Ekonomi RI Krisis? Menkeu Purbaya: “Siapa yang Bilang? Lihat Saja Macetnya Lebaran Kemarin!”

Wamanews.id, 28 Maret 2026 – Di tengah isu miring mengenai stabilitas ekonomi nasional akibat ketegangan geopolitik dunia, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan menohok. Dengan nada optimis, Purbaya membantah keras anggapan bahwa Indonesia sedang menuju jurang krisis ekonomi.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa indikator di lapangan justru menunjukkan arah yang berlawanan: ekonomi Indonesia sedang “tancap gas”.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran publik mengenai dampak konflik global terhadap daya beli dan harga kebutuhan pokok di dalam negeri pada akhir Maret 2026 ini.
Salah satu parameter paling sederhana namun akurat yang disoroti Menkeu Purbaya adalah aktivitas masyarakat selama periode Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang baru saja berlalu. Menurutnya, fenomena kemacetan parah dan membludaknya pusat perbelanjaan adalah bukti sahih bahwa daya beli masyarakat masih sangat solid.
“Siapa yang bilang krisis? Baru Lebaran kemarin kan? Di mana-mana macet, di semua tempat pada belanja. Artinya daya beli ada dan kalau kita lihat dari indikator-indikator yang ada, ekonomi kita memang sedang gerak lebih cepat,” ujar Purbaya dengan tegas di Jakarta, Jumat (28/3/2026).
Bagi pemerintah, antusiasme warga dalam merayakan Lebaran termasuk di wilayah Sulawesi Selatan yang mencatatkan pergerakan ekonomi tinggi menjadi sinyal positif bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama PDB nasional.
Tak hanya bicara soal fenomena sosial, Bendahara Negara ini juga memaparkan data teknis yang memperkuat argumennya. Purbaya merujuk pada beberapa survei ekonomi yang menunjukkan tren positif dan berada di zona ekspansi.
Beberapa indikator kunci yang disoroti antara lain:
- Indeks PMI Manufaktur: Menunjukkan aktivitas produksi yang terus meningkat.
- Survei Konsumen: Mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
- Penjualan Kendaraan: Adanya lonjakan signifikan pada pembelian mobil dan sepeda motor baru di awal tahun 2026.
“Kan saya lihat dari survei konsumen, survei PMI, survei pembelian mobil, motor. Katanya naik semua kenceng kan? Kalau itu enggak naik, saya enggak bisa bilang ekonomi naik,” tambahnya.
Terkait tekanan eksternal seperti melambungnya harga minyak mentah dunia akibat konflik di Selat Hormuz, Purbaya memastikan pemerintah telah menyiapkan “payung” melalui kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang fleksibel. Tujuannya agar kenaikan harga energi global tidak langsung “menghantam” dapur masyarakat secara mendadak.
Lebih jauh, Menkeu mengungkapkan sebuah proyeksi jangka panjang yang berani. Berdasarkan Leading Economic Index, ia meramalkan Indonesia akan terus berada dalam fase ekspansi setidaknya hingga periode 2029-2030.
“Jadi kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus. Kalau ‘bola kristal’ yang saya bilang, indeks ekonomi kita enggak salah sampai nanti 2029-2030 kita ekspansi terus,” tuturnya.
Optimisme pemerintah ini ternyata diamini oleh sejumlah pakar ekonomi di luar birokrasi. Purbaya menyebutkan bahwa beberapa ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh angka 5,7 persen. Meskipun secara moderat ia menilai angka di atas 5,5 persen sudah sangat luar biasa dalam kondisi dunia yang sedang tidak menentu seperti sekarang.
Untuk mendukung pencapaian tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga likuiditas dalam sistem keuangan, memastikan realisasi belanja negara tepat waktu, serta mempermudah iklim investasi bagi para pelaku usaha.
“Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi, apalagi krisis,” pungkas Purbaya menutup keterangannya.
Dengan pernyataan ini, pemerintah berharap masyarakat dan pelaku usaha dapat tetap tenang dan terus menjalankan aktivitas ekonomi dengan penuh percaya diri.






