Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Timur Tengah Membara! IRGC Buru Netanyahu hingga ke Lubang Jarum, Pangkalan AS Dikepung Drone Maut 

Wamanews.id, 17 Maret 2026 – Gejolak di kawasan Timur Tengah kini memasuki babak paling berbahaya. Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru saja mengeluarkan pernyataan terbuka yang menggegerkan dunia internasional: mereka secara resmi menargetkan nyawa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ancaman ini muncul di hari ke-16 eskalasi militer yang melibatkan konfrontasi langsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Melalui situs resmi mereka, Sepah News, IRGC menegaskan komitmennya untuk menghabisi pimpinan tertinggi Israel tersebut sebagai balasan atas agresi militer yang terjadi selama ini. Pernyataan ini menandai pergeseran retorika dari sekadar serangan balasan militer menjadi penargetan tokoh politik secara spesifik.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (16/3/2026), IRGC secara lantang menyebut Netanyahu dengan sebutan yang sangat keras. Ketegangan verbal ini dibarengi dengan klaim intelijen sepihak yang menyebutkan sang Perdana Menteri telah meninggalkan wilayah Israel.

“Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh,” tegas pihak Garda Revolusi melalui keterangan resminya.

Meski klaim kepergian Netanyahu beserta keluarganya belum dapat dibuktikan secara independen, narasi ini telah berhasil menciptakan tekanan psikologis yang besar di kawasan tersebut.

Tidak hanya menyasar Israel, kekuatan militer Iran juga mulai meluas ke aset-aset strategis Amerika Serikat di kawasan Teluk. Dilaporkan bahwa serangkaian serangan rudal dan drone (pesawat tanpa awak) telah diluncurkan menuju pangkalan militer AS yang tersebar di Irak, Bahrain, dan Kuwait.

Juru bicara komando militer Iran mengklaim bahwa mereka menggunakan teknologi drone tercanggih untuk mencari lokasi persembunyian tentara Amerika. Operasi ini disebut sebagai langkah presisi berdasarkan data intelijen yang dihimpun secara real-time.

Merespons hal tersebut, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi adanya komunikasi dengan pihak Teheran. Namun, Trump menegaskan bahwa tawaran kesepakatan yang diajukan Iran sejauh ini “belum cukup baik” bagi kepentingan Washington. Trump juga menyerukan kepada sekutu dekatnya, seperti Inggris dan Jepang, untuk segera mengirimkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz yang kini dalam status penutupan atau filter ketat oleh pihak Iran.

Saling serang antar-negara pun tak terhindarkan. Dilaporkan bahwa angkatan udara AS dan Israel telah melakukan serangan udara ke beberapa lokasi strategis di Provinsi Isfahan, Iran. Sebagai serangan balasan, Teheran meluncurkan gelombang rudal yang berhasil menghantam wilayah Israel, termasuk salah satunya di Kota Holon yang dilaporkan mengalami dampak kerusakan cukup serius.

Di balik dentuman rudal dan ancaman pembunuhan tingkat tinggi, terdapat sebuah anomali yang menarik perhatian. Ismail Amin, seorang mahasiswa asal Indonesia yang saat ini menempuh pendidikan di Kota Qom, Iran, memberikan gambaran yang mengejutkan mengenai situasi warga sipil di sana.

Melalui unggahan media sosialnya pada Senin (16/3/2026), Ismail mengungkapkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat lokal seolah tidak terpengaruh oleh status perang yang tengah berkecamuk.

“Kalau TV gak nyiarkan korban jiwa dan gedung-gedung yang rusak oleh serangan operasi gabungan AMIS (Amerika Israel), saya gak akan tahu bahwa negara ini sedang dalam kondisi perang,” ungkap Ismail.

Berdasarkan rekaman video yang dibagikannya, jalanan di Kota Qom tetap padat oleh kendaraan. Tidak terlihat adanya kepanikan masal, kelangkaan kebutuhan pokok, maupun pemadaman listrik dan internet. Hal ini menunjukkan stabilitas domestik Iran yang masih terjaga kuat di tengah gempuran sanksi dan serangan militer dari pihak lawan.

Konflik segitiga ini tampaknya masih jauh dari kata damai. Dengan tertutupnya akses di Selat Hormuz dan intensitas serangan yang terus meningkat, stabilitas ekonomi dunia kini berada di ujung tanduk. Para pengamat memprediksi bahwa jika diplomasi tingkat tinggi yang melibatkan kekuatan besar tidak segera membuahkan hasil, eskalasi ini bisa menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik terbuka yang lebih luas. 

Penulis

Related Articles

Back to top button