Residensi Seniman “Rantau Pulang Kampung” Hadirkan Pameran Seni di Rumah Adat Atakkae

Wamanews.id, 9 Agustus 2026 – Rumah Adat Atakkae di Kabupaten Wajo menjadi lokasi pelaksanaan pameran seni dalam kegiatan Residensi Seniman “Rantau Pulang Kampung”. Kegiatan tersebut mempertemukan sejumlah seniman yang memiliki keterikatan dengan Wajo untuk menghadirkan karya yang lahir dari proses residensi dan riset selama berada di Kabupaten Wajo.
Mengusung tema “Rantau Pulang Kampung”, kegiatan ini menjadi ruang bagi para seniman untuk kembali mengenal daerah asal serta menggali berbagai persoalan sosial dan kebudayaan yang ada di tengah masyarakat. Para seniman tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga melakukan riset di sejumlah kecamatan selama menjalani proses residensi.
Salah seorang seniman, Naurah Motiwiswa Bani, mengatakan dirinya berasal dari Bekasi dan saat ini menetap di Makassar karena menempuh pendidikan. Ia menjadi salah satu dari tujuh seniman yang terlibat dalam kegiatan residensi tersebut.
Menurut Naurah, tema “Pulang Kampung” dipilih karena para seniman yang terlibat memiliki hubungan dengan Wajo, baik melalui keturunan maupun latar belakang keluarga. Kondisi sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan perantauan membuat mereka tertarik untuk kembali mengenal budaya daerah secara lebih mendalam.

“Kita mau belajar juga, apalagi sebagai anak perantau yang orang tuanya memang sudah merantau dan kita sendiri mengalami urbanisasi. Makanya kita mau tahu bagaimana sebenarnya budaya-budaya Wajo,” kata Naurah.
Ia mengatakan, selama proses residensi, para seniman menemukan berbagai hal terkait kebudayaan Wajo yang sebelumnya hanya diketahui secara umum. Proses tersebut kemudian menjadi bahan untuk memperdalam pemahaman sekaligus dituangkan ke dalam karya masing-masing seniman.
“Kita biasa melihat budaya Wajo, tapi kita mau memperdalam lagi. Ternyata ada seperti tenun dan masih banyak lagi hal yang bisa kita pelajari. Jadi itulah kenapa kita melakukan kegiatan ini,” ujarnya.
Naurah berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan di masa mendatang. Menurutnya, ruang seperti ini penting bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerah secara lebih dekat sehingga tidak kehilangan keterikatan dengan budaya yang mereka miliki.
“Harapannya nanti bakal ada kegiatan-kegiatan seperti ini lagi supaya generasi-generasi muda bisa lebih tahu budaya Wajo lebih dalam ataupun budaya-budaya daerah lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang seniman residen, Nona Gisel, mengaku dirinya merupakan orang Sengkang yang kemudian memilih merantau ke Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, ia mengikuti proses residensi selama dua minggu di Maniangpajo serta melakukan riset di berbagai kecamatan untuk mengumpulkan data yang menjadi bagian dari proses penciptaan karyanya.
Salah satu karya yang dihasilkan Nona Gisel dalam residensi tersebut berupa instalasi berjudul “3×3 Setelah Tatapan”. Karya tersebut mengangkat persoalan perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya, khususnya bagaimana nilai siri’ dapat memengaruhi cara perempuan bersikap dan mengekspresikan dirinya.
“Fokusnya adalah bagaimana perempuan sadar bahwa kita tumbuh di budaya tradisi siri’ yang mungkin secara tidak langsung membatasi bagaimana perempuan bersikap dan berekspresi. Akhirnya kita merasa diawasi oleh tatapan-tatapan atau norma itu sendiri,” jelasnya.
Menurut Nona Gisel, keberadaan kegiatan seni seperti residensi tersebut penting untuk membangun ekosistem seni di Kabupaten Wajo. Ia berharap semakin banyak kegiatan serupa yang memberikan ruang bagi seniman untuk berkarya sekaligus mendekatkan masyarakat dengan seni.
“Semoga ke depannya Wajo, ekosistem seninya lebih berkembang dan banyak orang yang lebih sadar bahwa seni itu adalah sehari-hari dan sangat dekat dengan kehidupan,” harapnya.
Selain menghasilkan karya, proses residensi juga menjadi upaya untuk membuka kesadaran masyarakat terhadap berbagai isu yang mungkin selama ini belum banyak diperhatikan. Naurah mengatakan, karya-karya yang dihadirkan diharapkan dapat menjadi media untuk memperkenalkan berbagai persoalan tersebut kepada masyarakat.
“Harapannya kegiatan ini bisa menginspirasi dan menyebarluaskan isu-isu yang sebenarnya orang belum sadari. Kita memberikan ruang dan akses supaya orang bisa melihat, ternyata ada hal seperti ini dan ternyata ini terjadi di sekitar kita,” ungkapnya.
Pameran di Rumah Adat Atakkae tersebut akhirnya menjadi bagian dari rangkaian proses panjang para seniman dalam mengenal kembali Wajo melalui pengalaman, riset, dan karya.
Kegiatan “Rantau Pulang Kampung” tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan karya, tetapi juga menjadi momentum bagi para seniman perantau untuk kembali melihat daerah asalnya dari sudut pandang yang lebih dekat dan kritis.







