Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Ternyata Bukan Karena Bandel, Ini 3 Fakta Ilmiah Kenapa Remaja Sering Dicap Nakal

Wamanews.id, 3 Mei 2025 – Remaja kerap mendapat label “nakal” atau “pemberontak”, apalagi jika mereka terlibat dalam perilaku yang dianggap menyimpang, mengganggu ketertiban, atau bahkan melanggar hukum. Namun, sebelum buru-buru menyalahkan mereka, ada baiknya kita menilik fakta dari sisi ilmiah.

Menurut penjelasan dari National Institute of Mental Health, ada penjelasan ilmiah yang masuk akal mengapa remaja sering menunjukkan perilaku tak terduga. Masa remaja adalah fase penting dalam perkembangan otak dan psikologis seseorang. Perubahan yang terjadi pada masa ini tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga cara mereka merespons stres, bersosialisasi, hingga mengatur pola tidur.

Berikut tiga alasan utama mengapa remaja kerap dianggap “nakal”, padahal mereka hanya sedang mengalami proses pertumbuhan yang kompleks:

1. Otak Remaja Sedang Mengalami Renovasi Besar-Besaran

Saat anak memasuki masa remaja, otaknya tidak lagi sama seperti saat mereka kecil. Area otak yang bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan hubungan sosial sedang mengalami perkembangan signifikan.

Area prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur kontrol diri dan pertimbangan logis, masih belum sepenuhnya matang. Sementara itu, bagian otak yang mengatur dorongan dan emosi sudah berkembang lebih dulu. Akibatnya, remaja cenderung lebih impulsif dan lebih tertarik pada pengalaman sosial, termasuk bergaul dengan teman sebaya yang kadang memicu mereka untuk mengambil risiko.

Tak heran jika sebagian remaja tampak lebih nekat atau “suka cari masalah”, padahal sebenarnya mereka hanya mengikuti dorongan alami dari otaknya yang sedang berkembang.

2. Cara Remaja Merespons Stres Sangat Berbeda dari Orang Dewasa

Otak remaja ternyata memproses stres dengan cara yang tidak sama seperti orang dewasa. Karena sistem saraf mereka masih berkembang, reaksi terhadap tekanan emosional bisa menjadi lebih intens.

Stres yang dihadapi remaja baik itu dari sekolah, pergaulan, atau keluarga bisa memicu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Ketika emosi tersebut tidak ditangani dengan baik, perilaku remaja bisa menjadi tidak stabil, dan inilah yang sering disalahartikan sebagai “kenakalan”.

Padahal, apa yang tampak sebagai sikap memberontak atau sulit diatur seringkali merupakan bentuk ekspresi dari tekanan mental yang sedang mereka alami.

3. Kurang Tidur Bikin Remaja Jadi Emosional dan Sulit Fokus

Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, namun banyak remaja yang tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Secara biologis, kadar hormon melatonin yang mengatur siklus tidur berfungsi berbeda pada remaja. Kadar hormon ini tinggi pada malam hari dan turun lebih lambat di pagi hari, membuat mereka lebih sulit tidur cepat dan susah bangun pagi.

Akibatnya, banyak remaja mengalami kekurangan tidur. Dampaknya tidak main-main: mereka menjadi lebih mudah tersulut emosi, sulit fokus, dan tidak bisa mengontrol suasana hati. Kondisi ini bisa membuat perilaku mereka semakin sulit dipahami oleh orang dewasa.

Alih-alih langsung memberikan cap negatif, orang dewasa baik itu orang tua, guru, maupun masyarakat perlu memahami bahwa perilaku remaja seringkali merupakan cerminan dari proses biologis yang wajar. Memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang, sekaligus membimbing dengan empati dan pengetahuan, adalah langkah terbaik untuk mendampingi masa transisi yang rumit ini.

Dengan memahami latar belakang ilmiah dari perubahan perilaku remaja, kita bisa membangun komunikasi yang lebih baik, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mereka secara sehat baik secara fisik maupun mental.

Penulis

Related Articles

Back to top button