Polemik MBG Ramadan di Sulawesi: Godaan Batal Puasa Hingga Temuan ‘Surprise’ Obat Cacing

Wamanews.id, 25 Februari 2026 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejatinya merupakan langkah progresif untuk menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas SDM. Namun, ketika program ambisius ini berbenturan dengan dinamika bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, berbagai “drama” di lapangan pun tak terhindarkan.
Sejak distribusi perdana pada Senin (23/2/2026), laporan keberatan dan temuan janggal muncul dari berbagai penjuru Sulawesi, mulai dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng), hingga Sulawesi Barat (Sulbar). Isunya beragam: dari waktu distribusi yang dinilai kurang peka, menu yang dianggap “minimalis”, hingga temuan obat cacing yang terselip di dalam kotak makanan.
Salah satu sorotan paling tajam datang dari Kabupaten Pasangkayu, Sulbar. Penyaluran MBG yang dilakukan pada pagi hari memicu kritik dari legislator setempat. Pasalnya, kehadiran paket makanan siap saji (ready to eat) dengan aroma menggoda justru menjadi “pemicu” bagi anak-anak kecil yang sedang belajar berpuasa untuk menyerah lebih awal.
Anggota DPRD Pasangkayu, Robin Chandra Hidayat, mengungkapkan bahwa anaknya yang berusia 6 tahun dan rekan-rekan sekolahnya batal berpuasa setelah menerima paket tersebut pada Senin pagi.
“Menunya sangat menggoda anak-anak untuk batalkan puasa. Meskipun tidak ada niat sebelumnya, tapi ada pemicunya. Makanan kering ini sangat menarik, ada aroma roti, susu, kacang goreng, hingga telur,” ujar Robin kepada awak media, Selasa (24/2/2026).
Senada dengan Robin, para orang tua di Pasangkayu meminta Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi jam distribusi agar selaras dengan semangat toleransi dan kehormatan bulan Ramadan.
Polemik berlanjut ke Majene dan Palu. Di Majene, sebuah video viral memperlihatkan orang tua siswa mengkritisi paket MBG yang hanya berisi satu buah jeruk, satu bungkus kacang, sebutir telur, dan roti. Menu ini dianggap sangat jauh dari ekspektasi nilai gizi yang dipromosikan.
Di Palu, seorang guru di SDN 6 Kayumalae turut menyuarakan keprihatinannya. Ia merasa miris melihat paket yang disebut-sebut bernilai Rp15.000, namun hanya berisi komponen murah meriah seperti kacang kemasan seharga Rp1.500 dan kurma tiga butir.
Menanggapi hal ini, Wakil Koordinator Regional BGN Sulbar, Hasri, memberikan klarifikasi teknis. Ia menyebut ada klasifikasi anggaran berdasarkan jenjang pendidikan:
- TK hingga Kelas 3 SD: Rp8.000 per porsi.
- Hingga jenjang SMA: Rp10.000 per porsi.
Artinya, anggaran Rp15.000 per hari yang diasumsikan publik tidak sepenuhnya dialokasikan untuk satu kali makan, melainkan merupakan pagu maksimal yang disesuaikan dengan klaster peserta didik.
Kejadian yang paling menghebohkan terjadi di Kota Parepare, Sulsel. Seorang orang tua siswa di Kecamatan Bacukiki Barat mendapati sebutir obat cacing merek Alben terselip di dalam paket MBG yang berisi telur rebus, roti, dan kurma.
Ruslan, orang tua siswa tersebut, mengaku kaget dan was-was. Ia khawatir anak-anak akan mengonsumsi obat tersebut tanpa pengawasan medis atau menyangka obat tersebut adalah bagian dari camilan manis.
“Ini bahaya kalau anak langsung telan saja karena dikira bagian dari menu tambahan. Harusnya ada sosialisasi, jangan digabung begitu saja dengan telur dan roti. Prosedur medisnya bagaimana?” protes Ruslan.
Daftar Ringkasan Polemik MBG Ramadan Sulawesi 2026
| Wilayah | Masalah Utama | Tanggapan Otoritas |
| Pasangkayu | Siswa batal puasa karena distribusi pagi hari. | BGN meminta guru & ortu beri edukasi. |
| Majene & Palu | Menu “minimalis” tak sesuai ekspektasi anggaran. | BGN sebut menu sudah dihitung ahli gizi sesuai AKG. |
| Parepare | Penemuan obat cacing dalam kotak makanan. | Sedang dalam pemantauan & evaluasi SPPG. |
| Bone | Gizi keripik tempe & roti cokelat dipertanyakan. | BGN klaim sudah sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG). |
Menanggapi berbagai rentetan masalah ini, Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido, mengapresiasi keberanian para guru dan orang tua dalam memberikan masukan. Ia berjanji akan melakukan pembinaan dan meninjau langsung dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di sisi lain, BGN menegaskan bahwa pemilihan menu kering selama Ramadan bertujuan agar makanan tetap tahan lama hingga waktu berbuka puasa. Namun, pihak BGN berjanji akan memberikan penekanan kepada tiap SPPG agar tidak lagi menyajikan menu minimalis yang memicu perdebatan publik.
Program MBG memang baru saja dimulai, namun serangkaian peristiwa di Sulawesi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat bahwa implementasi di lapangan membutuhkan pengawasan yang lebih ketat, terutama soal sensitivitas agama dan standar keamanan pangan medis.







