Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Gaji Rp15 Juta Bisa Bikin Lebih Sehat dan Panjang Umur? Ini Penjelasan Menkes yang Picu Pro-Kontra!

Wamanews.id, 21 Mei 2025 – Pernyataan Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, kembali memancing diskusi publik. Dalam sebuah acara diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Menkes menyebut bahwa orang yang memiliki gaji Rp15 juta per bulan biasanya lebih sehat dan pintar dibandingkan mereka yang berpenghasilan Rp5 juta.

“Apa sih bedanya orang yang gajinya Rp15 juta sama Rp5 juta? Cuma dua, satunya Rp15 juta pasti lebih sehat dan lebih pintar,” ujar Budi Sadikin dalam forum yang kemudian menuai sorotan luas, baik dari media maupun warganet.

Pernyataan tersebut dinilai tidak sensitif terhadap realitas mayoritas masyarakat Indonesia yang masih berjuang secara ekonomi, terutama di tengah tekanan harga kebutuhan pokok dan ketimpangan ekonomi yang masih nyata. Namun, apakah benar gaji tinggi bisa berdampak langsung pada kesehatan dan kecerdasan seseorang?

Data Ilmiah Mendukung: Gaji Rendah Berkaitan dengan Risiko Kesehatan Menariknya, di balik pernyataan kontroversial Menkes, terdapat studi ilmiah yang seolah menguatkan pernyataannya. Penelitian dari Mailman School of Public Health, Universitas Columbia, yang diterbitkan di jurnal bergengsi Journal of the American Medical Association (JAMA), menemukan korelasi signifikan antara penghasilan dan kesehatan.

Studi tersebut melacak kondisi 4.000 pekerja di Amerika Serikat selama 12 tahun menggunakan data dari Health and Retirement Study milik Universitas Michigan. Hasilnya menunjukkan bahwa pekerja paruh baya yang secara konsisten memiliki penghasilan rendah memiliki risiko kematian dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang bergaji lebih tinggi.

Penyebabnya? Akses terhadap layanan kesehatan yang buruk, pola makan yang kurang bergizi, beban kerja fisik yang berat, hingga tekanan psikologis yang lebih besar menjadi faktor-faktor utama yang menyebabkan penurunan kualitas hidup pada kelompok berpendapatan rendah.

Selain kesehatan fisik, penghasilan juga berdampak besar pada kesehatan mental. Mereka yang berpenghasilan rendah lebih rentan mengalami stres kronis, gangguan kecemasan, dan depresi. Sebaliknya, mereka yang memiliki penghasilan lebih tinggi cenderung mampu mengakses layanan kesehatan mental, rekreasi, hingga gaya hidup sehat yang mendukung keseimbangan psikologis.

Pola konsumsi juga berpengaruh: dengan gaji lebih besar, seseorang lebih mampu membeli makanan bergizi, mengakses pusat kebugaran, dan bahkan melakukan check-up rutin yang memperpanjang harapan hidup.

Meski demikian, sejumlah ahli menekankan bahwa kecerdasan dan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh besaran gaji, tetapi juga oleh akses terhadap pendidikan berkualitas, lingkungan sosial, dan dukungan sistem kesehatan. 

Orang yang pintar bisa saja belum memiliki gaji besar karena hambatan struktural seperti kurangnya kesempatan kerja, ketimpangan pendidikan, atau diskriminasi.

“Pernyataan Menkes bisa dipahami dari sudut pandang ilmiah, namun tetap perlu disampaikan dengan lebih empatik,” ujar seorang pengamat kesehatan masyarakat.

Pernyataan Menkes semestinya menjadi refleksi bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam menciptakan pemerataan kesejahteraan dan kesehatan. Jika memang benar orang sehat dan pintar cenderung memiliki penghasilan lebih tinggi, maka pemerintah perlu memastikan seluruh rakyat memiliki akses setara untuk mencapainya.

Alih-alih hanya menyampaikan fakta, pemerintah juga sebaiknya berfokus pada solusi dari perbaikan sistem gaji ASN dan pekerja sektor informal, hingga memperluas jangkauan layanan kesehatan primer di seluruh wilayah.


Gaji memang bukan segalanya, tapi bisa menjadi indikator yang mencerminkan kualitas hidup, akses layanan, dan pilihan gaya hidup seseorang. Pernyataan Menkes yang menimbulkan kontroversi ini seharusnya menjadi bahan introspeksi bersama: bagaimana menciptakan masyarakat yang sehat dan cerdas, tidak peduli seberapa besar pendapatannya.

Penulis

Related Articles

Back to top button