, KITA TURUN DAN GUNAKAN HAK KITA SEBAGAI RAKYAT!,” bunyi penggalan narasi dalam unggahan tegas BEM UI tersebut.

BEM UI menganggap berbagai rentetan persoalan tata kelola negara belakangan ini telah menimbulkan keresahan yang mendalam di tengah masyarakat. Mereka menilai rakyat sudah terlalu lama dipaksa menahan tekanan beban hidup akibat rentetan kebijakan yang dinilai kontradiktif.

Aksi demonstrasi ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, dengan titik mula pergerakan sejak pukul 10.00 WIB. Sebelum bertolak menuju titik pusat di Bundaran HI, massa mahasiswa UI terlebih dahulu melakukan konsolidasi di internal kampus. Mahasiswa secara umum dijadwalkan berkumpul di Lapangan FISIP UI, sementara mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI dihimpun di depan Koperasi Gedung A FEB UI. Para peserta aksi diinstruksikan untuk mengenakan pakaian berwarna hitam yang dipadukan dengan jaket almamater kuning sebagai identitas resmi perjuangan.

Tabel: 5 Tuntutan Utama BEM UI dalam Aksi ‘Menuju Indonesia Bangkrut’

NoPoin Tuntutan ResmiPokok Masalah yang Dikritisi
1Hentikan Pemborosan APBNMenuntut tata kelola anggaran yang lebih efisien dan tepat sasaran.
2Turunkan Harga Kebutuhan Pokok & BBMKenaikan harga pangan dan lonjakan Pertamax di atas 30 persen per 10 Juni.
3Hentikan Program MBG & Koperasi DesaSorotan kasus korupsi mantan Kepala BGN dan masalah dana anggaran desa.
4Tolak Militerisme di Ranah SipilMenolak perluasan fungsi militer di birokrasi, pemerintahan, dan pendidikan.
5Minta Presiden Akui KesalahanMendesak Presiden Prabowo bersikap terbuka dan tidak menghindari kritik.

Fokus utama dari pergerakan ini berpusat pada sektor ekonomi domestik, khususnya terkait meroketnya harga kebutuhan pokok yang dinilai menggerus daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Mahasiswa menuntut pemerintah mengambil langkah nyata untuk menurunkan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, telur, gula, hingga daging. Masalah ini diperparah oleh kebijakan Pertamina yang per 10 Juni 2026 resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dengan persentase lonjakan yang disebut mencapai lebih dari 30 persen.

Selain itu, program strategis nasional yang digagas pemerintah ikut menjadi sasaran kritik tajam. BEM UI mendesak penghentian total Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta megaproyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Sektor MBG mendapat rapor merah menyusul mencuatnya kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana. Sementara proyek Koperasi Desa Merah Putih dinilai membebani keuangan desa serta tidak berjalan optimal di lapangan.

Di sisi demokrasi dan tata kelola pemerintahan, mahasiswa menggarisbawahi kekhawatiran atas meluasnya fenomena militerisme di ranah sipil, di mana unsur militer mulai merambah masuk ke sektor birokrasi, jabatan pemerintahan, hingga institusi pendidikan. Sebagai penutup, tuntutan kelima diarahkan langsung kepada pucuk pimpinan nasional. BEM UI mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk secara ksatria mengakui berbagai kegagalan dari kebijakan pemerintahannya serta membuka ruang evaluasi yang lebar tanpa menghindari kritik dari publik. 

Penulis

Related Articles

Back to top button