Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Sorotan Diplomasi Maraton Presiden Prabowo di Tengah Anjloknya IHSG dan Pelemahan Rupiah

Wamanews.id, 1 Juni 2026 – Intensitas kunjungan kerja luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam dua tahun terakhir tengah menjadi sorotan tajam publik. Di satu sisi, pemerintah terus berupaya memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional melalui jalur diplomasi maraton. Namun di sisi lain, kondisi perekonomian domestik sepanjang tahun 2026 ini sedang menghadapi tantangan berat yang ditandai dengan anjloknya pasar saham dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Pihak Istana mengklaim bahwa puluhan rangkaian perjalanan internasional yang dilakukan oleh Kepala Negara merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi diplomasi Indonesia di panggung global. Meski demikian, rekor perjalanan luar negeri ini memicu kedatangan pro dan kontra di masyarakat, terutama ketika disandingkan dengan realitas indikator ekonomi dalam negeri.

Berdasarkan data pergerakan logistik dan agenda kenegaraan resmi yang dirilis baru-baru ini, Presiden Prabowo Subianto mencatatkan mobilitas internasional yang sangat tinggi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun masa jabatannya. Agenda diplomasi maraton tersebut mencatatkan angka yang cukup fantastis:

  • Total Perjalanan Kenegaraan: Tercatat telah dilakukan sebanyak 26 kali perjalanan besar.
  • Total Kunjungan Kerja: Mencapai 58 kali kunjungan ke berbagai destinasi internasional.
  • Cakupan Wilayah Diplomasi: Menjangkau hingga 39 kota berbeda yang tersebar di 29 negara di dunia.

Salah satu titik perjalanan yang terekam kuat dalam lini masa visualisasi data kenegaraan tersebut adalah kunjungan kerja ke St. Petersburg, Rusia, yang berlangsung pada pertengahan Juni 2025 lalu.

Fakta mengenai tingginya intensitas perjalanan luar negeri ini seketika viral setelah akun media sosial @voxnetizens mengunggah visualisasi rute penerbangan sang presiden. Unggahan infografis video tersebut langsung memicu reaksi beragam dan perdebatan sengit dari kalangan warganet (netizen) di kolom komentar.

Kelompok masyarakat yang mendukung menilai bahwa langkah maraton ini sangat penting untuk memperkuat hubungan bilateral, menaikkan nilai tawar Indonesia di mata dunia, serta menarik aliran investasi asing secara langsung (Foreign Direct Investment). Sebaliknya, skeptisisme kuat muncul dari pihak yang mengkritik. 

Sejumlah netizen mempertanyakan urgensi serta tingkat efisiensi anggaran negara yang dihabiskan untuk puluhan perjalanan tersebut. Mereka membandingkannya dengan isu domestik yang dinilai lebih darurat, seperti kesejahteraan guru honorer yang dinilai masih sangat membutuhkan alokasi anggaran belanja negara.

Di tengah gencarnya promosi diplomasi di luar negeri, indikator ekonomi makro Indonesia sepanjang tahun 2026 berjalan justru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sudah anjlok sedalam 28,22%. Menurut CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, dalam acara Stock Idea Festival yang digelar Jumat (23/5/2026), kondisi pasar modal saat ini dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor eksternal yang kompleks.

“Di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, investor dituntut untuk memiliki strategi dan perspektif yang lebih adaptif,” jelas Bernadus Wijaya, menggarisbawahi adanya faktor ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi mata uang, hingga meningkatnya tensi geopolitik di sejumlah kawasan dunia.

Tantangan ini diperparah oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mengalami pelemahan signifikan. Saat ini, posisi mata uang garuda terpantau bergerak rentan di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.880 per dolar AS. Gejolak pasar keuangan global serta situasi geopolitik internasional yang memanas menjadi motor utama yang terus menekan keperkasaan rupiah. Kondisi ini menuntut pemerintah untuk segera menyeimbangkan fokus antara penguatan diplomasi luar negeri dengan penyelamatan stabilitas ekonomi di dalam negeri. 

Penulis

Related Articles

Back to top button