Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Football

Laga Panas Berujung Ricuh! Kronologi Kericuhan di Stadion BJ Habibie Usai Persib Bungkam PSM

Wamanews.id, 18 Mei 2026 – Pertandingan tensi tinggi pada pekan ke-33 Liga Super Indonesia 2025/2026 yang mempertemukan PSM Makassar melawan Persib Bandung berakhir dramatis. Bertanding di Stadion Gelora BJ Habibie, Kota Parepare, pada Minggu (17/5/2026) malam, tim tamu Persib Bandung berhasil mencuri poin penuh lewat kemenangan tipis 2-1. Sayangnya, euforia laga besar ini harus tercoreng oleh aksi kericuhan sesaat setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Atmosfer panas sejatinya sudah menyelimuti laga klasik ini bahkan sebelum kick-off dimulai. Di jagat maya, jagat media sosial sempat dihebohkan dengan viralnya foto spanduk psywar yang dipasang oleh oknum suporter tuan rumah di sudut kota yang bertuliskan, “Kota Ini Bukan Tempat Selebrasi.” Spanduk tersebut seolah menjadi penegas rivalitas sengit kedua tim papan atas ini.

Guna mengantisipasi gesekan, aparat kepolisian telah menerapkan skema pengamanan ketat. Sebanyak 410 suporter Persib Bandung (Bobotoh) yang bertandang menggunakan armada bus dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dikawal ketat oleh personel kepolisian. Demi menjaga kondusivitas Kota Parepare, mereka dilarang melakukan konvoi di jalan-jalan protokol.

Tidak hanya itu, para Bobotoh juga dilarang keras mengenakan atribut khas klub seperti syal, jaket, maupun bendera di dalam area stadion. Mereka hanya diizinkan memakai kaus polos berwarna putih dan ditempatkan membaur di tribun penonton. Namun, pengetatan ini justru menjadi pelecut semangat tim tamu.

“Spanduk itu justru membuat kami semakin termotivasi. Kami datang untuk mendukung tim, dan kami pulang dengan kemenangan,” ujar salah satu koordinator Bobotoh yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Petaka dimulai sesaat setelah laga usai dengan kemenangan dramatis Maung Bandung. Berdasarkan kesaksian penonton di lokasi, ketegangan pertama kali terpicu ketika sejumlah oknum suporter Persib kompak menyalakan flare (suar) di beberapa titik tribun. Asap pekat dari flare tersebut langsung membumbung tinggi, mengaburkan jarak pandang di dalam stadion.

Hanya berselang beberapa detik, situasi di lapangan berubah mencekam. Sejumlah oknum suporter PSM Makassar berpakaian hitam dari arah Tribun Selatan nekat melompati pagar pembatas dan menginvasi area lapangan. Mereka bergerak agresif berusaha mendekati para pemain Persib Bandung yang tengah merayakan kemenangan di tengah lapangan.

Kericuhan kian meluas dan tak terkendali sewaktu terjadi aksi pelemparan botol air mineral ke arah Tribun VIP Utara. Situasi ini memancing emosi kelompok suporter lain hingga suasana stadion mendadak menjadi sangat tidak kondusif. Meski Master of Ceremony (MC) pertandingan berulang kali meneriakkan imbauan agar massa tenang dan berhenti merusak fasilitas, peringatan tersebut sama sekali tidak diindahkan. Oknum massa terus merangsek hingga ke area bangku cadangan (bench) pemain dan pintu keluar stadion, memaksa petugas mengevakuasi penonton anak-anak dan wanita ke tempat aman.

Kondisi perlahan mulai dapat dikendalikan setelah pihak kepolisian menebalkan personel pengamanan di titik-titik krusial serta mengamankan sejumlah oknum yang diduga kuat bertindak sebagai provokator kerusuhan.

Kapolres Parepare menyampaikan apresiasinya kepada mayoritas pendukung Persib yang dinilai tetap kooperatif sepanjang laga, sembari menegaskan akan mengusut tuntas dalang keributan. “Mayoritas suporter Persib cukup kooperatif. Hanya segelintir orang yang nekat memicu keributan. Kami akan proses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Kapolres.

Insiden memilukan di Parepare ini menambah panjang daftar kelam masalah keamanan yang membayangi kubu Persib Bandung. Pasalnya, sebelum insiden ini terjadi, Maung Bandung baru saja dijatuhi sanksi berat oleh federasi tertinggi sepak bola Asia (AFC) berupa denda fantastis sebesar 200 ribu dolar AS atau setara hampir Rp3,5 miliar, akibat kerusuhan saat menjamu Ratchaburi FC di ajang AFC Champions League Two.

Kejadian ini menjadi tamparan keras sekaligus peringatan penting bagi PT LIB, PSSI, serta seluruh manajemen klub bahwa manajemen penanganan suporter dan mitigasi keamanan stadion masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang belum usai demi menjaga murka dan citra sepak bola Indonesia di mata dunia. 

Penulis

Related Articles

Back to top button