Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Uncategorized

Sutera, Ibu, dan Warisan yang Tak Putus di Wajo

Wamanews.id, 29 April – Jemari perempuan itu bergerak pelan namun pasti, seolah telah hafal arahsetiap helai benang tanpa perlu menatapnya terlalu lama. Di sudut sebuah rumah sederhana diDesa Nepo Kabupaten Wajo, bunyi kayu alat tenun terdengar berulang dengan ketukan yangsama setiap hari sejak bertahun-tahun lalu.

Tidak keras, tidak pula tergesa, tetapi cukup untuk menjadi penanda waktu yang lebih jujurdaripada jarum jam. Bagi Berliang (50) alat tenun itu bukan sekadar peralatan kerja. Di sanalah ia pernah menggantungkan seluruh harapannya ketika hidup mulai berubah arah.

Perpisahan dengan sang suami yang terjadi saat putrinya masih duduk di bangku sekolah dasar menjadi titik yang mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ia tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan. Pendidikan yang terbatas dan tanggung jawab mengasuh anak membuatnya tetap berada di rumah.

Namun justru di ruang yang itulah ia menemukan cara untuk tetap berdiri. Benang-benang sutera yang dahulu ia pelajari dari ibunya, perlahan berubah menjadi sumber penghasilan utama. Penghasilan yang menjaga dapur tetap mengepul dan buku sekolah anaknya tetap terrbeli.

Sejak pagi hingga sore, waktunya terbagi antara pekerjaan rumah dan alat tenun. Ia memasak lebih dulu, menyiapkan kebutuhan sehari-hari, lalu duduk merapikan benang. Setelah itu ia kembali berdiri untuk mencuci pakaian atau menyapu lantai, kemudian duduk lagi di depan alat tenun yang tak pernah benar-benar jauh dari jangkauannya.

Tidak ada jam kerja resmi, tidak ada hari libur panjang. Yang ada hanyalah pengulangan yang dijalani dengan sabar, hari demi hari, tahun demi tahun. Kadang tubuh terasa lelah. Punggung pegal karena duduk terlalu lama, mata perih karena menatap motif yang sama berjam-jam, dan jemari terasa kaku karena terus menarik benang.

Namun setiap kali satu sarung selesai dan menemukan pembelinya, rasa letih itu seolah luruh perlahan. Ada kepuasan sederhana yang tidak selalu dapat diterjemahkan dengan angka. Sarung yang selesai bukan hanya hasil kerja tangan, tetapi juga bukti bahwa satu hari telahdilewati dengan usaha yang tidak sia-sia.

“Pekerjaan rumah tetap jalan sambil menenun. Kadang lelah tapi kalau tidak menenun ya tidak makan juga anak-anak,” tutur Berliang.

Keterampilan menenun bukan hal baru baginya karena telah mengenal tenun sejak masih anak-anak. Ia diajarkan langsung oleh ibunya dahulu. Apa yang dulu dianggap sekadar kebiasaan keluarga, pada akhirnya menjadi penopang hidup di masa paling sulit.

Dari tanganyang terus bergerak itulah, kebutuhan sehari-hari terpenuhi dan anaknya dapat terus bersekolah. Menenun tidak hanya menjadi pekerjaan, tetapi juga menjadi cara bertahan.

Selama menggeluti tenun sutera Berliang mengakui bahwa harga sarung tidak selalu stabil.Ada masa ketika nilainya cukup tinggi, ada pula masa ketika turun mengikuti keadaan pasar.

“Dulu sebelum corona (masa pandemi) itu harganya bisa sampai 150 ribu satu sarung. Sekarang tinggal 110 ribu, kadang 120 ribu atau 130 ribu kalau motifnya susah.” jelasnya.

Meski demikian di tengah perubahan harga dan situasi ekonomi, alat tenun itu tak pernah benar-benar berhenti. Motif demi motif tetap disusun, benang demi benang tetap dirapikan. Satu hal yangtidak berubah adalah ketekunan ibu satu anak itu.

Benang yang Menyambung Generasi

Tahun-tahun berlalu, anak yang dahulu ia besarkan dengan sarung-sarung itu kini tumbuhdewasa. Sulfitri (25) tidak lagi asing dengan bunyi alat tenun. Sejak kecil ia telah mendengar ketukan kayu yang sama setiap hari.

Sepulang sekolah, ia sering duduk di dekat ibunya, memperhatikan benang yang direntangkan dan motif yang perlahan terbentuk. Dari kebiasaan melihat, tangannya mulai mencoba. Awalnya kaku dan sering salah arah, namun pengulangan membuat gerakan itu semakin akrab.

“Belajar menenun itu waktu sekolah dulu, kalau pulang biasa diajarkan sama ibu. Tapi aktifmenenun sejak 2020, setelah menikah dengan suami.” katanya.

Ternyata aktivitas menenun bagi Sulftiri tidak lagi sekadar kebiasaan masa kecil, tetapi telah menjadi bagian dari identitasnya sendiri. Ia tidak merasa terpaksa, justru menjalankannya dengan perasaan ringan.

Proses pewarisan ini tidak pernah terjadi secara resmi. Tidak ada upacara, tidak ada pengumuman bahwa keterampilan itu telah berpindah tangan. Semua berlangsung alami melalui penglihatan, pengulangan, dan kebersamaan di dalam rumah.

Dari nenek kepada ibu,lalu dari ibu kepada anak, benang itu berpindah tanpa disadari namun penuh makna.Saat ditanya apakah Sulfitri akan mewariskan juga ke anaknya kelak seperti sang ibu yangmewariskan, ia mengaku tidak pernah memaksa anaknya untuk mengikuti jejaknya, tetap selalu membuka ruang jika ingin belajar lebih dalam.

“Kalau dia mau silakan belajar kalau tidak ji, tidak apapaji juga,” tutur perempuan kelahirantahun 2001 itu.Baginya, sutera bukan sekadar kain, melainkan keterampilan yang menjaga keberlangsungankeluarga. Dari generasi ke generasi, nilai itu hidup bukan karena kewajiban, melainkan karenakedekatan emosional yang tumbuh perlahan.

Di Antara Rumah dan Penghasilan: Peran Ganda Perempuan

Di rumah itu, ruang kerja dan ruang hidup tidak pernah benar-benar terpisah. Alat tenun berdiri tidak jauh dari dapur dan ruang keluarga. Saat nasi sedang dimasak, benang bisa dirapikan.Saat lantai selesai disapu, tangan kembali menarik kayu alat tenun.

Aktivitas domestik dan produktif berjalan berdampingan tanpa sekat. Rumah tetaplah rumah, tetapi sekaligus menjadi tempat menghasilkan pendapatan.Bagi Sulfitri, menenun bukan hanya soal tradisi, tetapi juga cara membantu perekonomian keluarga.

Dari aktivitas yang tampak sunyi itu, penghasilan perlahan terkumpul. Satu sarung dapat selesai dalam satu hingga dua hari, tergantung motif dan pesanan. Dalam dua minggu, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai jumlah yang cukup berarti.

Nilainya mungkin tidak selalu sama, tetapi cukup memberi ruang bernapas, ruang untuk menabung, ruang untuk membeli kebutuhan tanpa harus sepenuhnya bergantung padapenghasilan suami.

“Alhamdulillah biasanya dapat 1 juta dalam dua minggu. Mau beli apa-apa nda haruspenghasilan suami, jadi uang bisa ditabung,” jelasnya.

Produksi sarung juga biasanya mengikuti pesanan. Benang dibeli sendiri di pasar dengan modal yang tidak sedikit, namun dapat digunakan dalam waktu lama. Stok disiapkan agar pekerjaan tidak terhenti ketika permintaan datang.

Jika pesanan sedang banyak, terutama saat musim pernikahan dan ritme kerja meningkat,tetapi tetap dijalani dengan santai. Waktu terasa lentur, tidak harus selesai dalam satu hari.

“Cukup enjoy mengerjakan. Tidak harus jadi satu hari satu sarung. Biasa kalau sedang sibuk juga, dalam 1 minggu hanya mengerjakan 3 sarung,” tuturnya.

Meski rasa lelah sering datang, kepuasan selalu hadir ketika satu sarung selesai dan berhasil terjual. Ada kebahagiaan kecil yang sulit dijelaskan, semacam rasa lega yang datang setelah proses panjang.

Menenun menjadi ruang produktif sekaligus ruang emosional, tempat di mana usaha dan harapan bertemu dalam bentuk nyata

.“Kadang capek tapi kalau sudah jual sarung, merasa senang” jawabanya dengan senyum merakah.

Di banyak rumah di Wajo, cerita serupa terus berulang. Perempuan menjalankan dua peran sekaligus, yakni mengurus keluarga dan menggerakkan ekonomi rumah tangga tanpa perlu label resmi.

Dari ruang yang sederhana, daya itu tumbuh perlahan namun konsisten. Bunyi alat tenunmungkin terdengar pelan, tetapi di baliknya terdapat ketahanan yang kuat.Di sudut rumah Berliang dan Sulfitri, alat tenun tetap berdiri.

Tidak megah, tidak pula baru, tetapi kokoh. Setiap kali kayunya bergerak, bunyinya seolah mengulang pesan yang sama: bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam sorotan besar, melainkan dalam ketekunan yangberlangsung setiap hari.

Dari jemari ibu dan anak, benang-benang sutera tidak hanya membentuk kain, tetapi jugamerajut cerita tentang ketahanan, kemandirian, dan warisan yang tidak pernah benar-benar putus.

Reporter: Aulia Ulva

Penulis

Related Articles

Back to top button