Tekanan Digital Picu Bunuh Diri Anak

Wamanews.id, 14 November 2025 – Meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan anak dan remaja, yang dalam sebulan terakhir mencatat setidaknya empat dugaan kasus di dua provinsi, menjadi sorotan tajam bagi dunia pendidikan dan pengasuhan. Generasi Alpha anak-anak kelahiran 2010 dan setelahnya dinilai sebagai kelompok yang paling rentan menghadapi krisis ini akibat tekanan yang muncul dari lingkungan digital yang tak terhindarkan.
Nurul Kusuma Hidayati, Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, menyerukan langkah radikal untuk mengatasi masalah ini, yang ia sebut sebagai “alarm darurat” bagi kesejahteraan anak.
“Ini sudah semacam wake-up call bagi semua pihak. Anak-anak tidak hanya perlu sejahtera secara prestasi, tetapi juga secara mental,” ujar Nurul, Kamis (13/11/2025).
Menurut Nurul, Generasi Alpha berada dalam posisi rentan karena mereka adalah generasi pertama yang sepenuhnya terdigitalisasi sejak lahir. Mereka sangat akrab dengan teknologi, namun terdapat ironi yang berbahaya: kemampuan pengelolaan pikiran dan emosi mereka belum matang.
Kombinasi digital native dengan ketidakmatangan emosional ini menciptakan ruang bagi timbulnya kelelahan emosional (emotional burnout) dan depresi. Paparan tak terkontrol terhadap media digital menyebabkan anak sering membandingkan diri dengan standar tidak realistis di media sosial, memicu tekanan mental yang berat.
Faktor ini diperparah oleh minimnya literasi emosi di keluarga, di mana screen time seringkali mengambil alih peran pengasuhan. Akibatnya, anak-anak kehilangan kesempatan krusial untuk belajar mengelola emosi secara sehat melalui interaksi langsung. Nurul menegaskan, “Kurangnya dialog empatik antara orang tua dan anak membuat pertolongan pertama psikologis tidak berjalan baik.”
Nurul mendesak institusi pendidikan, dari tingkat dasar hingga menengah, untuk mengambil peran aktif dalam pencegahan. Ia merekomendasikan pengembangan Sistem Kesehatan Mental Berbasis Sekolah (school-based mental health system). Sistem ini harus fokus pada pencegahan, bukan hanya pada penanganan reaktif setelah kasus terjadi.
“Sekolah perlu melatih guru sebagai gatekeeper untuk mendeteksi perubahan perilaku siswa dan mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional (SEL) dalam kurikulum,” jelas Nurul.
Pelatihan guru sebagai gatekeeper sangat penting karena gurulah yang menghabiskan waktu signifikan dengan siswa dan dapat menjadi lini pertahanan pertama dalam mendeteksi tanda-tanda depresi atau niat bunuh diri.
Di tingkat keluarga, Nurul meminta orang tua untuk mengambil peran sebagai “pelatih emosi“ bagi anak-anak mereka. Orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera meningkatkan literasi kesehatan mental keluarga.
Langkah konkret yang harus dilakukan termasuk penerapan aturan screen time yang bijak dan membangun komunikasi yang suportif. Dengan demikian, anak-anak akan belajar bagaimana mengelola emosi mereka secara sehat dan berani mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi.
UGM melalui CPMH berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan literasi dan kesadaran publik melalui riset dan advokasi kebijakan. Harapannya, “Anak perlu diajarkan literasi emosi dan berani meminta pertolongan ketika tidak baik-baik saja,” tutup Nurul.





