Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Rayakan HUT RI ke-80, Film Animasi ‘Merah Putih One For All’ Justru Banjir Kritik Warganet

Wamanews.id, 15 Agustus 2025 – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, sebuah film animasi anak bertema kebangsaan berjudul Merah Putih One For All merilis poster dan trailer resminya. Film yang diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dengan dukungan Yayasan Pusat Perfilman H. 

Usmar Ismail ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan anak-anak. Sayangnya, alih-alih disambut antusias, film ini justru menuai kritik pedas dari warganet, terutama terkait kualitas visualnya yang dianggap jauh dari standar film layar lebar modern.

Merah Putih One For All diklaim sebagai film animasi anak Indonesia pertama dengan tema kebangsaan. Posternya menampilkan delapan tokoh anak kecil dengan latar belakang bendera Merah Putih yang berkibar. 

Di poster tersebut, tertulis pesan yang penuh semangat: “Kami kecil… Tapi cinta kami untuk Merah Putih… Tak pernah kecil dari perbedaan, kami temukan kekuatan.” Film berdurasi 70 menit ini disutradarai oleh Endiarto dan Bintang, dan dijadwalkan tayang di jaringan bioskop Cinema XXI mulai Kamis, 14 Agustus 2025.

Menurut sinopsis resminya, film ini menceritakan tentang sekelompok anak yang tergabung dalam “Tim Merah Putih”. Mereka tinggal di sebuah desa dan sedang bersiap untuk upacara peringatan HUT RI. Misi mereka adalah menjaga Bendera Pusaka yang akan dikibarkan pada 17 Agustus. 

Namun, tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut hilang secara misterius. Delapan anak dengan latar belakang budaya yang beragam Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa kemudian bersatu untuk mencari dan menyelamatkan bendera tersebut. Mereka harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari rintangan alam hingga ego pribadi, demi satu tujuan: mengibarkan bendera Merah Putih di Hari Kemerdekaan.

Meskipun memiliki sinopsis yang inspiratif dan sarat pesan moral, film ini justru menjadi sasaran kritik masif dari warganet setelah trailer dan posternya beredar. Komentar negatif mendominasi perbincangan di media sosial, menyoroti kualitas visual yang dianggap sangat mengecewakan untuk sebuah film layar lebar. Sejumlah netizen membandingkan tampilan visual film ini dengan animasi era awal 2000-an yang jauh lebih sederhana.

Beberapa warganet bahkan menyoroti kejanggalan dalam adegan yang ditampilkan, seperti burung Kakatua yang memiliki suara seperti monyet. Hal yang paling mencolok adalah kemunculan senjata modern M4 yang ditemukan di dalam sebuah gudang desa. “Mohon maaf ini gudang desa apa gudang kartel ada senjata M4 di kotak ijo,” tulis akun Twitter @tamad*** yang mempertanyakan logika dalam cerita film tersebut.

Kritik tajam tidak hanya datang dari penonton biasa, tetapi juga dari kalangan profesional di industri kreatif. Salah satu animator 3D Indonesia dengan akun @madak*** melontarkan kritik yang sangat keras. “Sebagai animator 3D dari Indonesia, film animasi Merah Putih One For All adalah aib yang menjijikan dan siapa pun seharusnya tidak mengonsumsi sampah ini,” tulisnya.

Kondisi ini semakin diperparah dengan fakta bahwa film ini dirilis berdekatan dengan film animasi berkualitas tinggi lainnya, seperti Jumbo yang sukses besar dan anime Demon Slayer -Kimetsu no Yaiba- The Movie: Infinity Castle

Hal ini membuat ekspektasi penonton terhadap film animasi lokal menjadi semakin tinggi, dan kegagalan Merah Putih One For All dalam memenuhi ekspektasi tersebut menjadi sorotan utama. “Kukira setelah Jumbo bakal ada animasi animasi Indonesia yang mantap tapi ternyata oh ternyata ada animasi yang mantap buat di hujat,” tulis akun @akuz***.

Penulis

Related Articles

Back to top button