Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Uncategorized

Siaga Bencana Akhir Tahun: BMKG Prediksi Puncak Hujan di Jawa dan Nusa Tenggara, PVMBG Tekankan Mitigasi Struktural Jelang Nataru

Wamanews.id, 16 Desember 2025 – Puncak musim hujan diprediksi akan mencapai intensitas tertinggi di beberapa wilayah strategis Indonesia pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kenaikan curah hujan signifikan diprakirakan terjadi di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Wilayah yang diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan khususnya meliputi Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Lonjakan curah hujan ini secara langsung meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, terutama longsor dan banjir, menjelang masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Menyikapi prediksi BMKG tersebut, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat. Dalam webinar yang diselenggarakan Jumat (12/12/2025), Hadi Wijaya merekomendasikan tiga langkah utama dalam strategi mitigasi bencana geologi menjelang periode Nataru.

Langkah pertama yang direkomendasikan PVMBG adalah pendekatan struktural, yang berfokus pada pembangunan fisik untuk meminimalisir risiko bencana. Pendekatan ini mencakup:

  • Penguatan Tanah: Melalui metode teknik sipil untuk meningkatkan daya dukung dan stabilitas lereng.
  • Pembangunan Tembok Penahan: Membangun struktur penahan di lereng yang rentan longsor.
  • Pembangunan Drainase Lereng: Mengatur aliran air di lereng untuk mengurangi kejenuhan tanah.

PVMBG mengakui bahwa meskipun langkah struktural ini terbukti sangat efektif dalam jangka panjang, implementasinya seringkali memerlukan biaya yang mahal dan penerapan teknis yang kompleks. Namun, investasi pada infrastruktur ini menjadi krusial untuk melindungi wilayah padat penduduk dan infrastruktur vital.

Selain penguatan struktur, Hadi Wijaya juga menyoroti pentingnya langkah kedua, yaitu pendekatan non-struktural melalui kebijakan dan edukasi. Ini mencakup:

  • Menyusun regulasi tata guna lahan yang ketat, melarang pembangunan di area yang jelas-jelas rawan longsor dan banjir.
  • Mengedukasi masyarakat secara berkelanjutan mengenai tanda-tanda awal bencana dan prosedur evakuasi yang aman.

Langkah terakhir yang direkomendasikan adalah kombinasi tiga pendekatan mitigasi, yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokal, mulai dari penghindaran risiko (relokasi warga dengan biaya infrastruktur rendah), pengurangan risiko (evakuasi dan kontrol lahan dengan biaya sedang), hingga pencegahan risiko (biaya infrastruktur besar agar tetap aman).

Hadi Wijaya menutup dengan menegaskan filosofi mitigasi bencana, “Tidak ada pendekatan tunggal yang paling tepat, kombinasi strategi disesuaikan kondisi lokal adalah kunci mitigasi,” ujar Hadi.

Mengingat wilayah yang terdampak meliputi kawasan wisata populer seperti Bali, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, pemerintah daerah setempat diimbau untuk segera menerapkan langkah-langkah mitigasi struktural dan non-struktural yang sesuai demi menjamin keselamatan wisatawan dan penduduk lokal selama masa libur Nataru. 

Penulis

Related Articles

Back to top button