Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Misteri ‘Darah Emas’: Golongan Darah Paling Langka di Dunia yang Jadi Rebutan Ilmuwan 

Wamanews.id, 12 Januari 2026 – Di dunia medis, golongan darah A, B, AB, dan O adalah hal yang lumrah kita dengar. Namun, tahukah Anda bahwa ada satu jenis golongan darah yang saking langkanya, ia dijuluki sebagai “Golden Blood” atau Darah Emas? Secara medis, golongan darah ini dikenal sebagai Rh-null.

Fenomena Darah Emas ini bukanlah sekadar istilah kiasan. Keberadaannya sangat nyata, namun populasinya di seluruh planet bumi sangatlah kecil. 

Tercatat, hanya ada sekitar 50 orang di seluruh dunia yang diketahui memiliki golongan darah Rh-null ini. Kelangkaan yang ekstrem ini membuat pemiliknya berada di antara dua sisi mata uang: menjadi “harta karun” bagi dunia kedokteran, namun sekaligus menghadapi risiko nyawa yang sangat besar dalam keseharian mereka.

Apa Itu Golongan Darah Rh-null?

Untuk memahami mengapa darah ini begitu istimewa, kita perlu melihat bagaimana golongan darah ditentukan. Umumnya, golongan darah diklasifikasikan berdasarkan keberadaan antigen atau penanda protein pada permukaan sel darah merah. Salah satu sistem antigen yang paling kompleks adalah sistem Rhesus (Rh).

Sebagian besar manusia di dunia memiliki setidaknya beberapa dari sekitar 50 jenis antigen Rhesus dalam darah mereka. Jika Anda memiliki antigen RhD, maka golongan darah Anda disebut positif (+), dan jika tidak punya, disebut negatif (-).

Namun, orang dengan golongan darah Rh-null benar-benar berbeda. Mereka sama sekali tidak memiliki ke-50 antigen Rhesus tersebut di permukaan sel darah merahnya. Absennya seluruh antigen Rhesus inilah yang membuat darah mereka menjadi sangat unik dan langka di mata sains.

Memiliki Darah Emas bukanlah sebuah anugerah tanpa beban. Bagi 50 orang pemiliknya, sebuah kecelakaan kecil atau prosedur operasi sederhana bisa menjadi ancaman nyawa yang mengerikan. Mengapa demikian? Karena sistem imun manusia dirancang untuk menolak benda asing.

“Jika seseorang menerima transfusi darah dengan antigen yang berbeda dari darah sendiri, sistem imun akan menyerang darah tersebut dan ini bisa berakibat fatal,” jelas Ash Toye, seorang profesor biologi sel dari University of Bristol, sebagaimana dikutip dari BBC Science.

Karena pemilik Rh-null tidak memiliki antigen Rhesus sama sekali, tubuh mereka akan bereaksi sangat keras jika menerima darah dari orang “normal” yang memiliki antigen Rh. Masalahnya, mencari donor yang cocok bagi pemilik Rh-null hampir mustahil dilakukan mengingat jumlah pemiliknya yang hanya 1 banding 6 juta orang di dunia.

Karena risiko inilah, para pemilik Darah Emas sangat disarankan untuk melakukan autodonor atau membekukan darah mereka sendiri di bank darah sebagai cadangan jangka panjang jika sewaktu-waktu mereka membutuhkan transfusi darurat.

Mengapa Disebut “Harta Karun” Medis?

Meski berbahaya bagi pemiliknya, Rh-null adalah “emas” bagi dunia kedokteran. Karena tidak memiliki antigen Rhesus sama sekali, darah Rh-null (terutama tipe O Rh-null) secara teoritis bisa diterima oleh hampir semua orang di dunia, apa pun jenis Rhesus-nya.

Dalam situasi darurat di mana golongan darah pasien tidak diketahui dan stok darah umum menipis, darah Rh-null dianggap sebagai donor universal yang sesungguhnya. Risiko reaksi penolakan oleh tubuh penerima sangat rendah karena tidak ada antigen yang bisa “dikenali” sebagai musuh oleh sistem imun pasien. Inilah alasan mengapa peneliti sangat mengincar sampel darah ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Kelangkaan stok Darah Emas mendorong para ilmuwan di Inggris dan Amerika Serikat untuk melakukan inovasi radikal. Salah satu metode yang tengah dikembangkan adalah penggunaan teknologi edit gen CRISPR.

Para peneliti mencoba melakukan rekayasa genetika dengan “menghapus” antigen dari sel darah manusia normal agar sel tersebut menjadi ultra-kompatibel layaknya Rh-null. Jika eksperimen ini berhasil, maka ketergantungan pada 50 orang pemilik Darah Emas bisa berkurang, dan pasokan darah “super” ini bisa tersedia lebih banyak di bank darah dunia.

Namun, jalan menuju produksi massal masih sangat panjang. Kendala utamanya adalah biaya produksi yang selangit serta tingkat kesulitan yang tinggi dalam meniru cara alami tubuh manusia mematangkan sel darah merah di luar lingkungan biologis (in vitro).

Kisah Darah Emas ini memberikan kita pelajaran berharga tentang betapa luar biasanya keragaman biologis manusia. Di balik statusnya yang sangat langka, tersimpan harapan besar bagi keselamatan jutaan nyawa manusia melalui kemajuan teknologi medis di masa depan.

Penulis

Related Articles

Back to top button