Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

SulSel

Wamen Pariwisata: Sulsel Tak Perlu Jadi Bali Kedua, Kekayaan Alam & Budaya Sudah Lebih dari Cukup

Wamanews.id, 16 Mei 2025 – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Ni Luh Puspita, menyampaikan pernyataan tegas bahwa Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak perlu meniru Bali untuk menjadi destinasi wisata kelas dunia. Menurutnya, Sulsel memiliki daya tarik unik yang justru menjadi kekuatan utama untuk memajukan pariwisata daerah.

Dalam kunjungannya ke Makassar pada Kamis (15/5/2025), Ni Luh menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakter khas yang tidak bisa disamakan. Justru, meniru konsep wisata daerah lain seperti Bali dapat menghilangkan keaslian dan nilai lokal yang dimiliki suatu wilayah.

“Kalau kita terus meniru, artinya kita tidak menghargai kekayaan yang kita miliki sendiri,” ujar Ni Luh dengan nada tegas.

Ia mencontohkan sejumlah destinasi wisata unggulan di Sulsel seperti Tana Toraja dengan panorama pegunungan dan udara sejuknya yang memikat, hingga Bulukumba dan Selayaryang dikenal akan keindahan bahari dan kekayaan lautnya. Semua ini, menurutnya, adalah modal besar untuk membangun citra wisata Sulsel yang khas dan berdaya saing.

Lebih lanjut, Ni Luh menegaskan bahwa keindahan alam saja tidak cukup untuk mengangkat sektor pariwisata. Yang jauh lebih penting adalah investasi pada sumber daya manusia (SDM) dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap potensi wisata yang mereka miliki.

“Apakah kita semua sudah sadar wisata? Itu pertanyaan besar. Sadar wisata berarti menyadari bahwa pariwisata bisa menjadi penggerak ekonomi daerah,” ucapnya.

Menurutnya, pemahaman akan potensi pariwisata harus tertanam di seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya di kalangan pelaku usaha wisata. Jika masyarakat sadar dan ikut menjaga serta mengembangkan destinasi wisata, maka sektor ini akan berkembang secara alami dan berkelanjutan.

Ni Luh juga menyoroti kekayaan budaya dan sejarah Sulsel yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi wisata budaya, religi, dan sejarah. Ia menyebut peninggalan kerajaan seperti Bone, Gowa, dan sejumlah kesultanan sebagai aset historis yang bisa menjadi daya tarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Tak hanya itu, tarian tradisional, ritual adat, kuliner khas, dan bentuk ekspresi budaya lainnya juga bisa menjadi “jualan” yang sangat kuat apabila dikemas dengan baik.

“Kalau masyarakat sadar wisata, akan tumbuh semangat menjaga destinasi dan kekayaan daerah, dan itu akan berkembang secara alami,” pungkasnya.

Ni Luh mengajak pemerintah daerah, pelaku wisata, hingga generasi muda untuk bahu-membahu membangun identitas wisata Sulsel sendiri, bukan menjadi ‘Bali kedua’. Ia menegaskan, Sulsel cukup menjadi Sulsel yang otentik, kaya, dan mempesona.

Dengan pernyataan tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memberi sinyal bahwa pendekatan pembangunan pariwisata ke depan akan lebih berbasis lokalitas dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar mengejar keseragaman atau menjiplak kesuksesan daerah lain.

Penulis

Related Articles

Back to top button