Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Soroti Pidato Presiden Prabowo Soal ‘Asing’, Peneliti ISEAS: Terlalu Obsesif dan Butuh Afirmasi

Wamanews.id, 14 Juli 2026 – Gaya komunikasi politik Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan tajam para akademisi dan peneliti internasional. Peneliti senior dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Made Supriatma, secara khusus mengkritisi kecenderungan sang Kepala Negara yang dinilai terlalu sering mengaitkan dinamika isu-isu domestik di dalam negeri dengan faktor luar negeri atau intervensi asing.

Menurut Made, jika dicermati secara mendalam, terdapat tiga pola atau narasi utama yang konsisten muncul setiap kali Presiden Prabowo berbicara mengenai “asing” dan “luar negeri” dalam berbagai kesempatan pidato resminya.

Dalam ulasan tertulisnya, Made Supriatma menjabarkan tiga pola narasi yang paling sering digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan publik:

1. Narasi “Indonesia Menjadi Korban Konspirasi Asing”

Presiden Prabowo dinilai kerap melempar peringatan tentang adanya kekuatan global yang sengaja menghambat kemajuan Indonesia. Namun, narasi ini dinilai lemah karena tidak pernah menyebutkan nama negara secara spesifik.

“Barusan saja dia pidato bahwa ada negara lain yang tidak senang Indonesia maju. Indonesia negara kaya, tapi ada negara yang berusaha merampok kekayaan Indonesia habis-habisan. Sebab apa? Karena (jika disebut) itu akan membuat krisis diplomatik dan krisis-krisis lain yang tidak perlu,” ujar Made, dikutip pada Selasa (14/7/2026).

2. Narasi “Haus Pujian dan Afirmasi Negara Luar”

Pola kedua adalah klaim sepihak mengenai apresiasi internasional terhadap program kerja andalan pemerintah, seperti pembangunan koperasi dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Made menyayangkan tidak adanya penyebutan eksplisit mengenai pemimpin dunia mana yang melayangkan pujian tersebut, sehingga terkesan sekadar mencari legitimasi emosional.

3. Narasi “Kesejahteraan Petani yang Mampu Berlibur ke Luar Negeri”

Narasi ketiga berkaitan dengan klaim Prabowo yang menyebut tingkat ekonomi petani nasional kini sangat sejahtera hingga mampu bepergian ke luar negeri. Klaim ini disampaikan Prabowo dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 pada Minggu (12/7/2026).

Tabel: Analisis Tiga Pola Komunikasi Politik Presiden Prabowo

Jenis NarasiKlaim Utama PresidenTinjauan Kritis Peneliti (Made Supriatma)
Korban AsingPihak luar negeri merampok dan tidak ingin Indonesia maju.Secara ekonomi, negara asing justru butuh Indonesia makmur sebagai pasar dagang.
Klaim PujianProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) dipuji dunia internasional.Minim bukti konkret dan tidak ada penyebutan nama pemimpin negara yang memuji.
Kesejahteraan PetaniBanyak petani lokal yang kini berlibur ke luar negeri.Bertolak belakang dengan fakta di lapangan; mayoritas petani masih hidup subsisten.

Lebih jauh, Made Supriatma menilai obsesi Prabowo terhadap narasi luar negeri mengindikasikan adanya kebutuhan afirmasi yang sangat tinggi dari lingkaran sekitarnya. Karakter pemimpin yang terus-menerus membutuhkan pengakuan dinilai memiliki kecenderungan kurang sehat dalam mengelola pemerintahan yang demokratis dan teknokratis.

“Seorang pemimpin yang butuh afirmasi terus-menerus tidak membutuhkan orang-orang yang berpikiran rasional, waras, cerdas, atau yang punya keahlian teknokratik. Yang dia butuhkan adalah orang-orang yang memberi afirmasi,” ungkap Made. Kondisi ini dicemaskan akan membuat jajaran kabinet diisi oleh figur-figur yang hanya mencari muka (yes-men) dibanding memberikan kritik solutif.

Ia pun mencontohkan bagaimana respons kepemimpinan saat terjadi gesekan di internal kabinet atau munculnya dugaan penyelewengan. Alih-alih melakukan langkah tegas berupa pemecatan, respons yang keluar justru sebatas imbauan introspeksi. Made juga menyentil isu miring yang mendera sejumlah lembaga, seperti kasus di Badan Gizi Nasional (BGN) serta isu miring di Kantor Komunikasi Kepresidenan.

Di tingkat global, karakter kepemimpinan seperti ini dianggap cukup berisiko. Aktor-aktor diplomasi internasional diyakini dengan mudah membaca celah psikologis tersebut. Negara-negara besar hanya perlu memberikan apresiasi dan afirmasi verbal yang manis kepada presiden jika ingin melancarkan kepentingan bilateral mereka dengan Indonesia.

Penulis

Related Articles

Back to top button