Badai Merah di Akhir Pekan! IHSG Anjlok 3,38 Persen ke Level 7.129, 670 Saham Rontok

Wamanews.id, 25 April 2026 – Pasar modal Indonesia harus menutup pekan keempat April 2026 dengan catatan kelam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan tajam yang cukup mengejutkan pelaku pasar pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Aksi jual masif yang dilakukan oleh investor membuat indeks kebanggaan nasional ini terlempar jauh dari level psikologisnya.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG resmi ditutup merosot ke level 7.129. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 249,11 poin atau setara dengan 3,38 persen dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi harian terdalam yang tercatat sepanjang semester pertama tahun 2026.
Koreksi tajam ini disertai dengan intensitas perdagangan yang sangat tinggi. Nilai transaksi harian tercatat menembus angka Rp24,33 triliun, dengan volume saham yang berpindah tangan mencapai 47,12 miliar lembar saham. Tingginya nilai transaksi di tengah penurunan indeks mengindikasikan adanya tekanan jual yang agresif (heavy selling pressure), di mana investor cenderung melakukan langkah penyelamatan modal atau rebalancing portofolio secara besar-besaran.
Kondisi pasar terlihat sangat timpang. Mayoritas saham yang melantai di bursa berakhir di zona merah. Tercatat sebanyak 670 saham terkoreksi, sementara hanya 83 saham yang mampu bertahan menguat. Sisanya, sebanyak 62 saham bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Pelemahan kali ini tidak hanya terjadi pada saham-saham tertentu, melainkan merata di seluruh sektor industri. Namun, sektor infrastruktur menjadi yang paling menderita. Sektor ini mencatatkan penurunan paling dalam, yakni mencapai 4,03 persen.
Tekanan pada sektor infrastruktur ini mencerminkan sentimen negatif investor terhadap saham-saham berbasis pembangunan, konstruksi, dan layanan publik. Para analis menilai, koreksi di sektor ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap biaya operasional dan prospek pendanaan proyek di tengah fluktuasi ekonomi global yang belum stabil.
Ringkasan Statistik Pasar Saham (Jumat, 24 April 2026)
| Indikator Pasar | Statistik Akhir Sesi | Keterangan |
| Posisi IHSG | 7.129 | Turun 249,11 Poin |
| Persentase Penurunan | 3,38% | Koreksi Tajam |
| Nilai Transaksi | Rp24,33 Triliun | Likuiditas Tinggi |
| Volume Perdagangan | 47,12 Miliar Saham | Dominasi Aksi Jual |
| Jumlah Saham Turun | 670 Saham | Mayoritas Mutlak |
| Sektor Terlemah | Infrastruktur (-4,03%) | Penekan Utama Indeks |
Menariknya, kejatuhan tajam IHSG ini terjadi di saat beberapa bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan ketahanan. Indeks Nikkei 225 di Jepang masih mampu menguat 0,97 persen, dan Hang Sengdi Hong Kong naik tipis 0,24 persen. Namun, sentimen negatif tampaknya lebih menular dari Shanghai Composite China yang turun 0,33 persen dan Straits Times Singapura yang melemah 0,32 persen.
Kondisi di Eropa pun bergerak variatif, di mana indeks DAX Jerman terkoreksi 0,50 persen sementara FTSE 100 Inggris justru menguat 0,73 persen. Namun, bayang-bayang merah dari Wall Street tampaknya menjadi salah satu pemicu utama kecemasan investor di Indonesia. Bursa Amerika Serikat kompak ditutup melemah pada sesi sebelumnya, dengan Nasdaq Composite mencatat penurunan terdalam sebesar 0,89 persen.
Anjloknya IHSG hingga lebih dari 3 persen dalam sehari merupakan sinyal kewaspadaan tinggi. Para pelaku pasar disarankan untuk tidak gegabah melakukan aksi beli di tengah tren penurunan (falling knife) sebelum ada tanda-tanda konsolidasi atau pembalikan arah yang jelas.
Fokus perhatian pasar pada pekan depan kemungkinan besar akan tertuju pada rilis data ekonomi domestik serta perkembangan kebijakan suku bunga global yang terus membayangi aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.





