Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Bukan Cuma Wanita, Pria Juga Bisa Terancam Virus Mematikan Ini!

Wamanews.id, 27 April 2025 – Persepsi keliru yang selama ini melekat di benak banyak orang adalah bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) hanya menjadi ancaman bagi kaum perempuan, terutama terkait dengan risiko kanker serviks. Namun, para ahli kesehatan dengan tegas mengingatkan bahwa virus ini juga dapat menyerang kaum pria dan memicu berbagai jenis kanker lainnya yang tak kalah berbahaya.

Pakar patologi klinik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PDS Patklin), Prof. Dr. dr. Aryati, M.S., Sp.PK(K), dalam keterangan persnya di Jakarta pada Jumat (25/4/2025), meluruskan pemahaman yang keliru tersebut. “HPV itu bukan hanya soal serviks semata. Pria juga sangat mungkin terinfeksi, dan infeksinya bisa terjadi di area penis, anus, bahkan di rongga mulut dan tenggorokan. Jadi, ini adalah virus yang tidak mengenal gender,” tegas Prof. Aryati.

Beliau menjelaskan bahwa virus HPV memiliki lebih dari 100 tipe yang berbeda, dan setidaknya 14 di antaranya dikategorikan sebagai tipe yang berisiko tinggi karena memiliki potensi untuk menyebabkan perkembangan sel kanker. Lebih lanjut, Prof. Aryati menekankan bahwa penyebaran virus ini terjadi melalui kontak kulit ke kulit, dan bukan semata-mata melalui hubungan seksual seperti yang selama ini banyak diyakini oleh masyarakat awam.

“Ada tipe HPV dengan risiko rendah, seperti tipe 6 dan 11, yang dapat menyebabkan munculnya kutil kelamin. Namun, yang patut diwaspadai adalah tipe dengan risiko tinggi, seperti tipe 16, 18, bahkan tipe 52. Semua tipe berbahaya ini juga dapat menginfeksi pria,” imbuhnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan mencatat adanya peningkatan kasus kanker yang disebabkan oleh infeksi HPV pada pria. Beberapa jenis kanker yang paling sering dikaitkan dengan HPV pada pria antara lain adalah kanker orofaring (yang menyerang bagian tengah tenggorokan), kanker anus, dan kanker penis. Di negara-negara maju yang memiliki kesadaran kesehatan yang lebih tinggi, vaksin HPV kini bahkan direkomendasikan secara rutin untuk anak laki-laki sebagai langkah pencegahan dini terhadap infeksi virus ini dan potensi kanker yang menyertainya.

Sayangnya, di Indonesia, program vaksinasi HPV saat ini masih memfokuskan diri pada anak perempuan usia sekolah dasar sebagai bagian dari program imunisasi nasional. Sementara kelompok usia lain, termasuk laki-laki dan perempuan dewasa yang belum mendapatkan vaksin, belum sepenuhnya tercakup dalam program pencegahan ini.

Prof. Aryati mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini sedang berupaya mendorong program skrining kanker serviks melalui metode deteksi DNA HPV, terutama bagi perempuan berusia 30 tahun ke atas yang belum pernah mendapatkan vaksinasi HPV. Metode ini dianggap lebih akurat dalam mendeteksi keberadaan virus penyebab kanker serviks.

Namun, beliau mengakui bahwa upaya pencegahan infeksi HPV dan kanker terkait masih menghadapi tantangan yang cukup besar, terutama dari segi biaya dan tingkat pemahaman masyarakat yang masih rendah. Tes DNA HPV yang memiliki tingkat akurasi paling tinggi dapat memiliki biaya di atas Rp1 juta, sementara metode skrining konvensional seperti Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) dan Pap smear masih banyak digunakan meskipun tingkat sensitivitasnya bervariasi.

“Vaksin HPV memang sudah kita berikan secara gratis untuk anak perempuan, tetapi bagi kelompok masyarakat lain yang belum terlindungi oleh vaksin, kita mendorong untuk melakukan skrining secara rutin. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa infeksi HPV ini hanya terkait dengan penyakit seksual, padahal cara penyebarannya jauh lebih kompleks dari itu,” jelas Prof. Aryati.

Melihat kondisi ini, para ahli kesehatan mendesak agar kampanye edukasi mengenai virus HPV diperluas jangkauannya dan tidak hanya menyasar kaum perempuan. Pemahaman yang benar bahwa HPV juga merupakan ancaman nyata bagi kesehatan pria sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif di masyarakat dan mempercepat upaya eliminasi penyakit-penyakit yang terkait dengan infeksi virus ini.

“Jika kita hanya terus fokus pada pencegahan kanker serviks pada perempuan, kita berpotensi kehilangan kesempatan emas untuk mencegah jenis-jenis kanker lain yang juga disebabkan oleh virus yang sama pada pria,” pungkas Prof. Aryati, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam upaya pencegahan penyakit akibat HPV.

Penulis

Related Articles

Back to top button