Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Skandal Dapur MBG: Investor Ngaku ‘Orang Prabowo’ Protes ke BGN, Netizen Sindir Gizi Rekening

Wamanews.id, 10 Juni 2026 – Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), kini tengah memasuki babak baru yang penuh dengan dinamika dan sorotan tajam. Badan Gizi Nasional (BGN) dilaporkan sedang gencar melakukan evaluasi besar-besaran terhadap puluhan ribu unit dapur MBG, atau yang secara resmi disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), di berbagai wilayah di Indonesia.

Langkah penertiban ini diambil oleh otoritas terkait guna mendongkrak efisiensi anggaran, mencegah potensi penyelewengan, serta menertibkan kuota dapur yang dinilai sudah terlalu padat di lapangan. Berdasarkan kebijakan terbaru, BGN kini membatasi jumlah operasional maksimal menjadi hanya 6 unit dapur per kecamatan. Pembatasan ini dinilai mendesak mengingat total unit SPPG yang terdaftar secara nasional telah menembus angka fantastis, yakni 27 ribu unit. Imbasnya, ribuan dapur kini dievaluasi secara ketat dan sebagian di antaranya terpaksa dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu.

Namun, gelombang protes yang muncul pasca-diberlakukannya kebijakan pembatasan ini justru melahirkan sebuah anomali di tengah masyarakat. Bukannya anak-anak sekolah selaku kelompok penerima manfaat utama yang merasa kehilangan atau mengeluh, melainkan para mitra dan investor pengelola dapur yang justru melakukan aksi protes keras di kantor BGN.

Para pengusaha tersebut mempertanyakan keberlanjutan dari mega proyek MBG ini, pasca mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, resmi ditahan oleh pihak Kejaksaan Agung (Kejagung). Dalam rekaman video yang viral di berbagai platform media sosial, tampak ketegangan dan adu mulut hebat terjadi antara massa demonstran dengan petugas keamanan yang berjaga.

Seorang pria paruh baya yang berjalan menggunakan kruk penyangga kaki tampak emosional menuntut keadilan atas modal jumbo yang telah mereka korbankan di daerah, terutama di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T). “Selama 7 bulan, kawan-kawan dari daerah membuat dapur seharga miliaran. Sampai detik ini, tidak ada kejelasan! Kami butuh negara hadir!” ujarnya berapi-api di tengah barikade hidup petugas keamanan.

Suasana semakin memanas ketika para investor menegaskan loyalitas politik mereka demi menagih janji pertanggungjawaban dari pemerintah terkait dana operasional yang sudah berjalan di daerah. Mereka menekankan bahwa kehadiran mereka murni menuntut hak bisnis mereka. “Kami butuh pertanggungjawaban, Ibu Nanik sebagai kepala BGN yang baru. Kita sama-sama membela negara ini, kita orang Prabowo juga! Tapi kalau seperti ini, kami minta Pak Prabowo untuk hadir,” tegas salah satu perwakilan investor dalam cuplikan video tersebut.

Tabel: 4 Poin Prioritas Evaluasi BGN di Bawah Kepemimpinan Baru

NoFokus Poin Prioritas EvaluasiTarget Capaian dan Output Kebijakan
1Efisiensi AnggaranMemastikan penggunaan dana negara tidak mengalami pemborosan.
2Ketepatan Sasaran PenerimaMenjamin makanan bergizi benar-benar dikonsumsi oleh anak sekolah.
3Pencegahan PenyelewenganMengaudit operasional mitra dapur agar bersih dari praktik korupsi.
4Transparansi KeuanganMembuka laporan keuangan secara menyeluruh dan akuntabel.

Kondisi ini memicu pertanyaan mendasar di tengah publik, khususnya para netizen di media sosial. Fenomena ini membuat publik sangsi, apakah program ini benar-benar berjalan demi pemenuhan gizi anak-anak, atau justru telah bergeser menjadi ladang bisnis yang menguntungkan segelintir pemain di balik layar.

Unggahan video viral tersebut langsung diserbu oleh beragam komentar sinis dari warganet. Banyak yang menyayangkan bahwa program sosial kemanusiaan ini justru tampak kental dengan motif keuntungan sepihak.

“Aneh ga sih? Tujuan MBG itu untuk anak-anak sekolah. Tapi ketika Dapur MBG dihentikan bahkan kalaupun cuma sementara, yang marah bukan anak-anak… jadi kayak lebih bukan kepada pemenuhan ‘gizi anak’ Tapi lebih ke pemenuhan ‘Gizi rekening’ Ga sih??” tulis akun @azizah.hanum_lpw.

Komentar lain yang tidak kalah menggelitik datang dari akun @anbahudaya yang membeberkan realita di daerahnya, di mana makanan sisa MBG yang tidak habis di sekolah justru berakhir menjadi pakan ternak. “Lah ini yg dipenuhi gizinya malah ayam,” cuapnya. Akun @lilisasiyani ikut menimpali dengan pedas, “Itu artinya yang butuh MBG bukan anak-anak, tapi YANG BUTUH MBG ADALAH PEMILIK DAPUR SPPG.” Sementara akun @suparti23364 bersyukur karena jika program ini mandek, UMKM pedagang kecil seperti cilok dan siomay di depan sekolah bisa kembali laku.

Di sisi lain, ada juga netizen yang mencoba objektif melihat dari sudut pandang para pengusaha kecil yang telanjur menanamkan modal besar akibat perubahan regulasi yang mendadak. “Jangan simplifikasi gitu juga. Mitra itu digandeng pemerintah untuk modalin dapur awal, kalo tiba-tiba kebijakannya berubah ya mumet,” terang akun @masnoors.

Hingga saat ini, proses evaluasi oleh Kepala BGN yang baru, Nanik S. Deyang, dikabarkan terus berjalan ketat demi memastikan keberlanjutan program yang bersih dan transparan.

Penulis

Related Articles

Back to top button