Rupiah Tembus Rp17 Ribu & Minyak USD100! Anas Urbaningrum: Dunia Butuh Pemimpin Waras, Bukan yang ‘Edan’

Wamanews.id, 10 Maret 2026 – Gelombang panas konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan konfrontasi langsung antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai menghantam jantung pertahanan ekonomi Indonesia. Dalam hitungan hari, dua indikator ekonomi paling krusial nilai tukar rupiah dan harga minyak dunia mengalami guncangan hebat yang memaksa para tokoh nasional menyerukan kewaspadaan tinggi.
Mantan Staf Khusus Menteri Keuangan, Prastowo Yustinus, mengungkapkan kekhawatirannya melalui media sosial terkait kabar yang menyebut nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah telah menyentuh angka psikologis yang mencemaskan.
Berdasarkan pantauan pasar pada Senin pagi (9/3/2026), kekhawatiran Prastowo terbukti nyata. Rupiah sempat melemah hingga menyentuh angka Rp17.001 per dolar AS. Pelemahan drastis ini berjalan beriringan dengan harga minyak mentah dunia yang kini resmi melampaui ambang batas USD100 per barel.
“Apakah benar pagi ini USD tembus Rp17 ribu dan harga minyak dunia tembus USD 100 per barrel? Jika iya, tampaknya perlu sangat waspada,” ujar Prastowo melalui akun pribadinya.
Prastowo menilai kondisi ini merupakan alarm bagi stabilitas ekonomi domestik. Sebagai negara pengimpor energi (net importer minyak), kenaikan harga minyak mentah dunia adalah ancaman langsung bagi inflasi dan beban fiskal negara.
Senada dengan Prastowo, tokoh politik Anas Urbaningrum turut memberikan komentar tajam mengenai eskalasi ini. Anas tanpa ragu menyebut bahwa krisis ini merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai memicu api peperangan dengan Iran.
“Harga minyak naik. Nilai rupiah turun. Akibat langsung dari perang yang dipicu oleh Trump dan Netanyahu,” tegas Anas. Ia menilai dunia saat ini sedang berada dalam bahaya besar karena ego kepemimpinan yang mengabaikan stabilitas global.
Menurut Anas, penderitaan ini tidak hanya dirasakan oleh warga yang berada di zona konflik, tetapi juga warga dunia lainnya, termasuk rakyat Indonesia. Ia menggarisbawahi pentingnya stabilitas yang hanya bisa dicapai melalui akal sehat para pemimpin dunia.
“Dunia selalu memerlukan pemimpin yang waras. Jika bertemu yang edan, warga dunia direpotkannya. Harus serempak berani bilang dengan kekuatan nyata: Enough is enough!” cetus Anas.
Dampak dari “badai sempurna” (perfect storm) ekonomi ini tidak hanya berhenti pada angka di layar bursa. Anas memperingatkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini berada di bawah tekanan berat.
Kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel secara otomatis akan membengkakkan subsidi energi (BBM dan listrik). Jika tidak dikelola dengan hati-hati, defisit fiskal terancam melebar dan pemerintah mungkin terpaksa mengambil kebijakan pahit yang berdampak pada daya beli rakyat yang sebenarnya belum pulih sepenuhnya.
“Urusannya kemudian akan lari ke harga-harga yang merangkak naik. Daya beli rakyat yang belum pulih mendapatkan tambahan kesukaran. Pemerintah repot, rakyat juga repot,” imbuhnya.
Meski melontarkan kritik keras terhadap situasi global, Anas menyatakan dukungannya kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menavigasi Indonesia keluar dari krisis ini. Ia berharap pemerintah mampu mengambil langkah-langkah diskresi yang tepat untuk memitigasi dampak kenaikan harga energi agar tidak memukul rakyat kecil secara langsung.
Kini, perhatian tertuju pada bagaimana tim ekonomi pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Prastowo dan Anas bersepakat bahwa harapan terbesar saat ini adalah berakhirnya perang agar situasi kembali kondusif.







